Menjarah Kenangan: 9 Summers 10 Autumns


Everyone has their own childhood, whether it is bad or good, or both...

Semua orang punya masa kanak-kanaknya sendiri. Buruk, baik, atau keduanya. Dan percaya atau tidak, masa kanak-kanak inilah yang akan menjadi cikal bakal seseorang di masa depan. Maka dari itu, banyak sekali pepatah yang mengatakan bahwa pendidikan nomor satu adalah keluarga dan guru pertama dalam hidup adalah ibu. 


Seringkali orang juga bilang kalau sosok ibu adalah sebaik-baik navigator dalam keluarga. Karena tanpa navigator, nahkoda (ayah) bisa apa? Awak kapal (anak-anak) bisa apa? Sekalipun bisa mengendalikan, namun kapal tidak terarah tanpa tujuan. Itu benar. Maka peran ibu menjadi sangat esensial dalam sebuah rumah tangga.

Dari sanalah Iwan menceritakan buku 9 Summers 10 Autumns ini...


Ibuk, begitu Iwan memanggilnya. Menggunakan akhiran "k" sesuai dengan logat orang Jawa Timur seperti saya. Sebagai sosok anak laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara, Iwan memiliki masa kecil yang berat. Kemiskinan menggelung seperti tidak mau hilang. Makan daging sapi goreng yang hanya selembar, harus dibagi lima. Sementara bapak dan ibuknya tidak kebagian jatah sama sekali. 

Iwan menceritakan satu per satu lapisan kehidupannya. Mulai dari sosok ibuk yang begitu sederhana. Ibuk adalah wanita Batu yang kuat hati dan bermental baja. Ibuk mengabdikan diri untuk suaminya 100%, hanya sesekali berjualan barang seadanya untuk membantu perekonomian keluarga. Nggak neko-neko, nggak hobi nyalon, hanya murni berjuang untuk keluarga. 

Ibuk selalu tahu kapan membelikan sepatu untuk anak pertamanya, tas untuk anak keduanya, baju untuk anak ketiganya, alat tulis untuk anak keempatnya, dan mainan untuk anak kelimanya. Ibuk tahu kapan waktu yang tepat untuk makan daging, di antara menu harian yang itu-itu saja. Ibuk yang selalu mendoakan anaknya agar sukses, agar bisa hidup lebih baik di masa depan.

Ibuk menikah dengan bapak karena cinta. Bapak yang seorang sopir angkot, hidup dengan ibuk secara sederhana. Lebih tepatnya kekurangan. Namun bapak dan ibuk tidak pernah mengeluh pada anak-anaknya. Meskipun sering ada pertengkaran karena selisih pendapat di sana sini, tapi bapak dan ibuk tetap bertahan bersama. Semua demi cinta mereka dan cinta pada anak-anak.

Ada suatu titik yang kemudian membuat Iwan terbegal hatinya, saat ia tak sengaja mendengar pertengkaran ibuk dan bapak tentang keuangan keluarga. Ibuk menangis. Bapak keluar rumah. Dari sanalah Iwan bertekad untuk selalu membahagiakan ibunya. Ia tidak mau ibunya menangis barang sekali pun selama ia hidup. Titik balik yang membuat Iwan belajar keras di tengah malam dengan lampu ublik yang nyala-mati-nyala-mati setiap hari. Dari Ibuk, Iwan belajar tentang kasih sayang dan pengabdian. Dari Bapak, Iwan belajar tentang kerja keras dan keteguhan.

Melompat pada bab selanjutnya, melepaskan kenangan tentang orangtuanya. Iwan lanjut mendongeng tentang saudara-saudara perempuannya. 

Mbak Isa, si sulung dalam keluarga. Mbak Isa adalah sosok yang cerdas dan rajin. Namun karena sering menderita sakit, ia menjadi kurus kering. Sakit bronkitis dan asma-nya menjadi-jadi. Meskipun begitu, Mbak Isa selalu masuk ke sekolah yang paling prestis di Kota Batu. Gelar juara kelas selalu diraihnya selama bertahun-tahun. Namun sayang, Mbak Isa tidak bisa lolos ujian masuk universitas saat itu. Dan ia juga tidak berniat mencoba lagi tahun depannya kerena adiknya akan lulus SMA. Mbak Isa mengalah dan memutuskan untuk bekerja menjadi guru les privat.

Mbak Isa menikah dengan suaminya dan memiliki 2 anak yang lucu-lucu. Mereka hidup sederhana dan membuat rumah kecil di dekat rumah ibuk dan bapak. Karena dorongan suami dan keluarganya, Mbak Isa yang kala itu sudah berusia di atas kepala tiga, akhirnya mendaftar sekolah guru SD. Tahun sekian itu belum ada PGSD yang gabung dengan kampus, jurusan tersebut masih berdiri sendiri. Setelah lulus dari PGSD, ada kabar bahwa penerimaan CPNS dibuka. Dengan usia ambang batas yaitu 35 tahun, Mbak Isa mencoba mendaftar. Dan ternyata diterima.

Iwan menceritakan secara gamblang kisah itu sampai ke detail kecilnya. Ibuk menangis haru. Bapak terdiam penuh khidmat. Dan adik-adiknya tertawa bahagia. Hanya saja, Mbak Inan akhirnya ikut menangis. Sesaat keadaan rumah menjadi biru. Dari Mbak Isa, Iwan belajar tentang rasa ikhlas dan pengorbanan.

Iwan lalu membawa saya pada pemandangan yang kedua. Mbak Inan. Kakak keduanya. Mbak Inan sangat menyukai seni dan sastra. Dari keempat saudaranya, Mbak Inan diceritakan sebagai sosok yang besar, tegap, dan memiliki jiwa optimis yang tinggi. Mbak Inan selalu menyemangati adik-adiknya, menghormati kakak dan kedua orangtuanya, juga menjadi orang yang diandalkan saat ada kejadian tak menyenangkan di rumah, misalnya saat mobil angkot bapak mogok. Mbak Inan selalu membantu mendorongnya. Ia kuat. Fisiknya dan mentalnya amat kuat sehingga bisa menguatkan orang-orang di sekitarnya.

Dari semua saudaranya, Iwan menuliskan bahwa Mbak Inan inilah anggota keluarga pertama yang berhasil masuk ke universitas negeri di Malang, Brawijaya. Ia aktif dan gesit sehingga sering ikut lomba bahkan sampai ke luar negeri. Dari Mbak Inan, Iwan belajar tentang tekad dan keberanian.

Melaju ke bab selanjutnya, Iwan bercerita tentang adiknya yang pertama. Namanya Rini. Rini selalu mendapatkan predikat sebagai 'teman setia' Iwan karena selain usia mereka yang tidak terpaut jauh, Rini juga memiliki banyak kesamaan dengannya. Rini sangat tertarik dengan dunia kesehatan sehingga ia ingin melanjutkan sekolah keperawatan. Namun sayangnya, Rini tidak lolos. Rini akhirnya berkuliah di sekolah perhotelan dan bekerja sebagai karyawan hotel di Batu. 

Karena tak kuat dengan shift malam di hotel, Rini memutuskan untuk keluar dan membantu Mbak Marni, bulek (sebutan di Jawa untuk tante atau adik ibu) yang menjadi bidan desa. Setelah tabungan terkumpul, Iwan sekeluarga memintanya untuk kuliah lagi di sekolah guru PGSD bersama Mbak Isa. Dan saat seleksi penerimaan CPNS (satu periode setelah Mbak Isa), ia juga lolos. Momen mengharukan di rumah Iwan terulang kembali. Dari Rini, Iwan belajar tentang ketegaran dan ketekunan.

Mira, si bungsu dalam keluarga, diceritakan Iwan sebagai sosok yang manis, yang hatinya lunak, yang mudah tersentuh dan menangis. Apapun keadaannya, Mira selalu menunjukkannya dengan air mata. Meskipun memiliki status sebagai anak terakhir, namun Mira tidak pernah manja ataupun menuntut ini dan itu. Mira hanya menerima kalau diberi. 

Mira termasuk anak yang cerdas. Lepas dari SMA, Mira mengikuti jejak Iwan ke IPB namun di jurusan yang berbeda. Jurusan Kedokteran Hewan. Mira cukup berprestasi di kampus, terbukti dari cepatnya ia mendapat pekerjaan usai lulus kuliah. Mira pernah terjangkit penyakit antraks, yang membuatnya akhirnya berani keluar dari pekerjaannya dan mencoba hal baru. Dari Mira, Iwan belajar tentang kejujuran dan kelembutan hati.

Iwan menceritakan kisahnya dengan sudut pandang kanak-kanaknya...


Dari awal membaca buku ini, kita akan langsung disuguhi adegan perampokan yang dialami Iwan setelah beberapa saat tinggal di New York. Mungkin ada yang bingung, kok tiba-tiba ada anak kecil yang mengikutinya dan selalu mengajaknya berbicara. Mengapa Iwan dengan mudahnya bercerita tentang masa kecilnya kepada anak ini?

Dulu, adik kos saya pernah bertanya tentang buku ini. Siapa sih sosok anak kecil yang selalu mengikuti Iwan dalam bukunya yang berjudul 9 Summers 10 Autumns ini?

Jika diamati dengan seksama, sebenarnya anak kecil tersebut adalah sosok masa kecil Iwan yang diciptakannya sendiri. Dengan segenap kesuksesan yang diraihnya sebagai petinggi perusahaan di New York, dalam hati Iwan selalu kesepian. Iwan selalu merindukan saat-saat biru di rumah mungilnya di Batu. Hatinya terikat sangat kuat dengan masa lalu. Sekalipun kita tahu dari tulisannya, bahwa masa kecilnya penuh kesusahan.

Iwan seperti mempertanyakan eksistensi kebahagian tanpa keluarga. Dengan segala deadline pekerjaan, proyek-proyek kantoran, dan lembar-lembar kertas yang harus dibaca maupun ditandatangani, Iwan ingin pulang. Ingin menikmati tidur menatap langit-langit dalam remang lampu ublik yang legendaris itu.

Dari sinilah, Iwan mulai menuliskan kisah penuh liku-likunya dalam sebuah buku. Dalam sebuah wawancara di acara reality show, Iwan mengatakan bahwa saat bukunya genap, ia merasa amat sangat lega. Seperti telah melepaskan kenangan-kenangan berjuta rasa dari hidupnya. Iwan pun memiliki pikiran gila. RESIGN. Ia ingin pulang. Dan di saat ia memutuskan hal tersebut, ia diberi kesempatan berlibur dan mengunjungi rumahnya di Indonesia. 

Namun takdir tak ada yang tahu, hati manusia tak ada yang mampu menahu, Iwan justru semakin ingin keluar dari pekerjaannya. Dan di detik ia berniat untuk melepaskan semuanya, Iwan berkata bahwa sosok masa kanak-kanaknya hilang. Membiarkannya dalam perenungan. Iwan akhirnya benar-benar resign.

Buku ini mengajarkan tentang perjuangan...


Iwan yang bertekad untuk mengentaskan kemiskinan dari atap keluarganya, berhasil menjadi orang sukses yang memiliki pekerjaan gemilang. Dari kecil, Iwan selalu membenci kemiskinan. Kemiskinan membuat bapak dan ibunya bertengkar hebat. Kemiskinan membuatnya tidak memiliki kamar pribadi. Kemiskinan membuatnya berebut makanan dengan saudara-saudaranya. Dan dari tekad tersebut, Iwan berjuang keras untuk menghapusnya. 

Karya Iwan ini: Unik. Klasik. Melankolis. Tiga kata yang cukup untuk mendeskripsikan keseluruhan buku ini. Dengan tutur bahasa yang ringan namun mendalam, Iwan berhasil mengajak pembacanya untuk ikut membayangkan setting cerita seperti keadaan  sesungguhnya. Caranya menuliskan tentang rumah mungilnya, membuat saya membayangkan sebuah rumah sederhana di kaki gunung Panderman. Yang dingin saat malam, sejuk saat pagi. Yang teramat sempit karena dihuni tujuh kepala. Yang hangat karena perbincangan antar kelima saudara. Yang riuh saat makan bersama karena harus berbagi lauk. 

Iwan sempat menyisipkan kisah cintanya dengan apik namun menurut saya kurang emosional. Saya lebih menyukai ceritanya dengan teman pertukaran pelajar bernama Nico. Saya juga menyukai bagaimana persabahatannya dengan teman satu kosnya saat masih kuliah di IPB. Membuat saya berpikir, "persahabatan cowok ternyata seputih itu."

Sejatinya masa kanak-kanak adalah fase terhebat dalam hidup manusia...


Tanpa adanya masa kanak-kanak yang berat seperti yang dialami Iwan, mungkin buku 9 Summers 10 Autumns tidak pernah ada. Yakin deh. Kalau sosok masa kecilnya tidak muncul pasca perampokan yang dialami Iwan di New York, mungkin tulisan yang amat sangat inspiratif dan menggigit hati ini juga tidak ada. Semua ini karena masa kanak-kanak.

Masa kecil selalu menjadi masa terbaik. Maka dari itu, ada yang dinamakan "parenting", "parental advice" ataupun "parenthood activity". Pendidikan untuk menjadi orangtua yang baik. Apa yang didapatkan anak saat masa kecilnya, akan dibawa sampai dewasa, akan menjadi kenangan yang mendarah daging sampai ia tua. Anak yang di masa kecilnya mengalami kejadian traumatis, saat ia dewasa akan memiliki phobia terhadap sesuatu. 

Maka menjadi orangtua yang baik adalah sesuatu yang penting untuk diusahakan atau dilakukan. Kelak. Kalau kita sudah punya anak. Kalau belum, ya jangan ngaku-ngaku punya anak. Pamali. Apalagi ngakuin anak orang lain. Kurang ajar namanya.

Dan akhirnya saya menyadari...

Bahwa tulisan saya jadi berbeda dengan gaya sebelumnya. Ini efek apa? Ya, mungkin efek baper. Saya emang baperan kalau baca buku. Apalagi yang genre-nya seperti ini, perjuangan hidup. Apalagi yang temanya seperti ini, keluarga. Apalagi nulisnya sambil dengerin lagunya Ebiet G Ade. Pedih. Yang ada air mata makin banjir. Ah, sial.

Ini sebenarnya draft yang udah disusun beribu-ribu purnama yang lalu. Saya baca  bukunya udah dari tahun berapa ya, lama banget pokoknya. Ini baru dilanjut review-nya dan dipulas menjadi lebih presisi. Makanya terbawa emosi. Nggak apa-apa lah ya, daripada terbawa truk ke ladang gandum dan dihujani cokelat menjadi coco crunch.

Ini ada filmnya, tahun 2013. Tapi saya belum nonton juga sampai sekarang. Kata beberapa orang sih bagus. Namun kata sebagian lagi lebih bagus novelnya. Ya, namanya juga film adaptasi. Ada kurang lebihnya itu pasti. Kalau nggak salah posternya yang ini.


Saya juga udah baca novel sekuel Iwan yang judulnya IBUK. Ini lebih pedih lagi karena menceritakan full masa kanak-kanaknya menjadi dewasa. Modelnya nggak lompat-lompat seperti buku 9 Summers 10 Autumns ini. Endingnya juga lebih nyesek lagi. Ah, Iwan. Kau berhasil mengobok-obok hatiku. 

Kalau kalian, apakah ada yang nyesek juga setelah baca buku ini?





Pictures are taken from:
https://indonesiaproud.wordpress.com/2011/05/20/iwan-setyawan-penulis-9-summers-10-autumns-yang-mantan-director-internal-client-management-di-nielsen-consumer-research-new-york/
http://www.grazia.co.id/quiz/quiz/-graziamovietime-9-summers-10-autumns
http://www.insgrum.com/user/mitrapembelajar/1485163010/1409290343170240368_1485163010
http://4.bp.blogspot.com/-BMnPzSmHTMg/UX_2t-P71cI/AAAAAAAAAtw/ogTA0jqCMxA/s1600/wpid-film-9-summers-10-autumns-movie-wwwinfosinemacom-poster.jpg
https://www.langitilahi.com/perjuangan-dari-sekecil-kecil-hal/
https://www.ngopy.com/manfaat-belajar-puasa-bagi-anak-anak/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

8 Comments:

  1. Waah belum sempet baca buku iniii. Udah ditunggu-tunggu dari kapan tahu sih emang banyak banget yang bilang bagus. Jadi pengin lagii.

    ReplyDelete
  2. dulu sempet lihat trailernya, dan emang keren sih filmnya. Pastinya, bukunya akan jauh lebih keren dari filmnya sih. Selalu menarik memang kalau mengikuti kisah perjuangan untuk melawan masalah ekonomi, sampai bisa jadi hebat di negara orang lain bahkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena satu alasan sudah cukup untuk mengubah tekad manusia :)

      Delete
  3. INI SIAPA YANG NAROH SAMBAL DI MATAAAAAAA? DUH MATAKU BERAIRAAAAAAN HUHUHUHUHUHUHU.

    Aku jadi terhanyut baca reviewnya, May. Sama nih, kalau udah bersinggungan dengan karya yang berbau drama keluarga, bawaannya langsung ngerasa sendu. Huhuhuhuhu. Meskipun beda jauh, Iwan yang ini ternyata nggak kalah bikin ngobok-ngoboknya daripada Iwan Fals di lagu Aku Bukan Pilihan-nya :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. IYA NIH SAMBAL MATAHNYA NYOLOK MATA BANGET, CHA.

      Buku keduanya dijamin lebih nyesek lagi :')

      Delete
  4. Ini pernah baca pas zaman gue SMP apa SMA gitu. Temen ada yang bawa ke sekolah. Terus gue pinjem deh. Tapi baru baca sebagian udah disuruh balikin. Ya, keadaannya soal miskin hampir sama gitu. Merasa senasib dengan keadaan keluarga yang ribut karena keadaan ekonomi.

    Sayangnya, gue anak pertama yang nggak tahu harus belajar dari kakak mana. Beda banget sama Iwan yang saudaranya banyak. Namun, sebisa mungkin gue tetep jadi kakak yang baik, yang nggak bikin adik niru kejelekan gue. Tapi sampai sekarang gue nggak tahu udah betul apa belum sebagai anak pertama. Habis, belum ada prestasi atau ada hal bagus yang bisa dibanggakan ke adik. Apalagi keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iwan punya banyak role model, Yogs. Dari sodaranya yang jumlahnya 4, 2 kakak dan 2 adik. Makanya tekadnya kuat banget karena dikuatkan oleh banyak orang juga.

      Eh, tapi kuantitas sebenernya nggak terlalu ngaruh sih. Ada kok orang yang sodaranya banyak tapi justru nambah masalah. Ah, semua balik lagi ke orangnya masing-masing. Klise ya :')

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.