Kata Siapa Yudhis Posesif?


Orang-orang cenderung menelan mentah-mentah apa yang mereka lihat secara kasat mata, mendengar lamat-lamat cerita yang bukan sebenarnya, dan memuntahkan asumsi kotor tanpa didasari fakta. Mereka tidak tahu saja, bahwa di setiap cerita, selalu menyempil hikmah yang tak terduga. Laksana upil yang terbit di petang hari. Ibarat gigi yang bertembaga di pagi hari. Tidak selalu ada udang di balik rempeyek. Bisa jadi kacang yang sengaja mendominasi.

Saya menulis ini untuk sekadar mengklarifikasi. Bukan untuk menggalang petisi. Bahwa apa yang kalian tahu tentang Yudhis adalah salah. Salah besar. Salah kaprah. Dan terlalu salah untuk disalahkan. Maka dengan ini, ijinkan saya memberi side story.

Kata siapa Yudhis posesif?

Yudhis membeli saya saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dengan harga gopekan. Bukan harga secara harfiah sih. Yudhis dulunya adalah anak laki-laki yang memiliki kehidupan sempurna. Papanya seorang pengusaha kaya yang hartanya melimpah seantero Indonesia. Dan mamanya merupakan istri seorang pengusaha kaya. Boleh dibilang, kehidupan Yudhis tidak kurang suatu apa. Jangankan meminta mobil tamiya mini, Meikarta bahkan mungkin bisa dibeli.

Meskipun Yudhis bisa membeli seluruh snack dan mainan di mall manapun, Yudhis lebih suka main judi lotere di abang-abang penjual mainan bergerobak yang sering datang ke sekolah. Hampir setiap hari, Yudhis menghabiskan uang sakunya untuk membeli lotere ini. Beragam hadiah pun didapati, mulai dari Mie Sakura, Permen Kaki Hot Hot Pop, mobil-mobilan, kuartet, cokelat payung, mainan bongkar pasang, dan saya. 

Hobi Yudhis di masa kecil
Saya adalah hadiah terakhir yang didapatkan Yudhis sebelum akhirnya ia harus berhenti karena mamanya berubah gila. Papanya selingkuh dengan seorang laki-laki dan terpaksa ditangkap polisi karena kasus penggandaan uang receh. Yudhis pun jadi sasaran amuk mamanya setiap hari. Uang saku dipangkas, rambut dipangkas, kulit luar titit juga dipangkas. Yah, namanya juga laki-laki. Kan harus sunat.

Yudhis pun tumbuh besar menjadi anak yang terkekang. Jiwanya tidak pernah bebas lagi. Psikisnya terganggu dan pernah sekali punya panu karena keasikan mandi hujan di luaran. Di tengah keterpurukan Yudhis, saya adalah satu-satunya yang menemani Yudhis kecil dengan berusaha menepis rasa kesepiannya. Saya selalu memancarkan cahaya dan semangat agar Yudhis tetap berjalan menjalani hari. Saya rela memberikan apapun yang saya miliki untuk Yudhis. Yang cinta pada Yudhis hanyalah saya. Bukan mamanya. 

Saat suntuk, Yudhis selalu memainkan saya dengan liar dan penuh gairah. Ia suka sekali mengayun-ayunkan dan mengocok-ocok saya. Terutama di dalam gelap. Saya senang. Karena dengan begitu, Yudhis bisa sedikit mengesampingkan rasa sedihnya.

Kata siapa Yudhis posesif?

Saat remaja dan menapaki jenjang SMP, Yudhis sudah tidak pernah menemui abang-abang penjual lotere gopekan di depan sekolahnya. Meskipun ia rindu, ia tetap tidak bisa kembali ke masa SD. Yakali, Yudhis punya mesin waktu. Memangnya dia Doraemon? Jangan ngaco.

Yudhis yang menjadi pemurung karena kehilangan sosok papa dari hidupnya, memutuskan untuk mengunjungi sebuah toko mainan di pinggiran jalan Sudirman. Saat masuk, ia takjub oleh berbagai jenis mainan dan hiburan yang dikhususkan untuk anak-anak dan remaja. Ada perosotan pinguin, boneka Barbie dan Ken, XBox One, Nintendo Wi, dan PS4. Yudhis pun menggrepe saku seragam sekolahnya. Tapi ia ingat bahwa mamanya telah membatasi uang sakunya sehingga hanya cukup untuk jajan cilok sepulang sekolah. 

Tiba-tiba, matanya tertuju pada seonggok mainan kotak berwarna-warni. Matanya berbinar seperti orang jatuh cinta. Seperti saat dulu ia berhasil mendapatkan saya. Tiba-tiba seluruh energi saya habis. Saya mendapatkan rival untuk pertama kalinya. Saya sungguh sedih. Ternyata diduakan sesakit itu rasanya. Sesaat dunia terasa runtuh.

Pacar kedua Yudhis
Karena tidak punya uang, Yudhis pun mengatur strategi untuk membawa mainan itu keluar dari toko. Saya sudah berusaha mencegahnya. Sungguh. Tapi yang namanya laki-laki, kalau sudah jatuh cinta pastilah nekad. Yudhis meraih mainan tersebut dan menyelipkannya ke bagian belakang celana. Saat pegawai toko menanyakan perihal "gembolan" tersebut, Yudhis berbohong padanya dengan berkata bahwa ia sedang cepirit. 

Entah karena Yudhis yang cerdik atau pegawai tersebut yang kelewat bloon, kami berdua bisa lolos dari toko itu dengan baik-baik saja. Kami tidak berakhir tenggelam di sungai cokelat, menggelembung seperti buah blueberry, masuk ke tempat pembuangan, atau terjebak di televisi. Kami selamat.

Gambar hanya ilustrasi

Kata siapa Yudhis posesif?

Pada abad ke 21, Yudhis dipaksa mamanya untuk pindah ke sebuah sekolah di Jakarta. Kala itu Yudhis sudah tingkat akhir di SMA. Mau tidak mau, Yudhis harus pindah dan memulai semuanya dari nol. Meskipun begitu, Yudhis tetap membawa serta saya. Saat itu, saya berpikir bahwa kami tidak akan berpisah hingga maut memenggal jalan kami berdua, meskipun ia memiliki pacar kedua. Karena kembali lagi, yang cinta pada Yudhis hanyalah saya. Bukan mamanya. Bukan mainan bedebah warna-warni itu.

Yudhis datang ke sekolah dengan memakai sepatu putih. Bukan untuk melanggar, tapi karena  sepatu heels 20 cm-nya yang berwarna hitam sedang dipakai mamanya untuk arisan berondong. Alhasil, Yudhis pun dihukum. Sepatunya disita guru dan Yudhis terpaksa "nyeker" kemana-mana. 

Namun saya tidak menyangka, bahwa disitulah akhirnya rival kedua saya muncul. Namanya Lala, seorang atlit loncat indah. Nama panjangnya, saya tidak tahu. Mungkin Laaaaaalaaaaaaa. Mungkin Laron. Mungkin Lala Teletubbies. Atau mungkin juga Coca Cola. Nyatanya nyegerin. 

Lala, pacar ketiga Yudhis di SMA
Tanpa lama-lama, Yudhis dan Lala jatuh cinta juga. Mereka kemana-mana lengket seperti permen karet dan bagian bawah meja. Yudhis bahkan belajar menggombal saat bersama perempuan sial ini. Padahal kala bersama saya dan pacar keduanya, Yudhis tidak pernah mengobral kata-kata manis. Kami hanya disentuh, dimainkan, dan dibiarkan tergeletak begitu saja saat ia sudah puas.

Yudhis dan Lala semakin menggila. Mereka bahkan bicara besar untuk melawan dunia, melawan batas orangtua masing-masing, dan menggabungkan passion keduanya. Cih. Padahal Lala belum tahu saja. Kalau nanti Yudhis sudah menemukan mainan baru, ia pasti akan ditinggal merana sebagai koleksi yang dimainkan satu dua kali kala bosan menggoda. 

Kata siapa Yudhis posesif?

Yudhis yang memang begitu kalap mata karena jatuh cinta pada Lala, berusaha melakukan apa saja agar pujaan hati ketiganya itu bahagia. Termasuk saat ayah Lala lebih memihak Jihan dan menganggap remaja montok itu seperti anaknya. Bukan membanggakan Lala. Yudhis bahkan sempat memanfaatkan saya sebagai alat untuk rencana kotornya. Saya harus memanipulasi konsentrasi Jihan agar celaka saat melakukan loncat indah. Hal itu dilakukan Yudhis, semata karena ia ingin Lala kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala. Laki-laki biadab. 

Namun saat Jihan mengadukan perbuatan Yudhis pada ayah Lala, Yudhis justru menyembunyikan saya seperti aib. Saya tidak diakui. Saya justru dijejalkan pada kaos kakinya yang sudah satu dasawarsa tidak dicuci. Benar-benar kurang ajar. Sudah minta tolong, bukannya berterima kasih, saya justru harus menahan bau kambing kaki Yudhis yang banyak kutu airnya.

Namun apa daya, saya tak kuasa. Akhirnya saya kehabisan energi dan sekarat di dalam kaos kaki terkutuknya. Naas, setelah saya dieksploitasi dan perlahan mendekati ajal, Yudhis justru membuang saya di rerumputan, di luar kolam renang. Lantas ia pergi indehoy bersama Lala. Dan saya harus mengakhiri peran saya di dalam cerita yang baru berjalan setengahnya.

Kata siapa Yudhis posesif?

Saya memang membosankan. Hanya bisa mengeluarkan warna hijau. Tidak warna-warni dan berbunyi "ctek-ctek" seperti mainan kotak sialan itu. Saya juga tidak bisa memeluk dan menciumnya seperti Lala. Saya tidak bisa memaafkan seperti Lala memaafkannya.

Saya hanyalah pacar pertama seharga gopekan yang tidak lagi berguna, yang Yudhis dapatkan dari hasil menang lotere bertahun lalu. Tapi bukan berarti Yudhis bisa seenak pantat membuang saya ke pinggir kolam renang begitu batere saya habis. Dasar laki-laki kardus!

Yudhis bukannya posesif. Yudhis itu raja tega.

Yudhis bukannya setia. Yudhis adalah buaya.

Yudhis bukan ingin selamanya. Yudhis hanya ingin sementara.

Bagi Lala, Yudhis yang pertama. Bagi Yudhis, Lala yang ketiga.

Saya yang pertama bagi Yudhis. Hanya saya yang cinta pada Yudhis. Bukan mamanya, bukan mainan kotak sialan itu, bukan Lala, bukan pula ayahnya Lala. Bukan pula Rino ataupun Ega. Saya yang cinta pada Yudhis. Hanya saya. Bukan yang lain.

Tapi sayangnya, saya sudah mati dan dibuang di rerumputan bersemak-semak. Digerogoti masa. Sampai tahun menua. Sampai jadi debu. Tapi saya akan mendoakan semoga kalian tidak menemui Yudhis-Yudhis yang lain di dunia. Aamiin.

Begitulah side story dari saya. Terima kasih sudah membaca. Best regards, pacar pertama Yudhis. 

Hanya saya yang cinta Yudhis. Camkan itu.





Pictures are taken from:
https://www.youtube.com/watch?v=5XyMy7Z5SO4
http://www.fotoseleb.com/index.php?view=viewarticle&id=17010009/Adipati-Dolken-dan-Putri-Marino-Dalam-Film-POSESIF-Persembahan-dari-Palari-Films
https://www.ghoststop.com/Laser-Grid-Scope-p/laser-greengrid.htm
https://www.nesta.org.uk/blog/nriching-teacher-support-maths-problem-solving-classroom
https://instarix.com/putrimarino/media/1480484665416430686
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/mainan/mainan-lainnya/2qe7nz-jual-lotre-mainan-anak
https://www.thesun.co.uk/living/2169287/remember-the-girl-who-played-violet-beauregarde-in-charlie-and-the-chocolate-factory-heres-what-she-looks-like-now/
https://www.coca-colafemsa.com/coca-cola-femsa-announces-the-filing-of-its-2015-sec-annual-report.html
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

16 Comments:

  1. Yeu senter ijo serebuan!!
    Knpsii kirain mau review film abang ganteng, ternyataaaa.
    Tapi keren, sempet nebak-nebak siapaka si 'aku' kirain obeng mini tamiya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini malah lebih dari review loh, Dibah. Kamu jangan terlalu fokus pada mamas adipati hingga melupakan karakter pendamping yg sangat penting. Coba renungkanlah seandainya kamu yg jadi laser. Pedih.

      Delete
  2. Perlu bengong beberapa saat pas ngebaca kisah perselingkuhan Papanya Yudhis. Pantasan aja Mamanya Yudhis jadi segila itu. Suaminya main serong dengan terong :(

    Ah ya. Jihan. Kesel bet sama Jihan ini sebenarnya. Dibanding-bandingkan sama anak orang lain itu nggak enak. Apalagi kalau anak orang lain dianggap kayak anak orang lain. Kasihan Laaaaaaalaaaaaaaa. Tapi lebih kasihan Laser sih. Kupikir dia bakal menemani Yudhis sampai akhir film. Taunya cuma satu adegan aja.

    Menarik ini, May. Review film dengan pake sudut pandang benda yang bisa diayun-ayun dan dikocok-kocok. Yudhis pasti jadi nostalgila baca tulisan dari mantannya ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh. Kayak anak sendiri maksudnya. Hahahaha maaf, May. :"D

      Delete
    2. Dimaafkan kok, Cha. Apa sih yang enggak buat kamu. Ulululu.

      Ya kan, udah keluarnya bentar, dimanfaatin, diselipin di sepatu, lalu dibuang. Yudhis benar-benar tega.

      Delete
  3. Hahahahhahahahhaha
    Ketipu ih
    XD

    Kirain review filmnyaaa

    Penasaran banget baca soalnya trailernya yg tayang dimana-mana termasuk di KRL dan halte itu kaykanya wow banget

    Apalagi ngeliat dia marah2in lala dan sampe bonyok bonyok berdua di mobil itu tuh

    EHHH TERNYATA

    Hahahahhahahaha

    P.S.
    Itu yg niup balon permen karet yang main film THe bridge to Terabithia an?
    :'(

    Sedih banget filmnya :'(
    Tapi bagussssssss

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya udah nonton, Ul. dan ini review terselubung. rangorang terlalu fokus sama Yudhis dan Lala sehingga melupakan poin pentingnya. laser.

      Delete
    2. eh, itu gambar dari Charlie and Chocolate Factory loh :v

      Delete
  4. Anjir. Baru baca ini. Kita sama-sama memikirkan teletabis. 😂

    ReplyDelete
  5. hadoohh itu senter ijo buat nyenter mata orang kalo lagi di kelas XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaha, kalau saya buat ngintip rok temen cewe dulu waktu SD :')

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.