Hubungan guru dan murid bisa terbentuk menjadi bermacam-macam wujud. Ada yang berupa hubungan murni secara intelektual, ada yang bisa menjadi teman karib untuk saling bercerita, ada pula yang sampai pada taraf jatuh cinta. Unik memang. Namun bagaimanapun juga, guru dan murid sama-sama seorang manusia. Mereka juga memiliki rasa.

Film Makoto Shinkai tak pernah saya lewatkan barang satu pun semenjak saya menonton film pertamanya yaitu film The World Be Enclosed dan Other Worlds. Saya langsung jatuh cinta. Hampir setiap saat Makoto Shinkai menelurkan karya baru, saya akan langsung mencari atau membeli filmnya sampai dapat dan harus dengan kualitas kelas atas. Rugi kalau nonton filmnya tanpa kualitas bagus. Grafisnya, cuy. Bikin indera penglihatan megap-megap karena animasinya bagus banget.

Mungkin bagi sebagian orang, mereka tahu Makoto Shinkai hanya dari film Your Name (Kimi no Nama) yang sempat booming di tahun 2016 lalu. Orang yang tidak suka anime, menjadi suka anime secara tiba-tiba. Meskipun yang disukai hanya Kimi no Nawa saja. 

Sebenarnya, film Makoto Shinkai sudah ada banyak sekali. Sebut saja seperti film 5 Centimeters Per Second, The Place Promised in Our Early Days, The Garden of Words dan Kanojo to Kanojo no Neko (She and Her Cat). Semua filmnya, as always, selalu membuat saya eyegasm dan eargasm. Sampai mata dan telinga saya mengeluarkan binar-binar kebahagian setiap melihat animasinya. Cantik. Menarik. Elegan. Dan Mengagumkan. Yah, seperti saya gitu lah. 

Film yang akan saya bahas kali ini adalah...

Opening film The Garden of Words
Film berjudul "The Garden of Words" (Kotonoha no Niwa) merupakan film Makoto Shinkai yang terbit di tahun 2013. Tiga tahun sebelum Kimi no Nawa meledak di pasaran. Film ini, kalau bisa dibilang, cukup pendek untuk ukuran anime movie. Hanya berdurasi 46 menit 3 detik. Saya tidak tahu apakah sang animatornya lupa pergi ke mak erot untuk memperpanjang filmnya, tapi film ini memang relatif pendek daripada beberapa film Makoto Shinkai sebelum dan sesudahnya (meskipun ada yang lebih pendek lagi, sih).

Untuk ukuran storyline, The Garden of Words sudah cukup memuaskan meskipun kurang dari satu jam. Yah, setidaknya, bukan 10 menit seperti beberapa pria kebanyakan.

Bekerja sama dengan studio animasi CoMix Wave Films dan didistribusikan oleh Toho, film ini mengusung genre drama romantis. Meskipun saya sendiri tidak tahu bagian romantisnya dimana karena tidak ada adegan ena-ena yang terjadi antara karakter guru dan murid dalam film tersebut. 

The Garden of Words bercerita tentang...

Hubungan antara seorang guru dan seorang murid yang cukup pelik. Kalian mungkin juga sering mendengar cerita tentang guru dan murid yang saling jatuh cinta. Kalau dulu urusan asmara hanya terjadi antara murid perempuan dan guru laki-laki, namun ada juga sebagian kecil kisah cinta antara murid laki-laki dan guru perempuan.  Isu inilah yang kemudian diangkat menjadi ide cerita drama The Garden of Words. 

Kisah berawal pada bulan Juni saat Jepang sedang musim hujan. Hampir setiap pagi, titik-titik air jatuh membasahi daerah Tokyo. Akizuki Takao, seorang murid kelas 10 sekolah menengah atas yang tergila-gila dengan pekerjaan mendesain sepatu, memutuskan untuk bolos sekolah dan justru berjalan menuju sebuah taman di Shinjuku Gyoen. Disana, ia bertemu dengan seorang perempuan berpakaian kantor yang sedang duduk menikmati sekaleng bir.


Keduanya saling notis dan melihat satu sama lain. Sesaat dunia berhenti berputar. Tanpa diminta, perempuan tersebut menggeser duduknya agar Takao bisa ikut duduk di bawah gazebo taman tersebut. Takao lantas duduk dan membuka buku desain sepatu miliknya dan mulai menggambar sketsa lanjutan. Sempat beberapa kali Takao melirik ke arah kaki perempuan tersebut untuk mendapatkan inspirasi menggambar kaki. Kalau boleh dibilang, Takao ini sepertinya termasuk pria yang memiliki fetish terhadap kaki.

Perempuan tersebut cukup aneh bagi Takao. Ia bolos bekerja, minum-minum bir di taman, dan sarapan hanya dengan seonggok cokelat. Benar-benar tidak sehat.

Setelah beberapa saat duduk dalam keheningan, Takao tanpa sengaja menjatuhkan penghapusnya yang kemudian ditangkap oleh perempuan tersebut. Namun tidak. Tangan mereka tidak saling menyentuh kok. Memangnya ini drama Korea?


Saat mengulurkan penghapus tersebut, perempuan itu tersenyum melihat badge sekolah di seragam Takao. Tak lama, ia justru pamit untuk pergi dan melemparkan beberapa tanka (istilah untuk puisi berbahasa Jepang) dengan kata-kata sebagai berikut.

"なるかみの, すこしとよみて,
さしくもり,
あめもふらぬか,
きみをとどめむ"


"A faint clap of thunder
Clouded skies
Perhaps rain will come
If so, will you stay here with me?"

Takao yang tidak paham tiba-tiba dilempari puisi, tidak lantas membalas puisi tersebut dengan rima yang sama seperti adat pernikahan khas Betawi. Ia hanya diam dan merenungi apa maksudnya. Lalu, kembali menyibukkan diri dengan sketsa sepatunya.

Setelah itu, mereka saling bertemu di tempat yang sama saat hujan turun di pagi hari. Seiring waktu, keduanya menunjukkan ketertarikan satu sama lain. Takao tertarik membuatkan sepatu untuk perempuan bernama Yukino Yukari tersebut dan Yukari tertarik pada skill Takao dalam mendesain sepatu. Namun, mereka tidak saling memperkenalkan diri secara langsung, hanya membicarakan ini dan itu secara random. Fantastis. Cinta beda usia dan cinta tanpa nama dalam satu frame.

Makoto Shinkai benar-benar brilian dalam mengaduk-aduk pola perasaan penontonnya. Ibarat peribahasa Indonesia, sekali tepuk, dua nyamuk mati. Lebih canggih daripada obat nyamuk merk one push vape.

Lama-lama, Takao juga sering membawa bekal untuk dibagi pada Yukari agar ia tidak selalu minum bir dan makan cokelat. Mereka jadi seperti sedang piknik karena membawa makanan yang variatif setiap harinya. Yukari juga sempat membelikan buku tentang desain sepatu untuk Takao. Hal itu yang membuat Takao semakin semangat untuk mempersembahkan sepatu handmade wanita pertamanya untuk Yukari.


Saat liburan musim panas datang, Takao sibuk bekerja sambilan di sebuah restoran, sedangkan Yukari tetap datang ke taman dan membaca buku disana. Ada beberapa adegan yang menunjukkan bahwa keduanya saling merindukan namun tidak kunjung bertemu. Takao telanjur berpikir kalau Yukari hanya datang pada saat hujan saja.

Saat sekolah kembali dimulai, hujan belum turun di Tokyo. Takao pun memutuskan untuk masuk sekolah dan tidak membolos. Saat ia sedang berjalan dan bercakap-cakap dengan kedua temannya, ada seorang perempuan yang keluar dari ruang guru. Tatapan mereka saling silang menemukan.

Takao baru tahu, bahwa Yukari adalah guru bahasa dan literatur di sekolahnya yang sempat vakum dan memutuskan untuk berhenti bekerja karena dibully oleh para siswa kelas 3. Gosip yang beredar, ada seorang siswa laki-laki yang jatuh cinta pada Yukari padahal siswa tersebut masih memiliki pacar. Yukari lantas dirumorkan yang tidak-tidak oleh siswa kelas 3, sehingga ia stres dan frustasi. Hal itulah yang membuatnya selalu mengenakan seragam mengajar, namun tidak pergi ke sekolah dan hanya minum bir di taman sambil membaca buku-buku literatur.

Takao pun marah dan mencari siswa kelas 3 yang menyebabkan Yukari stres dan mengundurkan diri dari sekolah. Ia sempat menampar siswa perempuan yang pacarnya jatuh cinta pada Yukari, namun Takao justru dihajar oleh teman-teman dari siswa tersebut hingga babak belur.


Keesokannya, Takao pergi ke taman dan menemui Yukari untuk kemudian membalas tanka yang dulu pernah dilontarkan Yukari padanya. 

"なるかみの,すこしとよみて,
ふらずとも,
われはとまらむ,
いもしとどめば"


"A faint clap of thunder
Even if rain comes or not
I will stay here
Together with you."

Entah karena Takao sakti atau mewarisi kemampuan pemanggil hujan, setelah ia selesai melempar tanka balasannya pada Yukari, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Mereka lalu menuju gazebo kesayangan untuk berteduh meskipun keduanya sudah basah kuyup. 

Tak dinyana, Yukari lalu mengajak Takao untuk pergi ke apartemennya guna mengeringkan sesuatu. Entah mengeringkan baju yang basah atau hal basah yang lain. Yah, namanya juga lelaki. Meskipun masih SMA, dia pasti punya keinginan urgent untuk dipenuhi. Apalagi saat hujan. Apalagi kondisi basah kedinginan.

Mungkin, mereka akan memasak Indomie kuah dengan cabe dan telur setengah matang untuk menghangatkan badan. Lalu, makan berdua di pinggir jendela sambil ngeteh dan ngopi cantik.

Apakah yang selanjutnya terjadi di apartemen Yukari? Apakah Yukari dan Takao akan mengungkapkan perasaan masing-masing? Apakah kisah cinta Yukari dan Takao sanggup melewati berbagai rintangan yang menghadang? Apakah Takao berhasil membuat sepasang sepatu wanita untuk Yukari? Apakah Yukari berhasil move on dan melupakan kejadian pedih itu? Apakah Yukari mampu pindah ke sekolah yang baru untuk menjadi guru lagi?

Hmmm. Ada baiknya kalian juga menonton film ini sampai selesai.

Film ini menyajikan animasi grafis yang memanjakan mata...

Dari semua film Makoto Shinkai, entah mengapa saya paling suka film yang ini. Terlepas dari saya yang memang menyukai warna hijau, The Garden of Words benar-benar sempurna. Semua detail gambaran taman dan rintik hujan dibubuhkan dengan seksama dalam tempo yang sebenar-benarnya. Sepanjang menonton film ini, saya tak kunjung berhenti berkata, "wah", berkali-kali.




Makoto Shinkai berhasil menggambarkan detail hujan yang membuat saya hanyut dalam dingin dan seperti merasakan percikannya. Makoto Shinkai berhasil menggambarkan detail taman yang membuat saya seakan duduk disana dan menonton langsung adegan perbincangan antara Yukari dan Takao. Makoto Shinkai juga berhasil membuat saya terpana dengan siluet senja yang dibuatnya saat menunjukkan gedung-gedung Tokyo tegak berdiri.

Hal-hal paling ngena dalam film The Garden of Words...

Pertama, kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. Meskipun kita bisa melakukan denial sekuat tenaga, kalau namanya cinta, pasti tetap terasa. Klise sih. Tapi memang cinta bisa datang darimana saja dan kapan saja. Ajaibnya, cinta juga bisa datang lewat cara apa saja meskipun segala keadaannya berbeda. Guru dan murid. Apalagi kalau gurunya yang perempuan. Jelas dianggap sedikit tabu karena perbedaan usia yang cukup signifikan.

Di film ini, selain kisah cinta antara Takao dan Yukari yang beda usia, disisipi pula dengan adanya permasalahan keluarga Takao. Kealpaan seorang ayah yang telah tiada, membuat ibu Takao mengencani pria baru yang lebih muda. 

Kalau dipikir-pikir lagi, film Makoto Shinkai selalu mengisahkan dua orang laki-laki dan perempuan yang berbeda usia. Di film 5 Centimeters per Second, perempuannya lebih tua beberapa bulan. Di film Kimi no Nawa, perempuannya lebih tua dua tahun. Dan ini yang paling parah, perempuannya berusia 27, sementara laki-lakinya berusia 15 tahun. Gokil.

Kedua, gosip dan bullying bisa mematikan reputasi, kepercayaan diri, harga diri, mental, dan bahkan karir seseorang, sekalipun orang tersebut guru. Banyak kasus pem-bully-an antar siswa dan ada beberapa kasus pem-bully-an pada guru. Meskipun sudah lebih dewasa, guru tetaplah manusia. Jadi, stop bullying dimanapun dan pada siapapun yang ada di sekitar kita. After effect-nya bisa menghancurkan kehidupan seseorang. Yukari bahkan kehilangan kemampuan indera perasanya karena stres berkepanjangan, sehingga ia hanya mampu merasakan bir dan cokelat.

Ketiga, kalau kalian ingin nembak cewek dengan momen berkesan, pakailah puisi klasik dengan diksi yang menarik. Karena sekarang sudah jarang, puisi justru bisa membuat hati calon pasangan klepek-klepek dan tak berdaya. Setelah ditembak pakai puisi, ajak calon pasangan basah-basahan atau hujan-hujanan di taman sambil mengitari pohon. Usai basah kuyup, calon pasangan harus digiring ke apartemen atau kosan untuk memulai eksekusi. Cerdas, kan?

Ada beberapa quote yang paling mendalam dan sedikit banyak menyentuh perasaan saya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1) You are strong enough to feel hurt because of my unchanging heart. - Takao

2) I'd rather be heartless than heart broken. - Yukari

3) I usually give people more chances than they deserve, but I'm done. - Yukari

4) Yukari-san, I think I've fallen in love with you. - Takao

5) To me, she represents nothing less than very secrets of the world. - Takao

6) I missed her. But, clinging into that feeling only makes me staying as a child. - Takao

7) I realize now, I was learning how to walk as well. I haven't mastered the steps, I fall too. But, I am on my path... my path... and one day that path will take me to her. - Takao

Soundtrack dalam film ini...

Lagi-lagi di-handle oleh tangan yang tepat. Jika film-film sebelumnya di-compose oleh Tenmon, film The Garden of Words ini digubah oleh orang yang berbeda yaitu Daisuke Kashiwa. Kalau kalian mendengarkan instrumen lagu pembukanya saat judul film ini muncul, saya bisa jamin kalian akan merinding. Alunan grand piano-nya benar-benar membuat suasana menonton film menjadi lebih menantang dan menggairahkan. 

Sementara saat kalian mendengarkan lagu ending-nya yang berjudul "Rain", kalian akan terbawa pada bayangan kisah cinta yang tumbuh di bawah rintik air hujan. Heart blowing sekali. Kalau kata seorang teman blogger, lagu pengiring film yang begini disebut mantap solihin!


Relate tidaknya saya dengan film ini...

Sebenarnya, kalau boleh jujur, saya memiliki pengalaman yang bisa dibilang menyenangkan dan tidak menyenangkan saat menjadi guru. Dulu, saat saya masih menjadi guru magang di sebuah sekolah, saya pernah menerima pernyataan "suka" dari seorang murid yang notabene masih kelas 10 (setara dengan kelas 1 SMA). Untuk merahasiakan identitasnya, mari kita panggil saja namanya Marwanto. Karena nama Mawar biasa digunakan untuk seorang perempuan. 

Marwanto ini memiliki tubuh yang tinggi. Lebih tinggi daripada saya, meskipun saya termasuk yang tertinggi di kalangan guru perempuan teman magang dulu. Mungkin itu juga salah satu alasan yang membuatnya berani mendekati guru. 

Awalnya saya menganggapnya biasa saja, meskipun ia sering melakukan modus operandi dengan meminta jam belajar tambahan usai pulang sekolah. Sampai pada akhirnya, ada gosip merebak yang mengatakan bahwa saya dekat dengan seorang teman magang laki-laki, sebut saja namanya Maman. Marwanto lantas mendatangi ruang magang dan mencari Maman. Ia menanyakan apakah gosip tersebut benar, Maman yang sedikit kurang ajar justru memancing perkara dan mengatakan "Iya". Suasana sempat panas. Sampai akhirnya saya menyalakan AC ruangan.

Marwanto lalu berkata setengah mendesis, "Tolong jaga Bu May."


Saya merasa seperti orang gila yang akan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa dan Maman adalah dokter yang akan mengurusi keperluan saya. Singkat kata, adegannya udah berasa seperti di FTV. Maman yang memang ngehe, lagi-lagi mengiyakan. Sialan. Rasanya saya ingin me-nyeleding-tackle kepala Maman saat itu juga dan mengutuknya agar menjadi jomblo tujuh turunan. 

Akhirnya, setelah gosip itu pudar seiring waktu, magang pun memasuki minggu terakhir. Saat saya memberi ujian kompetensi terakhir di kelas Marwanto, ia tidak melepas jaketnya sama sekali. Saya pikir ia sakit, lantas saya biarkan apa adanya. Namun saat Marwanto maju untuk mengumpulkan kertas jawaban ujiannya, ia menunjukkan bagian kerah yang dibordir dengan nama saya.

Mampus. Cobaan apa lagi ini...

Seketika teman sekelasnya pun melihat dan mulai was-wes-wus bertanya penuh heran. Mereka menatap saya dengan penuh tanda tanya. Saya akhirnya segera mengakhiri kelas, meminta maaf kalau ada salah selama mengajar tiga bulan, dan keluar dengan tatapan hampa. Saya was-was. Masa iya, mau pamitan aja harus ada drama begini? 

Rupanya masalah belum berakhir disitu saja. Saat hari terakhir pelepasan mahasiswa magang dari sekolah tersebut, saya dan teman-teman guru duduk di kantin dan ngobrol bersama. Tiba-tiba, Marwanto datang mencari saya dengan maksud untuk memberikan jaket yang dibordir nama saya, medali, dan piagam kemenangannya di kompetisi sebuah cabang olahraga. Semua teman guru menatap heran. Beberapa bahkan sudah tahu cerita tentang saya dan Marwanto ini. Suasana benar-benar awkward untuk sesaat.

Saya menolak pemberiannya. Namun Marwanto berkeras agar saya membawanya. Saya juga diberitahu bahwa ia memakai display picture WhatsApp dengan membawa tulisan nama saya. Akhirnya, tanpa berdebat lebih panjang, saya lekas menerima pemberiannya dan menyuruhnya  untuk pulang. Bersamaan dengan itu, saya hanya bisa berdoa semoga Marwanto menemukan orang yang tepat di masa depan. Namanya juga cinta masa remaja, masih polos, dan belum tahu arahnya kemana. 


Lantas, apakah kalian juga pernah memiliki hubungan gelap terang dengan guru atau murid kalian?





Pictures are taken from:
http://animeworldbd.com/garden-words-1080p/
https://giphy.com/gifs/filmeditor-mean-girls-movie-3otPowYz6GbeQdvda8

18 Comments

  1. selalu suka sama karya makoto shinkai apalagi film pertamanya yang saya tonton 5cm persecond, asli ini bikin gagal move on. hahaha

    the garden of words suka juga apalagi yang si cowok ditolak sama bu guru pas ditangga apartement gurunya ampe kepleset huhuhu.

    wkwk sa ae tu marwanto XD hahaha harusnya diterima aja bu marwanto wkwk takutnya dia bunuh diri. tau sendiri sekarangkan kids jaman now

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi kalau mantannya nikah, tambah baper aja ya, Lam. hahahaha. gurunya suka sih sebenernya, hanya takut dibully lagi makanya berusaha menolak. eh, akhirnya juga tetep berpelukan juga X))

      alhamdulillah, marwanto masih sehat kok sampai detik ini. hahaha.

      Delete
  2. Pernah nonton ini beberapa tahun lalu. Adegan akhir pas si cowok nangis itu emang mantep sih. Cukup menggetarkan jiwa...

    Btw baru ngeh ternyata banyak juga ya kutipan kerennya. Haha. Hidup Neng Mayang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, bang agia. saya juga suka bagian cowoknya pamit keluar dan akhirnya nangis di tangga. namanya remaja ya, selalu menganggap cinta pertamanya membuncah-buncah. meskipun hal itu tabu.

      hidup bang agia!

      Delete
  3. Wah, saya pikir Yukari akan pindah ke Meikrta setelah dibully, ternyata tidak ya.

    Baca ulasan ini, saya tidak perlu nonton filmnya lagi, semuanya sudah dijelaskan dengan detail. Saya suka reviewer seperti Anda.

    Eh, nomor 4 itu termasuk quote juga? Bingung saya. Btw, salam untuk Maman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari sekian banyak kota, kenapa anda memilih Meikarta? mengapa tidak Surakarta?

      sebenarnya saya hanya mengulas sebagian kecil yang menggugah jiwa. bagian klimaksnya bisa dinikmati sendiri.

      menurut saya, nomor 4 itu quote-tiaw... saya lapar...

      Delete
  4. Lengkap sekaleeeeeeeeeeeh. Memang pecinta Makoto Shinkai. Aku baru nonton filmnya beliau yang 5 Centimeters Per Seconds. Hahaha cupu sekali. Tapi sempat baca reviewnya dari blog Febri, dan dengerin ost-nya yang Rain itu pas habis dengerin One More Time, One More Chance-nya 5 Centimeters Per Seconds. Pas dengerin Rain, bawaannya pengen mandi hujan kecipak-kecipukin airnya ke seluruh penjuru jalan. Uuuuuuh.

    Pengalamanku soal nonton anime minim bet, May. Baru nonton beberapa. Tapi kalau boleh bilang mana yang favorit, aku suka film anime judulnya A Silent Voice. Bukan hasil kangkangan Makoto Shinkai sih, tapi menurut orang yang masih meraba-raba rasa buat suka film anime, itu yang menurutku relatable sama aku.

    Gils bet yak Yukari sampai kehilangan indera perasanya. Tema bullying itu memang bisa di-mix sama kisah apa aja dengan cucok, termasuk sama kisah tentang guru ini. Huhuhuhu. Untungnya itu cuma kisah pendukung, karena fokusnya lebih ke romansa murid dan guru beda usia kan ya, May.

    Ngakak baca soal hubungan terang gelap kamu sama Marwanto. Film ini memang relatable buat kamu sih. Pantesan aja suka, selain suka karena grafis di filmnya yang membahana. Sekilas baca namanya Marwanto kayak Mawarto tau, May. Jadi semacam nama samaran kayak Mawar tapi versi cowok. Marwanto benar-benar terobsesi sama kamu, May. Sampe ngebordir jaket gitu. Dia agresif juga yak. DUH HAHAHAHHAHAK AKU JADI KETAWA NGETIK KATA AGRESIF, MAY. HAHAHAHAHA.

    Btw, salam buat Maman juga deh kayak Immank. Dia tengil-tengil gemesin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. daripada pecinta berondong muda. ululululu.

      2. tema hujan dan cinta memang tiada duanya, bosque.

      3. a silent voice bikin baper. keren banget itu mah, cha. tapi kalau kamu suka yg model-model gitu, aku bisa ngasih rekom loh. silakan hubungi call center kami.

      4. aku juga sampai kehilangan indera asmara. kamu nggak kasihan?

      5. bgst. BERANTEM YUK, CHA! :)

      Delete
  5. Whowww

    Nggak pernah denger apalagi nonton

    Gonna watch this soon
    Kayaknya indah banget

    Selama ini kalau anime movie cuma biasa nonton Conan dan Pokemon :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. animasi grafis makoto shinkai tidak akan mengkhianatimu, Ul. ciao download gih :D

      Delete
  6. HAHAHAHAHAH DUH MARWANTO MANIS BANGET SIH :')))

    aku gatau karya2nya makoto shinkai kecuali kimi no nawa hhhh. itu pun nonton karna penasaran gitu kok banyak yang ngecover soundtracknya di youtube :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan manis itu namanya. menyebalkan :')

      nonton yang lain, fa. dijamin penyegaran mata.

      Delete
  7. Udah nonton nonton iniii tapi lupa kapan ya. Tapi emang pertama kali nonton langsung OMG sama grafiknya. Better than 5cm hehe. Rain juga bagus banget lagunya bikin jatuh cinta.

    ReplyDelete
  8. Kotonoha sekilas bacanya Konoha. Sudah menempel terlalu dalam sepertinya Naruto ini.

    Ini lu lagi demen nulis dengan bumbu porno, ya? Ya, ampun. Masa-masa itu udah gue coba tinggalkan, sekarang ada yang memulainya lagi. Jangan sampai kambuh. :(

    Gue juga pernah naksir guru. Sewaktu gue SMP kelas 3. Guru BK yang usianya masih cukup muda. Dia manis sekali buat gue. Secara, dia baru lulus S1 gitu, kan. Ya sekitar 22-23 kali. Gue baru 14 tahun apa waktu itu. Terpaut 8-9 tahun. Wqwqwq.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi kangen Naruto :(

      ...

      Yogs, aku merasa kotor setelah membaca komentarmu.

      Ternyata ada juga yg mirip muridku. Tapi kamu nggak sampai agresif ngejar-ngejar kan?

      Delete
    2. Nggaklah. Gue mana pernah ngejar-ngejar cewek gitu. Natural aja kalau deketin, atau awalnya nggak niat deketin. Temenan biasa. Tiba-tiba ceweknya juga mendekat. Ternyata saling suka~ Xixixi.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.