4 Fenomena Ketergantungan Digital Pada Manusia

Katanya sih family time
Bukan hal baru kalau media sosial kini dimanfaatkan melalui banyak aspek. Jualan barang, jualin diri, nawarin jasa, paid promote, endorsement, cari jodoh, nyebar berita hoax, dan lain-lain yang masih banyak sekali daftarnya. Dulu saya sudah pernah membahas hal krusial ini di postingan Popularitas Tanpa Batas


Jaman sekarang, siapa sih yang nggak bisa main hape?

Hampir semua orang bisa. Mulai dari balita hingga orangtua. Kadang orangtua mengeluh kenapa perkembangan anak jaman sekarang tidak seperti jaman kanak-kanak mereka dulu. Mereka tidak tahu tentang permainan congklak, dokter-dokteran, pasaran, dan permainan-permainan jaman lampau yang mentok di generasi 90-an. Permainan ajib yang bikin kita berantem dengan teman lainnya.

Fenomena ini banyak banget tertangkap mata di tempat umum dan di atas moda transportasi. Anak kecil yang rewel di kereta, akan dipegangi ponsel android oleh orangtuanya untuk main game, nonton Baby Shark, Upin Ipin, dan beberapa tontonan di Youtube lainnya. Ah, sebenarnya yang memulai siapa? Bukannya orangtua? Tapi kalau ditanya, mereka selalu mengeluh bahwa anaknya tidak memahami  permainan jaman baheula. 

Hal ini membuat anak-anak ketergantungan dengan ponsel. Bosen dikit, merengek minta ponsel. Malas dikit, merengek minta main games. Mager dikit, mengeluh minta nonton Youtube. Maka generasi yang dicekoki teknologi berlebihan sebelum waktunya (usianya), akan menjelma menjadi pribadi haus digital saat ia tumbuh menjadi dewasa.

Berikut adalah fenomena ketergantungan digital pada manusia yang sering kita amati dalam kehidupan sehari-hari.

1. KUMPUL-KUMPUL HANYA UNTUK UPDATE STATUS

Mingkemnya biasa aja, Pak
Seringkali kita merencanakan sebuah pertemuan kongkow-kongkow cantik dengan teman jauh-jauh hari. Apalagi dengan teman jaman sekolah TK, SD, SMP, SMA yang udah jarang ketemu lagi di keseharian. Rencananya sih ngumpul, order makanan, berbincang berbagi pengalaman selama tidak bertemu ngapain aja. Tapi semua itu hanya wacana.

Setelah semua datang, kegiatan pertama yang akan dilakukan adalah WEFIE. Selfie berjamaah. Pose ducky duck, pose monyong, pose goblok, pose tanpa ekspresi, pose missionary, pokoknya semua pose harus keluar untuk menjaga eksistensi. Kelar foto-foto, hal yang selanjutnya dilakukan adalah barter di grup supaya semua fotonya tersebar merata untuk kemudian di upload di instagram. Nunggu like, nunggu komen, habis waktunya buat mantengin sosial media masing-masing. Belum lagi sekarang ada fitur "insta story", "live video instagram" atau "status whatsapp".

Mulustrasi live striming IG
Ada baiknya kalau ngumpul, ponsel ditumpuk diletakkan di pojok meja. Biar ngumpulnya afdol dan tangan nggak sibuk grepe-grepe sosial media. Kalau nggak ya ponsel tetap diletakkan di tas masing-masing aja. Udah susah-susah ngatur jadwal ketemuan kok malah sibuk sendiri. Niat ngumpul apa pamer? Kalau ngumpul nggak usah pamer, kalau pamer nggak usah ngumpul. Karena yang kita incar saat bersama teman atau keluarga adalah quality time-nya.

2. BERBURU JOB DAN JADI BUZZER PASANG IKLAN

Buka jasa wisata apa jasa cukur nih?
Cari kerja dengan adanya sosial media emang lebih gampang. Info bisa di scroll naik turun atas bawah sesuai dengan passion dan bidang keahlian yang kita miliki. Banyak banget situs penyedia jasa pencarian kerja untuk fresh graduate maupun old graduate. Tinggal isi formulir dan biodata, upload CV dan resume, kasih checklist di bidang keahlian, kelar urusan. GRATIS. Yang bayar cuma kuota internetnya aja. Kita nggak perlu pake kacamata kuda untuk mantengin tulisan lowker super mini di koran pagi karena iklan lowker di sosial media lebih atraktif bentuknya, bisa di zoom lagi. Kurang canggih apa coba.

Seiring dengan adanya kemudahan mencari kerja di dunia maya, banyak sekali pekerjaan asing yang muncul ke permukaan. Bahkan jenis pekerjaan ini mungkin kalau didengarkan orangtua kita rasanya absurd. Aneh. Bin ajaib. Misalnya saja pekerjaan "Social Media Influencer". Kalau kalian bercerita pada orangtua, mungkin mereka bingung. Influencer. Flu. Encer. Pekerjaan di sosial media yang mampu menyembuhkan penyakit flu dengan gejala ingus mbleber yang encer. Bisa-bisa kita digadang-gadang menjadi The Next Ponari yang dulu lejen dengan batu bertuahnya.

Adanya sosial media juga memunculkan pekerjaan paid promote dan endorsement. Ini berlaku terutama bagi  artis instagram yang followersnya udah ribuan. Orang tersebut akan dihubungi oleh pihak online shop dan diminta untuk memajang foto dagangan mereka. Kalau bisa sampai digunakan atau dikenakan. Macem Awkarin, selebgram hits yang selalu diendorse penjual beha dan pembesar payudara.

Misteriii...
Meskipun begitu, ada juga orang kadang nggak tahu diri dan justru minta endorse-an atau paid promote ke online shop meskipun jumlah followersnya masih di bawah standar. Jatuhnya malah seperti mengemis pekerjaan. 

Typo-nya dijaga, Mbak
Buzzer iklan juga merupakan salah satu pekerjaan yang muncul sebagai efek ketergantungan digital. Jempolnya berpacu dengan waktu di semua jenis sosial media, mulai dari kolom komentar, hashtag trending, status panas, dan lain sebagainya untuk memasang iklan suatu produk atau jasa. Kadang juga ada yang ngeselin karena masang iklan nggak tahu tempatnya. Jelas-jelas hashtag bela sungkawa, dianya malah jualan obat pembangkit ereksi. Kan ngehe sekali. Hal ini pernah juga saya bahas di postingan Kelakuan Orang Jualan Online.

Hal ini membuat orang-orang, terutama ciwi-ciwi yang merasa cantik, berlomba untuk foto OOTD terbaeq mereka agar menarik minat para followers. Kadang juga ada yang memajang foto kontroversial agar bisa terkenal di jagad sosial media. Seksi dikit, open paid promote. Cantik dikit, buka jasa endorsement. Tenar dikit, buka jasa sebar hoax dan cyber bullying. Tanpa disadari, manusia jaman digital menjadi lebih narsis dan matre.

Duit for lyf, Mz
Sebenarnya ini juga merupakan imbas adanya pergeseran lifestyle pada manusia. Kalau dulu orang lebih suka menghabiskan uang untuk investasi, kini orang lebih suka menghabiskan uang untuk eksistensi. Duit ceban dipake nangkring di Starbek. Alamat makan nasi kecap sebulan. Tapi hati senang. Yang penting udah punya foto untuk diupload ke sosial media sebagai bukti otentik yang tak terbantahkan.

3. KONSUMERISME MERAJALELA

Cek IG kita sis, nggak digembok kok
Ah, belanja. Siapa sih manusia yang nggak suka belanja? Kalau ditanya, semua pasti suka belanja. Yang ngaku-ngaku nggak suka belanja, mungkin hanya beda preferensinya. Saya sendiri nggak suka belanja baju atau kebutuhan rumah tangga. Palingan kalau butuh ya beli cop-cop-cop, bayar ke kasir kelar. Tapi saya sangat tergila-gila jika diajak belanja buku. Maka dari itu, saya berani mengatakan bahwa setiap manusia suka belanja. Hanya berbeda jenisnya saja.

Adanya sosial media membuat kita bisa berbelanja dengan lebih mudah. Nggak harus bermacet ria di jalan untuk sampai di supermarket, karena kita bisa duduk santai sambil ngemil popcorn dan mencet-mencet tombol ponsel untuk memasukkan barang ke keranjang. Nggak perlu keliling-keliling etalase di toko, karena kita bisa pilih barang up to date dari daftar belanjaan favorit. Nggak perlu antri di kasir, karena kita bisa check out dengan metode transfer bank. Mudah dan praktis.

Kegiatan belanja online juga didukung penuh dengan adanya jasa kurir yang disediakan oleh beberapa perusahaan. Ada yang menyediakan kurir pengiriman macam Pos, JNE, J&T, dan Wahana. Ada pula yang one day service melalui aplikasi ojek online. Efisien dan fleksibel.

Dari sini, manusia menjadi lebih beringas saat berbelanja. Karena adanya sistem online dan berlakunya pasar bebas sejak beberapa tahun lalu, maka barang-barang dari luar negeri juga membanjiri distribusi jual beli di Indonesia. Orang bisa lebih mudah membeli produk lokal maupun impor. Gampang kan. 

Sifat boros dan budaya konsumerisme pun meningkat pesat, angka penjualan online juga meningkat. Hal ini bahkan sudah menjadi bahan penelitian beberapa mahasiswa dalam tugas akhirnya seperti misalnya artikel jurnal mengenai pengaruh layanan online shop terhadap daya beli masyarakat, terutama pada anak sekolah yang telah mengenal gadget.

Saking maraknya jual beli online, sampai-sampai ada fenomena "ngemis diskonan" yang sering muncul di akun-akun base yang ada di Twitter, misalnya di akun @womanfeeds

Adanya voucher pecel Bu Marni, Dek
Orang cenderung menyukai diskonan. Dengan adanya peningkatan hasrat membeli barang tanpa diiringi oleh kenaikan anggaran keuangan, maka orang akan berlomba mencari potongan harga hingga pada titik yang paling rendah. Prinsip ekonomi sangat mempengaruhi fenomena ketergantungan digital nomor 3 ini.

Anjay, berat banget bahasa aing.

Tapi ya begitulah, budaya boros-memboros semakin menguasai dunia. Coba deh tengok ke kanan dan kiri, keluarga aja dulu. Cek di ponselnya, ada berapa banyak aplikasi online shopping yang mereka miliki. Dan cek juga wishlist-nya. Jika ada satu dua atau bahkan banyak, maka fenomena ketergantungan digital sudah menjangkiti orang-orang terdekat kalian. Waspadalah. Waspadalah.

4. MUNCULNYA BUDAYA GABUT DAN MAGERISASI 

Mager level doggy, Cyin
Gabut dan mager. Dua kosakata yang cukup familiar di telinga pada kalangan kids jaman now. Mungkin sebagian dari kita pernah atau bahkan sering mengalaminya. Mau malem mingguan, tapi telanjur tiduran di kasur dengan memegang ponsel, stalking IG Kim Kadalsian, scroll scroll sampai basah. Setelah itu memutuskan untuk tidak jadi pergi karena "mager". Alasan. Padahal aslinya nggak punya pacar atau teman yang bisa diajak jalan.

Gabut adalah suatu kondisi dimana seseorang dalam posisi tidak produktif dan cenderung menghabiskan banyak waktu yang terbuang percuma. Sedangkan mager adalah keadaan dimana gravitasi tempat duduk atau tempat gegoleran kita sedang ada pada titik kulminasi sehingga kita tidak bisa bergerak kemana-mana.

Gabut dan mager saling bertalian dengan erat. Karena gabut, orang jadi mager. Kadang bisa dibalik juga. Karena mager, orang jadi gabut. Kalau menurut teori di kimia sih, reaksinya reversible. Saling silang dan berkebalikan macem siklus bulanan perempuan. Kalau dalam penelitian, hubungannya kausalitas. Sebab akibat. Ada gabut, maka ada mager. Dan sebaliknya.

Kenapa gabut dan mager ini termasuk fenomena ketergantungan digital?

Balik lagi pada munculnya teknologi super canggih tadi. Misalnya, ada orang lapar. Kalau jaman dulu, orang yang lapar pasti akan memasak atau pergi keluar untuk membeli makanan. Dengan kaki sendiri. Dengan tangan sendiri (hmm, agak nggak enak untuk disebutkan). Dan dengan kendaraan sendiri (jika diperlukan karena jaraknya jauh).

Namun karena adanya aplikasi online, orang bisa duduk santai sambil bermain ponsel dan malas-malasan, sementara makanan justru datang menghampiri. Layanan GO-FOOD dari aplikasi Gojek adalah salah satu contohnya. Bahkan saya pernah membaca sebuah iklan GO-FOOD di sosial media yang menuliskan tagline seperti ini.

"LAPER TAPI MAGER? GO-FOOD-IN AJA!" 

Racun memang. Gara-gara tagline ini, banyak sekali orang yang mengandalkan jasa antar makanan untuk tetap mempertahankan posisi magernya. 

Silakan orderan kasih sayangnya, Mbak
Bukan hanya makanan, layanan belanja yang disediakan oleh aplikasi ojek online juga membuat orang semakin malas untuk keluar rumah. Mereka tinggal menuliskan daftar belanjaan di kolom order dan sopir ojek online akan berbelanja untuk mereka.

Hal ini benar-benar kentara ada di sekitar saya saat musim ospek mahasiswa baru kemarin. Hampir semua anak kos yang merupakan maba di kampus, hanya duduk atau tiduran ongkang-ongkang di kamar dan di depan ruang tengah dengan camilan dan ponsel di tangan. Mereka memesan semua atribut untuk ospek semacam alat dan bahan yang digunakan untuk membuat ID card dan lain sebagainya lewat layanan ojek online. Gokil kan. 

Sebagai salah satu fenomena ketergantungan digital, poin 4 ini bahaya laten banget, cuy. Bayangkan jika semua orang gabut-an dan mager-an, semua orang nggak produktif, maunya malas-masalan di rumah. Terutama para remaja atau anak sekolah. Lambat laun manusia akan semakin manja. Selalu mengandalkan orang lain tanpa berusaha sendiri terlebih dulu. 

No mager no life
Jadi, apakah teknologi digital itu selalu berdampak buruk? Jelas tidak.

Tapi kalau sudah berubah menjadi sebuah "ketergantungan", maka teknologi digital bisa membawa pengaruh negatif bagi sebagian manusia. Kita tahu kan, bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? Maka, bermain sosial media berlebihan itu tidak baik. Baiknya bermain pasang-pasangan saja. Saya jadi bulan, kamu jadi bintangnya.

Mencintai secara berlebihan juga tidak baik. Apalagi kalau yang dicintai niatnya cuma numpang singgah saja alias bertamu. Kakinya penuh lumpur pula. Udah datang nggak permisi, bikin kotor, nggak bantuin ngepel, malah pergi begitu saja. Padahal kita sudah ketergantungan oleh keberadaannya. Pedih.




References are taken from:
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/actadiurna/article/view/12770
https://communicateur.wordpress.com/2012/10/30/membentuk-budaya-konsumtif-melalui-online-shop/

Pictures are taken from:
https://www.reasonwhy.es/actualidad/digital/es-el-momento-para-la-transformacion-digital_2014-09-03
https://www.youtube.com/watch?v=bJhCNUj0Hik
http://www.ichahairunnisa.com/2017/09/di-balikpapan-kegagalan-ada-kepuasan.html
https://www.yukepo.com/unik/sempat-bikin-heboh-inilah-pose-awkarin-yang-berakhir-dalam-meme-lucu/
http://www.pictame.com/tag/ngemisendorse
https://www.instagram.com/p/BZsBp2jAtlm/?taken-by=drama.olshop
http://www.tribuneindia.com/news/nation/online-shopping-in-rajasthan-gets-costlier/253049.html
https://www.brilio.net/ngakak/14-meme-lagi-mager-ini-hibur-kamu-yang-malam-mingguan-di-rumah-aja-170311u.html
https://www.eannovate.com/blog/544_go-food-semakin-merajalela-bagaimana-nasib-food-panda.html
http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/04/hati-hati-malas-ternyata-bisa-menular
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

22 Comments:

  1. Jualin diri
    Pose missionary
    Pembangkit ereksi

    Haha makin luar biasa aja nih Mayang kosakatanya. INI PASTI GARA-GARA HAIRUNNISA NIH! TANGGUNG JAWAB KAMU ICHA! KAMU APAIN MAYANG SAMPE JADI BEGINI!

    Poin-poinnya cantik sekali, ceesku. Aku setuju pokoknya sama isi postingan ini... Apalagi bagi kaum analog kayak aku... agak sulit menghadapi kemajuan teknologi ini :(

    btw makin rajin aja nih apdet. Ditinggal dikit udah banyak postingan baru. Mantap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenarnya sisi liar itu ada, hanya baru bangkit karena adanya sentilan dari icha. *lho

      sama atuh, bang. kalau boleh dipilah dan dipilih, saya juga kaum analog. pegang hape aja jarang-jarang kecuali kalau dimisscall baru ngeh. hahahaha. kalau anak sekarang bangun tidur pegang hp, saya masih pegang tatakan magic com buat nanak nasi :v *true dat

      ini sebenarnya postingan di draft yang dikembangkan kok, bang. kalau nggak segera dilanjut takut menjadi bisul berkepanjangan.

      Delete
    2. Iya tuh, Agia. Aku sentil Mayang sedikit demi sedikit HAHAHAHAK.

      Nah itu tuh. Mayang produktif yaaaa. Drafnya dikembangin gitu kayak payudara yang dibalurin minyak bulus. Tulisannya padat dan kencang. Sekarang aku malah kehilangan birahi nulis karena sok-sok sibuk :(((

      Delete
  2. Gue jual diri malah nggak laku-laku nih, May. Belum ada kantor yang mau beli gue buat jadi pegawai. :'(

    Kalau soal ketergantungan digital, gue mungkin nggak tergantung-tergantung amat. Nggak buka blog beberapa hari ini aja, gue ternyata masih hidup. Halah. Padahal emang males.

    Yang nomor satu, gue jelas udah nggak pernah pamer pas kumpul. Path udah di-unin gitu. Nggak perlu lagi perbarui lokasi lagi di mana. Lebih asyik juga. Kumpul ya karena melepas rindu, bukan buat pamer. :)

    Jadi konsumtif mah jelas dari dulu. Nggak perlu ada pengaruh digital kalau gue. Emang udah budak kapitalis. Punya duit dikit, pasti langsung jajan. Nggak usah jauh-jauh ke beli hape, pakaian, atau buku deh. Padahal di rumah Ibu masak sayur, tetap saja abang nasgor atau sate menggoda. Lalu gue beli. Parah emang gue.

    Ahahaha akhirannya kok mendadak galau gitu, sih? Semacam curhat terselubung. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba dibalik, yogs. kayaknya mereka yang belum nemu jalan untuk menujumu, permata yang masih perjaka :) *tetap berdoa dan berusaha

      puja yoga ajaib. keren udah unin path. abis ini IG dibatasin, bro :D *serius aku setelah logout IG, hidup menjadi lebih tenang

      hahaha, kalau konsumtifnya makanan mah sama. aku juga :v ini yang lagi IN tuh konsumtif skin care sama make up di kalangan ciwi-ciwi.

      hahahahahaha, sekali-sekali curhat boleh lah.

      Delete
  3. Yup, too much is never good

    Contoh nya pas banget tuh Awkarin dan Aaron ashab -_____-
    Contoh terburuk era digital dan socmed emang

    HUH!
    KOK TETIBA JADI KESEL SENDIRI YA :/

    Anyway postingan ini frontal abis ya hahahahaha
    Penuh kata-kata yang tabu menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan yang akan dikupas setajam si..

    Errr, I better go now lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. dua "artis" instagram ybs emang agak keterlaluan, Ul. namanya artis ya, pasti penuh kontroversi. bukan seniman murni yg modal kreasi :')

      frontal gimana? kalau bahasanya ma iya :v

      kalau untuk keseharian, emang "gue banget" soalnya aku aslinya petakilan. belum tahu aja :p

      Delete
  4. ITU NGAPA ADA FOTO LAKNAT ITU WEEEEEEEY HAHAHAHAHAAHAHHAHAHAK.

    Hmmm baca ini aku jadi ingat sama drafku huhuhuhuhuhu. Belom aku sentuh-sentuh juga. Kamu menyentilku, May. Istilah influencer memang ngehe ya, lagi banyak dibahas. Kamunya pake disambungin ke flu encer gitu lagi, May. Hahaha.

    Nah setuju tuh, ciwik ciwik sekarang jadi narsis dan matre. Khususnya yang soal narsis itu ditunjang sama Insta Story yang sekarang pake jajak pendapat. Makin narsis aja tuh. Termasuk aku sih. HAHAHAHAK.

    Nah yang go-food. Anjir iya itu bikin mager. Aku jadi pecandu go-food nih sekarang. Panas di luar dikit, go food. Sibuk dikit, go food. Galau dikit sok=sok nggak mau keluar kantor, go food, Ululuuu~

    ReplyDelete
    Replies
    1. nyari foto nongkrong yang real dan masih kekinian. ada asal usul sumbernya kok di bawah :*

      satu demi satu draft harus diselesaikan, cha. jangan dibiarkan nggantung tanpa ending dan kepastian. kasian.

      insta story emang ajang pamer sih kalau kataku.

      gofood kalau dapetnya abang-abang gojek ganteng pun aku mau. hahahaha. tapi nggak sering sih karena masih lebih suka beli langsung sekalian nyari berondong :))

      Delete
  5. Caption tiap gambarnyaaa... ahahaha... kakak kiwi biru yg pesona baik udah ilang~ tapi yg begini jadi makin asyik bacanya.

    Perihal ketergantungan ini memang jadi perhatian banyak negara sih. Makanya banyak gambar2 sentilan ttg hal tersebut dgn tujuan agar ketergantungannya makin berkurang.

    Masalahnya, manusia sangat menyukai kemudahan. Dan digital tersebut memberikan kemudahan. Kemudahan yg menjadi kebiasaan akan jadi ketergantungan.

    Buruknya, ya, apa2 jadi males. Apalagi klo harus mengeluarkan tenaga lebih padahal biasanya mudah. Sisi baiknya, kemudahan itu adala bukti nyata kemajuan dunia dari segi teknologi.

    Bentar... harusnya komenku nggak begini.

    Ulang.

    Berlebihan memang tidak baik. Namun dalam mencintai, itu pengecualian. Karena bagaimana mungkin kita mengaku cinta pada seseorang sedangkan kita masih menimbang2 dan memikirkan apa yg terjadi kalo mencintai dgn berlebih? Kalo memikirkan untung rugi begitu, apa iya bisa disebut cinta?

    Syukurlah saya tinggal di kalimantan. Yg adat tetua dulu tiap rumah ada baskom pencuci kaki di tiap rumahnya. Jadi walo kamu datang hanya singgah dgn kaki penuh lumpur sekali pun, kamu bisa mencucinya di depan rumah dan nggak bikin aku susah.

    *nah, harusnya komenku begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya anggaplah dulu belum jadi diri sendiri, Haw. sekarang udah nulis semau gue dan keluar aslinya yang petakilan. hahahaha.

      hooh, sering nemu di 9GAG dan beberapa platform lain yang sering bahas tentang social media addict ini. bahkan aku pernah baca artikel jurnal psikologi yang membahas tentang ketergantungan sosmed ini dari segi psikis dan medis. gokil. hasilnya mirip dengan ketergantungan bokep.

      duh, komen aja direvisi. status kapan nih direvisi, Haw?

      Delete
    2. Hmmm begitu. Dan itu bokep ada di digital. Double banget kombonya.


      Mau bantuin ngerevisi?

      Delete
    3. Hmmm begitu. Dan itu bokep ada di digital. Double banget kombonya.


      Mau bantuin ngerevisi?

      Delete
    4. kok komennya dobel gitu. udah nggak tahan ngajak dobel apa gimana?

      Delete
    5. salahin jaringan tuh.xD

      bentar. kuharus mencerna apa maksudnya dobel ini. hmmm... tetep nggak ngerti. otakku belom nyampe kayaknya.

      Delete
    6. dobel pedal. teknik main drum, Haw. yuk.

      Delete
  6. Bener banget sama 4 poin di atas. Setuju banget. Sebenarnya, kalo versiku masih ada 4-5 lagi. hehehe.

    Tapi, yang jelas ini zaman now yang begini. Semuanya sudah ketergantungan digital.

    Rasanya, sekarang yang gak mau ngenal dunia digilat, bakal terasa ketinggalan banget.

    Tapi, ya gak sampe yang lu ceritain di atas. SOalnya, efeknya negatif semua keknya. APalagi foto yg pertama banget. Si Pelacur kata sama Capung. Nganu banget. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. ditulis dong, pange, 4-5 poin tambahannya apa :3

      nggak ikutan, bisa ketinggalan. ikutan, salah-salah bisa ketergantungan. yah, kayak nunggu bis. nggak naik, ketinggalan. naik terus, dikira ketergantungan... sama sopirnya. *karena ganteng

      hahahaha, icha sama yoga emang da real mvp.

      Delete
    2. Pange dan Mayang ih. Kalian berdua bersesongkol merusak nama baikku dan nama baik... AH NAMA YOGAESCE DAH RUSAK SIH. HAHHAHAHAHAHAHAKAK.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.