Tutorial Naik Kereta Ekonomi

Ilustrasi kereta api murah
Tutorial ini didasari oleh adanya pengalaman naik kereta murah kemarin hari dari Jakarta ke Solo. Dengan harga 74ribu saja, saya sudah bisa nebeng dari Jakarta Pasar Senen menuju Solo Purwosari. Murah banget kan? Kalau kalian kaget, sama. Saya dulu pertama kali beli tiket kereta ini juga kaget. ANJIS, MURAH BANGET! Ini kereta apaan? Apakah kereta menuju akhirat?


Maklum lah, tiket kereta per Agustus 2012 kan berubah total karena subsidinya dicabut. Makanya beli tiket kereta bisa online lewat bermacam-macam aplikasi henpon. Namun ya gitu, sekarang itungan beli tiket harganya dipukul rata. Misalnya orang yang naik Bengawan ini. Kalau mereka turun di Purwokerto atau Jakarta, harganya bakal tetep. Sama aja 74ribu. Kan ngeselin. Orang yang pergi jarak dekat harus bayar sama kayak orang yang pergi jarak jauh. Bayangin kalau itu tiket kereta yang mahal macem kereta Gajayana yang harganya ngalahin tiket pesawat. Yang beli bisa tekor duluan sebelum nyampe tempat tujuan.

Maka dari itu, kereta ekonomi paling banyak diminati karena harganya yang relatif murah, meskipun jenis penumpangnya bisa lebih "variatif" daripada penumpang kelas bisnis dan eksekutif yang biasanya "anteng". Akan banyak halang rintang yang bisa terjadi selama perjalanan. Jadi, berikut adalah beberapa tips and trick untuk kamu yang mau naik kereta ekonomi. 

1. JAUHI EMAK-EMAK REMPONG DI TEMPAT CHECK IN

Hmmm. Berani sama saya?
Hari Minggu, saya lekas menuju ke arah pintu keberangkatan Pasar Senen. Seperti biasa. Desak-desakkan bukan main. Apalagi kalau emak-emak yang bawa barang banyak, bawa anak banyak, dan bawa tiket kereta kolektif. Semua tiket anggota keluarga, mereka yang pegang. Mereka nggak akan mau kalah dengan antrian dan bisa menyerobot posisi manapun yang mereka suka dengan sliding tackle kardus berisi bahan makanan yang jumlahnya bisa ngalahin makanan bungker. Ampuh pokoknya.

Ini persis dengan kejadian kemarin yang menimpa saya. Nyesek njir, kalau keinget. Saya ingin chek in dan sudah berada di antrian, tapi seorang ibu-ibu dan keluarganya mendorong kaki saya dengan tas laundry mereka yang segede gaban. Entah apa isinya. Semoga saja bukan manusia korban-korban serobotan mereka.

"Bu, maaf. Ini masih antri," Saya berusaha ngomong baik-baik.

"Iya tahu. Saya cuma nggeser tas aja biar nggak ketinggalan. Isinya oleh-oleh mahal dari Jakarta soalnya!" Jawabnya dengan nada sewot.

Saya lekas cuek dan kembali menatap depan. Fokus pada antrian. Namun lagi-lagi, tas ibu-ibu tadi menyodok kaki saya. Hih. Kesel juga. Saya pun balik badan lagi. Tiba-tiba...

"Apa liat-liat? Saya cuma majuin tas kok ngikut antrian! Mau protes kamu?"  Ibu-ibu tersebut dengan mata menyala langsung nyerocos.

DUH GUSTI. AING BELOM NGOMONG APA-APA UDAH DISEMPROT AJA.

Akhirnya saya ngalah. Disodok-sodok tas sampai dalem peron pun saya pasrah. Daripada saya jadi korban selanjutnya. Kan nggak lucu kalau besok di koran Jakarta ada headline news begini.

"SEORANG GADIS TEWAS DIMUTILASI KARENA TIDAK MAU DISODOK TAS IBU-IBU DI STASIUN"

Jadi, kalau ada tipe emak-emak begini di stasiun, udah mending minggir aja daripada akhirnya kamu pulang tinggal nama. TRUST ME, IT WORKS!

2. CARI TEMPAT DUDUK SESUAI TIKET SECEPAT MUNGKIN

Ilustrasi kursi kereta ekonomi
Setelah berhasil masuk peron dan melewati barisan manusia lainnya, yang perlu kamu lakukan adalah masuk ke gerbong sesuai dengan tiket. Ini penting, ya. Jangan sampai salah gerbong. Tengsin, euy! Setelah masuk ke gerbong yang benar, ada baiknya kamu cari tempat duduk sesuai yang tertera di tiket. Lagi-lagi, jangan salah duduk. Apalagi kalau duduk di kursi milik emak-emak yang rempong tadi. Cari mati namanya. Jangan aneh-aneh deh pokoknya!

Kadang step ini harus terhambat karena kursi pilihan kita diduduki sama orang lain. Ini sering banget kejadian kalau kamu milih kursi E atau A. Karena kalah waktu, kursi kamu bisa diduduki sama orang yang seharusnya berkursi D, C, atau B. Dan ngeselinnya, kalau yang duduk di kursi kita adalah emak-emak. FIX. Nggak bakal bisa berkutik. Misalnya saya kemarin.

Saya yang celingak-celinguk mencari kursi duduk, akhirnya menemukan fakta tak terbantahkan bahwa kursi A saya diduduki oleh seorang emak-emak tanpa anak. Masih muda sepertinya. Untung aja bukan yang tadi ketemu di tempat check in. Pertama melihatnya, saya masih berusaha tenang.

"Bu, maaf. Kursi saya A,"

Ibu itu hanya menatap saya dari atas sampai bawah. MELOTOT. Emang saya orang kriminal apa gimana? Kan cuma mau minta tempat duduk doang. Hak saya dong. Tapi dia nggak jawab apa-apa. Hanya menepuk kursi sampingnya yang B. Kayaknya saya disuruh duduk di situ deh.

Sementara kursi C dan ABC di depannya sudah penuh semua dengan penumpang. Salah saya juga sih, berangkat mepet. Karena kalau di kereta ekonomi gini, tingkat keegoisan orang meningkat. Mereka yang dapet tiket bukan kursi pinggir akan lebih awal berangkat supaya bisa nempatin kursi pinggir.

Sebenarnya saya juga bukan orang tegaan yang minta kursi ke ibu-ibu. Namun melihat penampilannya yang parlente dan memang masih muda, makanya saya berani-berani aja meminta kursi saya. Perjalanan jauh, men. Rugi rebutan tiket dong kalau nggak bisa duduk di kursi impian. 

"Maaf, saya ingin duduk di kursi A. Soalnya tiket saya di kursi A, bu."

Saya mengulangi lagi. Masih berusaha tenang meskipun agak keder juga. Mana dilitain penumpang lain lagi. Dan ibu-ibu tersebut lagi-lagi memelototi saya dengan tatapan matanya yang sepedas sambel cilok.

"YAUDAH, DUDUK SINI!"

IYA, ITU EMANG TEMPAT DUDUK AING! Balas saya dalam hati.

Ibu tersebut akhirnya mau geser. Tapi yang bikin kesel, ibu itu kakinya ditaruh di atas kursi dan menyilang. Makan tempat banget, kan. Berasa lagi sesi yoga apa gimana. Pas geser juga nggak mau nurunin kaki dulu. Ini mager berat apa emang pantatnya kena lem Fox di kursi? Saya juga nggak paham.

Jadi, meskipun kamu udah pegang tiket dengan tempat duduk pinggir, jangan senang dulu. Usahakan tetap datang ke stasiun lebih awal untuk nge-cup kursi kamu supaya nggak didudukin orang lain. Apalagi kalau yang ngedudukin emak-emak ngeselin begini. Bahaya, cuy!

3. HINDARI MBAK-MBAK PMS DI RESTORASI

Restorasi kereta bukan tempat penukaran uang
Saya sendiri baru pertama kali ke restorasi dalam sejarah per-keretaapi-an adalah saat kemarin hari. Karena udah nggak betah sama ibu-ibu di samping yang tidurnya ndusel-ndusel dan kakinya kemana-mana. Ditambah balita depan saya yang muntah dan pipis.

DUH. KALIAN BISA BAYANGIN KAN SE-HECTIC APA POSISI SAYA KEMARIN? 

Apes bertubi-tubi. 

Akhirnya dengan sisa keberanian ngelangkahin muntahan, saya menuju ke gerbong restorasi dan memesan teh serta popmie. Harganya jangan ditanya lah, mahal gewla. Namanya juga di kereta. Kalau mau murah bawa heater sama popmie sendiri, colokin ke stop kontak di bangku. Murah tuh.

Pesen di restorasi juga harus masuk akal. Bawa duit pecah. Karena kebanyakan pegawainya nggak sedia duit receh banyak. Di kereta, cuy. Kendaraan berjalan. Mau tuker receh ke siapa? Satpam? Kang parkir? Kagak ada!

Nah ini, saya beli teh dan popmie habis 17ribu. Bayar pake uang 20ribu. Mbaknya nggak punya kembalian seribu, adanya duaribu doang. 

"Mbak, maaf. Kembaliannya nggak ada. Adanya dua ribu perak ini, seribunya nggak ada." Ujar mbak-mbak pegawai restorasinya. 

"Receh koin juga nggak ada mbak?" Saya balas sedatar mungkin. Karena memang saya cuma nanya, bukan nuntut koin seribuan untuk diberikan kepada saya kalau memang nggak ada. Atau minta kembalian permen macem di warung-warung.

"Nggak ada, mbak. Kalau mau nuduh saya nilep ya nggak gitu caranya, mbak. Orang seribu doang kenapa juga saya harus nilep. Kalau ada mah udah saya kembalikan sama mbak, tapi ini beneran nggak ada, mbak. Jangan nuduh nilep-nilep kenapa sih, mbak." Jawabnya dengan intonasi andante dengan ketukan empat per empat. 

YANG NUDUH NILEP JUGA SIAPA? SAYA KAN CUMA NANYA?

"Iya, mbak. Nggak apa-apa. Biar disini aja seribunya,"

"Dari tadi yang bayar tuh uangnya gede-gede. Dikira ini tempat penukaran uang apa gimana. Serius kalau ada seribunya udah saya kasih ke mbak. Sayangnya ini beneran nggak ada, mbak. Beneran nih kalau mau liat." Jelasnya sekali lagi.

SAYA NGGAK BUTUH LIHAT KOK, MBAAAK!

Saya menghela napas. 

"Iya, mbak, iya. Saya percaya kok. Udah saya mau makan dulu, makasih."

Akhirnya dia sedikit tenang. 

"Iya, mbak. Makasih. Nanti kalau ada seribuan saya kasih ke mbaknya deh, tunggu ya mbak." Jawabnya kemudian. Menutup pembicaraan.

Saya udah nggak peduli uang seribuan lucknut tersebut. Saya hanya ingin makan dengan tenang tanpa sodokan tas belanjaan, makian ibu-ibu, muntahan, ompol bau pesing, dan curhatan mbak-mbak restorasi yang sedang PMS. Serius.

Jadi, kalau kalian suntuk di gerbong dan ingin ke restorasi, pastikan yang melayani bukan mbak-mbak PMS yang sensi-an. Cuma masalah kembalian aja urusan bisa panjang. Saya paham sih, mereka nggak bisa seenak udel nuker uang ke toko sebelah. Makanya mereka rada sensi. Apalagi kalau semua penumpang bayarnya pake duit gocap semua. Oleh karena itu, usahakan juga kalau bayar di atas kereta pake uang yang pas, ya. 

Kalau kalian, punya tips dan pengalaman apa saat naik kereta ekonomi? Mungkin bisa ditulis di kolom komentar.





Pictures are taken from:
https://www.youtube.com/watch?v=OpL5yZMO1z0
https://www.kaskus.co.id/thread/57b3014c96bde6fa588b4569/bajingan-cyber-true-story/
https://news.bbm.com/id/hiburan/idntimes-com/articles/253660
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

20 Comments:

  1. Gue, sih, cuek aja soal tempat duduk itu. Yang penting masih di area yang sama. Mau di A, terus udah ditempatin dan jadi B gak apa. Kalau ternyata orang yang duduk menemani perjalanan itu nggak asyik, gue cuek sama sekitar. Palingan dengan dengerin musik pakai earphone lalu, baca buku. Duh, seolah gue anti-sosial anjir. :)

    Wqwqwq. Jadi inget perjalanan ke Solo kalau ngomongin harga makanan yang mahal. *insert link*

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau yg nempatin ibu-ibu sepuh gitu aku juga nggak minta biasanya, yogs. tapi itu kondisi lagi capek banget, pengen duduk di pojok biar bisa sandaran karena nggak punya sandaran hati *eh*.

      sama, biasanya kalau temen sebangku nggak asik, aku udah headset an sama baca buku. kadang tidur. sampai tiba di tempat tujuan :v

      mana link nya?

      Delete
    2. Yoga emang sukanya yang bercelah kayaknya. Hmmm

      Delete
  2. kalau menurutku sekarang fasilitas kereta udah lebih baik, dari pengalamanku naik kereta ehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, daripada dulu yang sampe berdiri berdiri karena penuh kan. Hehe

      Delete
  3. Bagus nih. Meskipun hal sederhana tapi dulu sebelum pertama kali naik kereta sempet browsing gitu. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. naik kereta mana sempet browsing beginian dulu elah :'(

      Delete
  4. Anjir anjir anjir serius kamu ngalamin ini semua cuma dalam sekali jalan? Sial banget ya May. Hahaha tapi kocak juga yang emak-emak tukang nyodok.

    Wah sekarang kamu udah rajin ngeblog lagi euy. Mantap. Kemarin-kemarin emang sibuk apa aja May? Nah sekarang giliran saya nih yang jarang apdet ckckck. Tapi baca-baca blog temen-temen mah masih suka sih. Ya moga kamu rajin terus ya May!

    ReplyDelete
    Replies
    1. sial banget ye, bang? emang.

      sibuk mengejar ngejar dia... matahari menyinari semua perasaan cinta... tapi mengapa hanya aku yang dimarahi...

      Delete
  5. ((KERETA MENUJU AKHIRAT))

    😂😂😂😂😂😂

    Ini curhatan pedih berkedok tutorial ya, May. Sedih bacanya. Keji juga ya orang-orang itu. Apalagi ibu-ibu dengan tasnya yang suka nyodok itu. Bagi aku yang nggak sama sekali nggak pernah naik kereta, ini sangat bermanfaat. Oke sip.

    Terus tiga makhluk di atas itu jenis kelaminnya perempuan. Jadi..... orang yang nggak dihindari saat naik kereta itu laki-laki aja kali ya, May. Apalagi kalau laki-lakinya ganteng, humoris, lucuk. Terus adegan ketemu sama laki-laki model begitu, jadi kayak film Before Sunrise. Huaaaaaaa pengen banget naik kereta kayak gitu HUAAAAAAAAAAAAAAAAAA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MALAH BEFORE SNRISE DIBAWA BAWA.

      curhat sialan, Cha. pedih lah pokoknya. apalagi yang bagian ompol. untung nggak kena, huahahahaha.

      Delete
  6. Hahahahahhahahahahha

    T e r f a e d a h

    Tapi terlucu dan terngakak juga wkwkwk
    Baru kali ini baca tutorial sampe ketawa hahaha :)))

    Aku pernah sih naik kereta ekonomi juga dr Jakarta ke Purwokerto, 90 ribuan.

    Seru sih, bisa hiruk pikuk sama temen-temen.
    Dan agak kapok juga karena jadi gak bisa tidur
    Pulangnya naik kereta eksekutif hahahahahahahahahhaahhahahahahah

    ReplyDelete
  7. Berdasarkan pengalamanku sih, naik kereta sekarang udah agak lebih enak. Walau kadang kalo rame yah.... main sumpel-sumpel aja kayak nyumpel barang di lemari :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, apalagi kalau temen sebangkunya gede, dua kursi dipake dia semua :'(

      Delete
  8. Karena di balikpapan/kaltim belom ada kereta api, pas pertama kali naik kereta dari surabaya ke malang gue malah salah gerbong dong hahaha. Untung pas sepi, jadi bisa duduk asal. Tapi pas pulangnya dari malang ke sby itu kereta penuh banget, gue bingung musti duduk dimana, akhirnya tanya2 dan sapet tempat duduk, tapi gue duduk ngangkang selama 2 jam perjalanan, ada bapak2 naruh koper gede di depan gue. :((((

    ReplyDelete
  9. yang nomor 2 aku banget, cepet-cepetan duduk di kursi deket jendela huahahaha. padahal pas beli tiketnya udah sengaja pilih kursi A/E, tapi yah selalu ada aja orang yang ingin memuaskan egonya sendiri huft

    ReplyDelete
    Replies
    1. hla iya bener :))

      padahal kita berburu kursi pojok juga butuh perjuangan. beli tiket awal-awal waktu misalnya.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.