OCD? Bahaya Nggak Sih?



Pertengahan tahun 2015, tepatnya di bulan Agustus, saya sedang menjalani salah satu kegiatan kampus sebagai prasyarat kelulusan untuk gelar sarjana. Namanya KKN. Kuliah Kerja Nyata. Mahasiswa akan dikelompokkan dari berbagai jurusan dan diterjunkan di sebuah desa yang jauh di mata untuk melakukan pengabdian. 

"Cie elah. Baku bener bahasa lu, tooong..."

Saya ingat betul momen itu karena akhirnya saya menemukan kejanggalan yang terjadi pada diri saya sendiri selama bertahun-tahun dari pengamatan teman-teman KKN yang kala itu serumah. Dan kisahnya dimulai dari sini...


Suatu malam, saya sedang asyik berisik di dapur, sementara teman-teman lain sudah tidur-tiduran sambil main poker di depan TV. Tiba-tiba seorang teman yang sebut saja namanya Dadang, menghampiri.

Dadang: Ngapain, May?

Saya: Iseng aja kok. Anak-anak suka berantakan kalau naruh bahan makanan. Kopi dijejerin garam, gula dijejerin kecap, gak bener nih.

Dadang: Isengnya kamu unik, ya.

Saya: Hahaha, nggak tahu juga sih. Gatel aja pingin beresin.

Kemudian Dadang berlalu. Nyeduh kopi dan balik ke ruang tengah.

Dua hari kemudian, Mbak Ari, teman KKN yang merupakan dedengkot kelompok karena paling senior dan sudah berkeluarga, menegur saya yang sedang menjemur baju dengan urutan warna hanger yang teratur.

Mbak Ari: Ngapain, May?

Saya: Jemur baju, Mbak. Ngapain lagi?

Mbak Ari: Iyaaa... Maksudnya, ngapain pake hangernya diurutin segala warnanya?

Saya: Nggak tahu, nih. Lucu aja diliatnya. Kalau warnanya berantakan, bikin pening kepala.

Kemudian Mbak Ari berlalu. Balik ke dalam karena ternyata BH-nya tertukar dengan Desi. Ukurannya jadi kempes, begitu katanya. Maklum namanya juga emak-emak. Sudah pernah memberi ASI saat menyusui bayi.

Seminggu kemudian, Mbak Ari mengajak seorang temannya dari kelompok lain yang merupakan anggota kelompok KKN desa sebelah. Masih satu kota dan kecamatan. Mereka berbincang sebentar di depan teras sambil ngemil usus ayam goreng. Kemudian tiba-tiba saya dipanggil.

Mbak Ari: May, kenalin ini Lala. Temenku dari jurusan Psikologi.

Saya: Oh iya, salam kenal Mbak Lala. *ada angin apa nih saya dikenalin sama temannya*

Mbak Lala: Halo, May. Saya Lala. 

Kemudian kami berbincang-bincang lama. Membahas program kelompoknya dan kelompok kami untuk KKN. Namun, perhatian saya sempat teralih-alih terus karena Mbak Ari yang sering memoteki usus ayam. Ia menuang saos sambal dan saos tomat di mangkuk yang sama. Mencocolnya tanpa urutan sehingga wadahnya belepotan. Saya nggak tahu kenapa, tapi itu terlihat annoying. Segera saya mengambil tissue di dalam dan mengelap pinggiran mangkuknya.

Mbak Lala: Oalah, ini toh, yang kamu maksud, Ri?

Mbak Ari: Hahahahaha, iya nih. Unik kan?

Saya: *bengong memandang mereka karena nggak paham lagi ngomongin apa*

Mbak Lala: May, pernah dengar tentang OCD?

Saya: Pernah. Salah satu mental disorder kan, Mbak?

Mbak Lala: Tahu gejalanya apa aja?

Saya: *menggeleng*

Akhirnya, perbincangan siang itu berganti dengan kuliah seratus menit Mbak Lala yang menjelaskan apa itu OCD, penyebabnya, gejalanya, dan cara mengatasinya. Saya yang tidak pernah memikirkan hal itu, jadi terhanyut, tersandung, terjatuh, dan terjerembab karena sadar bahwa saya mengidapnya selama bertahun-tahun. Hiks.

Jadi, OCD adalah...

OCD adalah salah satu dari mental disorder yang berupa perilaku obsesif dan kompulsif terhadap sesuatu, meskipun itu hanya ada di dalam pikirannya sendiri. OCD ini memiliki siklus licik yang bisa membuat gila penderitanya.


Empat Siklus dalam OCD...

1. Pikiran Obsesif

Ini berkaitan dengan pikiran-pikiran liar tentang kehidupan sehari-hari yang bisa memicu kecemasan. Biasanya terjadi spontan karena kita teringat sesuatu. Contoh yang baru saja terjadi, saya pipis ke kamar mandi dan saat kembali ke kamar lupa apakah air kran udah dimatiin atau belum. Hal ini membuat pikiran saya mengembara ke alam imajinasi. 

"Air kran tadi udah mati belom ya? Duh, jangan-jangan belum dimatiin lagi."

2. Kecemasan Berlebih

Setelah kepikiran apakah air kran kamar mandi tadi udah dimatiin atau belum dan memikirkan bagaimana efeknya kalau saya membiarkannya terjadi, maka fantasi buruk akan muncul satu per satu. Sempat terpikir akan terjadi banjir bandang di rumah. Meskipun sebenarnya mustahil.

"Duh, ember tuh kamar mandinya. Kalau sampai pagi, bisa banjir rumah aing."

3. Tindakan Kompulsif

Kalau pikiran liar dan kecemasan udah keluar menggenangi otak, maka hal yang selanjutnya terjadi bisa ditebak. Yap. Saya bergegas lari ke kamar mandi dan mengecek air krannya apakah benar udah mati atau belum. 

*brb, lari ke kamar mandi dan ngecek air krannya lagi*

4. Kelegaan Sementara

Setelah benar-benar ngecek ke kamar mandi, eh, ternyata air krannya udah mati. Disitulah kelegaan yang hanya sementara muncul. Pikiran buruk karena kecemasan berlebih tadi hilang sudah. Tapi ya gitu. Hanya sementara.

"Anjir, untung udah dimatiin. Syukur... Syukur..."

Namun, yang namanya siklus licik ya pasti muter terus. Apakah setelah tahap 4 itu semua selesai? Oh, tidak. Belum selesai. Biasanya setelah balik ke kamar, pikiran jahanam tentang apakah-air-krannya-masih-nyala kembali menghampiri. Gitu terus aja sampe pagi. Begadang, begadang dah saya.

OCD sendiri terdiri dari dua hal penting...

1. Obsesi

Seperti dijelaskan di atas, obsesi ini berupa pikiran liar. Lebay. Berlebihan. Kadang sering dikaitkan juga dengan fenomena "overthinking". Tapi kalau saya pribadi menganggapnya berbeda. Di saat "overthinking" ini menyerang manusia untuk memikirkan hal-hal penting dalam hidupnya yang serba hutang dan bermasalah, obsesi ini lebih ke arah hal-hal remeh dan receh seperti:

a. Takut gelap

b. Takut kuman

c. Takut melupakan sesuatu

d. Tidak nyaman melihat benda asimetris

e. Tidak suka melihat ruang yang berantakan

dan lain-lain...

2. Kompulsi

Kalau kompulsi, lebih berhubungan dengan tindakan untuk mengusir pikiran-pikiran lebay yang sebelumnya muncul karena adanya obsesi. Mereka adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Soulmate dalam mengganggu ketentraman manusia. Macem Bonnie and Clyde gitu lah. Jadi kita bisa terpelatuk untuk melakukan perilaku repetitif atau berulang-ulang seperti:

a. Menyalakan lampu dan memastikan lampunya nyala terus (sering bangun tiap jam)

b. Mencuci tangan berkali-kali (dan berkali-kali lagi) dan selalu sedia hand sanitizer

c. Mengecek suatu hal berkali-kali (pintu, kran, listrik)

d. Mengembalikan bentuk benda menjadi simetris (kadang sampai memotong, membuang)

e. Merapikan ruang berkali-kali sampai benar-benar tidak ada cacat sedikitpun

dan lain-lain...

Beberapa jenis OCD tergantung gejalanya...

Mengingat bahwa gejalanya buanyak buanget, OCD dibedakan menjadi beberapa jenis. Ada OCD checking, OCD contamination, OCD hoarding, OCD rumination, dan OCD symmetry atau orderlines. Banyak ya. Ada lima. Ya, tahunya juga karena barusan googling. Dulu si Mbak Lala ini nggak menjelaskan sejauh ini. Cuma ngasih beberapa buku sama instrumen tes kayak angket gitu. Dan you know, eyke dijadikan objek penelitian skripsinya. Mukegile, kan. Ternyata dia KKN sambil nyari mangsa. Gokil bener.

1. OCD Checking


OCD jenis ini nih yang paling mengganggu. Hampir semua kegiatan harus dicek lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, untuk memastikan bahwa semuanya berjalan baik dan lancar. Bener-bener bikin kesel, njir. Serius. DAN SAYA TERMASUK OCD JENIS INI.

Mau pergi nggak bisa tinggal pergi. Harus cek sana sini. Kompor udah mati belum? Air kran udah dimatiin belum? Semua kabel listrik udah dicabut belum? Pintu udah terkunci rapat belum? Barang ada yang ketinggalan nggak? Pembalut udah rapet dan pake yang jenis wings belum? Ini nih. Ini yang bisa menghambat jalannya reformasi. Waktu terbuang beberapa menit untuk cek barang berkali-kali.

2. OCD Contamination


OCD jenis yang kedua yaitu OCD contamination. Biasanya ditunjukan dengan sikap jijik dan kata "eeewww" saat melihat kubangan lumpur, tumpukan sampah, dinding penuh upil, tisu di sudut kamar mandi, dan lain sebagainya. Selalu bawa-bawa hand sanitizer dan tisu basah kemana-mana. Selalu cuci tangan berkali-kali sampai sela-sela jari dan kuku pakai sabun. Nggak habis-habis.

Paling anti dengan rumah sakit yang katanya menjadi sarang penularan penyakit. Tapi... Alhamdulillah, SAYA BUKAN TERMASUK JENIS INI. Orang kalau ngupil aja masih suka ditempelin di bawah ranjang. Hehehe.

3. OCD Hoarding


OCD hoarding ditunjukkan dengan sesaknya kamar karena penderitanya menyimpan berjuta-juta barang nggak penting. Botol bekas sirup Marjan waktu lebaran, tabung Pringles, box wadah buku, tempat snack atau kosmetik yang lucu, dan kawan-kawannya. Berharap bahwa barang-barang sampah itu akan berguna pada waktunya untuk didaur ulang atau dipakai lagi oleh empunya. OCD jenis ini membuat kita takut kalau nantinya kita butuh lagi, tapi barang-barang tersebut sudah dibuang. Ada juga pikiran yang berharap kalau di masa depan hasil koleksi itu bisa menjadi barang berharga macam prasasti yang dicari-cari. Kan keren kalau nanti kita tua ternyata kita masih punya bungkus jajan di tahun 90-an. Alhasil, kita pun jadi nimbun sampah di dalam kamar.

INI TERJADI PADA SAYA BAHKAN SEJAK SD. Saya senang banget kalau urusan mengepul bungkus snack. Tahu permen Yosan yang lejen itu? Saya mengoleksinya. Meskipun sampai sekarang nggak pernah nemu huruf "N"-nya. Permen Davos, mie gemes, mie oren yang seratusan, semua saya punya bungkusnya. Dan saat beranjak dewasa, saya jadi nambah kotak Nescafe, kotak bekas kosmetik ibunda, kotak bekas jajan bandara, wadah Pocky, dan lain-lain yang kalau ditotal bisa sampai puluhan kardus. Saya bahkan nimbun di dua tempat. Kamar di rumah dan kamar di kos saat kuliah. Namun... Perjalanan OCD saya jenis ini harus "dipaksa" berakhir. Ibunda membakar semua koleksi "sampah" saya yang ada di kos (saat boyongan pulang usai wisuda dulu) dan di rumah sekaligus. Dan momen itu adalah patah hati terbesar saya. 

4. OCD Rumination


OCD ini agak serius. Orang akan memikirkan banyak sekali hal-hal yang terjadi pada hidupnya. Namun sedikit mengarah ke "overthinking" karena hal-hal yang dipikirkan adalah campuran antara receh dan penting. Kadang receh kadang penting. Karena saya orangnya woles kayak kuda nil yang hobi tidur-tiduran dan cuek dengan urusan rumit yang menurut saya membosankan, maka SAYA TIDAK TERMASUK GOLONGAN INI. Di saat teman-teman saya bergosip tentang Rando yang konon meminta imbalan ceban pada fansnya saat foto, saya malah asyik nontonin abs oppa-oppa Korea sambil nyemil popcorn.

5. OCD Symmetry



Ini nih. Ini yang bikin saya seringkali berantem sama orang rumah dan teman. Nggak bisa liat barang asimetris sedikitpun. Ada kabel oloran listrik yang tergerai di sudut rumah, langsung saya beresin. Padahal sedang dipakai chekcsound bapak untuk acara arisan. Ada kertas nota-nota berserakan di meja, langsung saya buang ke tempat sampah. Kalau sedang luang, malah saya bakar di kebun belakang. Padahal itu nota penting pembelian kain untuk murid-murid sekolah ibu.

Di kamar saya hampir tidak ada helai rambut berjatuhan seperti kamar ciwi-ciwi lain. Karena saat ada satu saja helai rambut rontok, saya lekas menggunting selotip dan memungutnya. Kamar saya juga selalu simetris. Baju disusun tiap warna. Alat tulis disusun sesuai fungsinya. Kamar tidak boleh berantakan saat ditinggal keluar. Dan kalau mau mengerjakan apa-apa di suatu ruangan, saya akan memastikan bahwa tidak ada lukisan yang miring, korden yang terbang-terbang karena kipas angin, dan barang kotor yang tertinggal. Hmm... Banyaklah kalau soal ini. Sampai-sampai saya merasa dikendalikan oleh kekuatan tak kasat mata di dalam kepala saya. Kalau tidak diatasi, bisa cranky dan gak mood buat ngapa-ngapain. Anying kan.

Baju saya harus disusun by color atau by season di dalam lemari
Pensil warna saya harus disusun urut warna dan kadang sampai mejikuhibiniu


Mau ngapa-ngapain harus ditulis di buku agenda dan checklist agar tidak ada yang terlewat

Jadi, apakah OCD bahaya...

The answer is either yes and no. Ya, kalau sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Tidak, kalau tidak sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Klise. Tapi memang begitu adanya. OCD yang aman-aman aja, justru bisa menguntungkan. Bila kita benar-benar meninggalkan dompet di rumah saat keluar, kita jadi bisa mengambilnya. Sedangkan OCD yang merugikan bisa terjadi misalnya saat kita ingin menghadiri acara penting. Ulangan harian di sekolah atau kuis di kampus. Saat kita telat datang dan ditanyakan apa alasannya, masa iya mau jawab, "Maaf, Pak. Tadi masih ngecek jemuran baju udah diangkat apa belom."

OCD bisa diminimalisir dengan...

Ada yang bilang kalau OCD nggak bisa sembuh. Bisanya dikontrol agar tidak menjadi-jadi. Ini bener sih. Dan kontrol itu harus bersifat internal. Dari pikiran sendiri-sendiri. Mau terapi dari psikolog sampai paus naik ke daratan pun nggak akan mempan kalau pada dasarnya pikiran kita tidak mau memulainya. Harus ada motivasi dan paksaan kuat. Seperti contoh kasus saya, ada beberapa tips yang bisa diambil.

1. Saya termasuk OCD Checking. Over checking malah. Dan cara agar menguranginya adalah dengan bersikap cuek seperti biasa. Berpikir apapun resikonya, itu perkara nanti. Persetanlah. Kalau saya lupa mengunci pintu dan nanti ada barang yang diambil orang, ya berarti bukan rejeki saya. Simpel kan? Memang susah sih memulainya. Kadang masih ada perasaan dan pikiran kuat yang nyuruh-nyuruh untuk ngecek pintu sekali lagi. Tapi itu harus dilawan. Dan setelah dipraktikkan, ternyata saat saya pulang kuncinya terpasang rapi. Tidak ada barang yang hilang.

2. Karena ibu saya membakar semua koleksi "sampah" saya, saya jadi trauma untuk mengumpulkan bungkus snack dan kotak-kotak lucu lagi. Takut kalau nanti sudah banyak akan dibuang lagi, dibakar di depan mata saya. Memori menyakitkan itu membuat saya hampir tidak pernah mengoleksi apa-apa lagi. Bahkan saya yang tergila-gila mengoleksi nota belanja, tiket perjalanan, dan karcis tempat wisata, sudah tidak pernah melakukannya lagi sekarang. OCD Hoarding saya sudah hampir sembuh.

3. Sedangkan untuk OCD terakhir, saya masih belum bisa mengatasinya. Sampai detik ini. Namun saya mulai bisa mengurangi intensitasnya saat melihat barang milik orang lain. Saya tidak serta merta langsung beberes meskipun dalam otak sudah ingin marah-marah karena melihat kamar adik yang berantakan. Tapi saya kembalikan lagi, its none of my business.

Sharing tentang OCD ini sulit karena...

Meskipun banyak penelitian yang mengklaim bahwa 70% populasi dunia menderita OCD, tapi yang benar-benar menderitanya hingga seperti sakit jiwa hanya sekitar 10% saja. Menurut saya, ya. Di kelas saat sekolah dulu, saya hampir selalu membereskan spidol dan menjejerkannya di kotak spidol dengan posisi sama, ke atas semua. Tidak ada yang miring. Namun tidak ada teman-teman saya yang begitu. Semua asal memasukkan spidol tersebut ke kotak.

Di kosan dulu, saya sering terbangun tengah malam dan membereskan sandal atau helm berserakan milik teman-teman kos. Saat ketahuan oleh salah satu adik kos, saya sampai dijuluki keong mas atau peri pembantu yang ada di dongeng tukang sepatu. Njir, nggak banget ya, peri pembantu. Meskipun peri, tapi belakangnya tetap pembantu.

Dan sharing tentang OCD ini sulit karena beberapa orang (dan teman) menganggap kalau saya ini kelainan. Abnormal. Suka melakukan hal-hal nggak penting. Makanya, saya sering mencari-cari lagi referensi tentang OCD, membaca buku, mengikuti thread OCD di Kaskus, dan sesekali cerita pada teman yang jurusan psikologi karena katanya taraf OCD saya sudah cukup parah. Hiks.

Ya, sekian tulisan Sharing Silang kali ini. Semoga positifnya bisa diambil, negatifnya bisa diskip aja. Setelah tuntas membaca, coba meraba karakter sendiri-sendiri. Apakah kalian juga memiliki gejala-gejala seperti yang saya sebutkan di atas? Kalau iya, welcome to the OCD world :))

OCD is like a bully inside your head and nobody can see it. - Krissy McDermott
Bener-bener gambar yang bisa bikin klimaks jasmani dan rohani





References are taken from:
1. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/obsessive-compulsive-disorder-ocd/index.shtml
2. https://iocdf.org/about-ocd/
3. https://www.psychiatry.org/patients-families/ocd/what-is-obsessive-compulsive-disorder
4. https://www.ocduk.org/types-ocd
5. http://kliktoread.com/5-tipe-ocd-yang-manakah-kamu/

Pictures are taken from:
1. http://aboutislam.net/family-society/your-society/muslims-likely-suffer-ocd/
2. http://childpsychiatristdenver.com/ocd-childpsychiatristdenver/
3. https://blog.cognifit.com/ocd/
4. http://www.health.com/health/gallery/0,,20707257,00.html
5. https://en.wikipedia.org/wiki/Obsessive%E2%80%93compulsive_disorder
6. https://www.memecenter.com/fun/3020155/long-post-ahead-ocd-is-killing-me/comments
7. https://psychcentral.com/lib/ocd-is-messy/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

10 Comments:

  1. ((SIKLUS LICIK))

    May.... ini tulisannya rada serius tapi kamu bawainnya nyantai. Sempat gemas sama kamu pas di awal-awal tulisan. Kamu mirip Mamaku banget! Aku jadi curiga kalau Mamaku mengidap OCD checking dan symmetry. Terutama symmetry. Aku sama Mama suka berantem karena lemari buku dan ranjangku berantakan yang padahal menurutku nggak berantakan. Belio suka tiba-tiba mindahin benda-bendaku tiap hari, bikin aku kesal karena aku ini orangnya pelupa dan maunya kalau benda itu udah ditaroh di tempat A, yaudah A aja. Lagian aku ngerasa pusing sih kalau kamarku itu rapi. Gimana ya, mau gimanapun dirapiinnya, tetap aja nggak lama berantakan lagi. Aku malah susah nemuin barang kalau kamarku rapi. Huaaaaah. Bertolak belakang banget sama Mamaku.

    OCD contamination ngingatin aku sama film Silver Linings Playbook. Salah satu tokohnya mengidap OCD yang kalau nggak salah jenis OCD-nya yang itu. Hmmm. Btw aku jadi sedih sama kejadian 'barang-barang kesayangan' kamu dibakar :( Tapi ada sisi positifnya ya, May.

    Oh iya ini aku jadi kepo dah. Dengan tulisan yang panjang dan serapi ini, apakah kamu mengeceknya berkali-kali? Apakah OCD checking juga mendera kamu ketika lagi ngeblog, May?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hah? jangan-jangan aku mamamu? *jeng jeng jeng*

      kebalikan ya, ibuku suka sembarangan kalau naruh barang, aku yg ngerapihin. tapi pasti jadi berantem. hahahahaha. kamu ibuku banget deh, cha.

      beh jadi pengen nostalgia sama filmnya tiffany "i am just a crazy slut with a dead husband" :v iya itu salah satu ocd contamination, cha.

      yap, aku selalu cek tulisan sebelum posting. berkali-kali. dan ini ngeselin banget anjay :'(

      Delete
  2. Baru tau kalau OCD itu ada macam-macam
    Kirain itu semua gejalanya diderita oleh satu orang itu aja wkkw

    Waw

    Many new things I just known about this

    T.H.A.N.K.S.S.S

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga tahunya dari baca-baca lagi, Ul. penasaran soalnya. kenapa diriku seperti ini? kenapaaa? tsaaah. drama banget.

      Delete
  3. eh lama gak main ke sini, sekarang udah dot com aja nih? :))

    baca judulnya kirain OCD-nya Dedy corbuzier wkwkw. Kayaknya gue OCD juga deh, tapi gak parah2 amat, lebih ke takut terjadi sesuatu sehingga gue ngecek berkali2 gitu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hey, yoga besar :))

      lah bukan, kalau dedi kan diet2an :v sama, parno ya. aku bahkan semua barang di rumah dicek dulu kalau mau keluar. bikin telat kalau ada janji atau apa.

      Delete
  4. Kukira awalnya mau nyeritain ttg transaksi jual beli barang di tempat tertentu. Tapi bukan itu. Mungkin ttg diet, ternyata bukan juga. xD

    Kalo OCD itu yg seperti yg dijelasin, saya kayaknya pengidap juga deh. Yg maunya ngerapihin aja itu. Gak tenang saya kalo gak rapi. Yang ngecek2 itu juga pernah ngerasain sih. Tapi udah nggak terlalu skrg.

    Yang ttg ngeberesin dan gak tenang liat sesuatu yg berantakan itu gimana nguranginnya. Udah nuoba ngeberantakin kamar sendiri biar makin kreatif (org kreatif katanya kamarnya bernayakan) selama beberapa hari, malah keganggu banget dan ngerasa capek terus. Jadi diberesin aja. Aku gatau ini dibikang gangguan atau boleh dibilang kesyukuran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalian kenapa OCD nye ke arah om dedy semua sih? X')

      SAMAAAA, HAW. *TOSSSS*

      pernah nyoba mberantakin kamar juga tapi malah cranky dan bete mau nggak mau ngerjain apa-apa. OCD emang racun banget lah. tp aku juga bersyukur malah jd aware sama apapun yg ada di sekitarku.

      Delete
  5. Ane yang mana ya? Bingung juga.. Simetris bukan.. Tapi aturan yang berlaku untuk penempatan barang gak bisa diganggu gugat.. Harus nyaman di mata ane..

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.