Ilustrasi saya saat mengajar
Berbicara tentang pekerjaan, saya pernah menuliskan beberapa daftar cita-cita saya sedari kecil hingga beranjak dewasa di postingan terdahulu yang berjudul Metamorfosa Cita-cita. Dari yang tadinya ingin menjadi pilot, sampai akhirnya ingin jadi ibu rumah tangga saja. Beres-beres rumah. Nyalon. Makan. Ngurus anak. Ngeladenin suami sampai pingsan. Kelar urusan. Namun ternyata salah satu cita-cita dalam daftar di postingan tersebut kesampaian juga sekarang.

Dua tahun yang lalu, saat pertama kali mencoba profesi ini, saya ogah-ogahan karena kuliahnya juga atas dasar terpaksa (pada mulanya). Jurusan yang merupakan pilihan ke sekian-sekian-sekian ini sama sekali tak terbayangkan sebelumnya. GURU. Nggak masuk akal untuk identitas saya yang "petakilan" ini. Uh.


Menjadi guru sama sekali tidak pernah ada pada daftar keinginan saya di dalam hidup. Selama sekolah, saya selalu dipenuhi obsesi untuk kuliah di jurusan teknik, teknik, dan teknik. Tepatnya teknik informatika. Saya suka mempelajari bahasa pemrograman. Cobol, C++, Pascal, Phyton, CSS, MySQL pernah menjadi teman begadang sehari-hari. Bisa menjadi programmer handal dan bekerja di Google adalah impian saya... Dulu. Sebelum negara api menyerang.

Jeng jeng jeng
Tapi takdir selalu bisa mengarahkan manusia pada roda kehidupan yang serba misterius. Tsaaah.

Saya adalah warga kota tahu di Jawa Timur. Kalau kalian pernah tahu tentang Kampung Inggris, ya, rumah saya di sekitaran situ. Lulus SMA tahun 2012, saya memiliki kesempatan untuk mengikuti jalur SNMPTN Undangan (namanya masih itu kalau nggak salah). Saya mengambil jurusan paling prestis tersebut di perguruan tinggi teknik negeri ternama di Kota Kembang. Namun ternyata... Saya gagal. Pedih. Waktu serasa berhenti berputar. 

Belum berhenti, saya mencoba lagi di SNMPTN TULIS. Waktu itu saya tidak memiliki opsi kedua selain jurusan dan kampus tersebut. Sampai akhirnya... Ilham datang dari ibunda ratu. Ibu yang seorang guru, memberikan usul agar saya mengambil pilihan kedua di jurusan keguruan. Karena saya tidak menyukai pelajaran Biologi (kecuali materi Reproduksi yang tidak pernah ada praktiknya) dan benci menghafalkan tabel periodik unsur, akhirnya pilihan mengerucut pada dua hal. Matematika dan Fisika.

Ilustrasi mengajar bab Reproduksi
Dan entah angin apa, saya menjatuhkan pilihan pada Fisika. Kalau boleh jujur sih, itu adalah hasil hitung kancing dengan gebetan di sebuah kedai makan usai pulang sekolah. Muehehe.

Dan lagi-lagi... Takdir mengarahkan lagi pada pilihan paling absurd yang akan saya tempuh. Kota budaya di Jawa Tengah.

Teman (sebut saja Bunga): May, kok kamu milih universitas di sono sih? Kenapa nggak kotanya masmu? Atau ibukota Jawa Timur aja?

Saya: Ibuku lebih suka kota ini. Kalau di kotanya masku, ibu takut aku belok mangkal di Songgoriti. Kalau di kota pahlawan, aku takut kecantol jadi germo di gang Dolly.

Yep, jaman dulu Dolly masih terbuka lebar untuk umum. Dan saya mengakui, bahwa saya termasuk orang dengan jiwa bisnis yang tinggi. Hahahahahahaha.

Akhirnya saat malam sebelum pengumuman hasil tes, ibunda ratu menghampiri saya yang sedang duduk di depan rumah sambil main catur sendirian. Ya, sendirian. Kadang saya sebegitu absurd karena lebih suka bermain sendirian daripada bersama tema.

Ibunda ratu: May, kok ibu mimpi belanja di PGS sama Klewer ya. *sambil senyum-senyum centil* 

Lah... Firasat emak kok udah muncul duluan, ya. Saya semakin was-was.

Saya: Kemarin aku mimpi naik kereta Kahuripan, bu. *saya menyahut sambil menggerakkan pion catur seenak jidat*

Ibunda ratu: Ah, masa? Tapi mimpi orangtua biasanya mujarab, lho.

Aduuuh... Makin nggak enak aja perasaan saya waktu itu. Apalagi detik-detik pengumuman semakin dekat.

Usai pukul yang ditentukan, saya dan ibu masuk ke dalam rumah. Ibu membiarkan saya sendirian dulu saat mengakses website pengumuman tersebut (yang sialnya susah sekali dibuka).

Disitulah saya menyadari bahwa sebesar-besar keinginan manusia, masih lebih besar kuasa Tuhan. Dan... Voilaaaaa...

Saya diterima di pilihan jurusan nomor dua. Pendidikan Fisika di universitas negeri deket Pasar Klewer. Fix. Respon saya saat itu adalah galau akut.

I didn't know anything about this campus or even this city!!!


Saya memberitahu ibu, ayah, adik, dan kakak dengan ekspresi tanpa definisi. Hambar. Sedih enggak, seneng enggak. Satu-satunya yang ada di pikiran saya kala itu adalah ingin segera pagi agar bisa berlari membeli peta kota Surakarta di Gramedia.

--- [] ---

Saya melakukan daftar ulang di kampus tersebut saat bulan puasa dengan bekal peta di tangan. Semua masih seperti imajinasi. Naik bis dengan kecepatan gila seperti roller coaster tanpa minum sama sekali. Sumber Kencono. Dulu namanya masih ini. Sekarang sudah berganti menjadi dua nama berbeda. Sumber Selamet dan Sugeng Rahayu.

Roller coaster jalanan Surabaya - Yogyakarta
Usai melakukan serangkaian on desk registrasi, saya duduk di gazebo dengan membawa jas almamater. Masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki, yang sekarang menjadi teman akrab saya, duduk di samping dan mengajak berkenalan.

Pram: Saka ngendi, mbake? *mengulurkan tangan kanan*

Saat pertama mendengarnya, jujur saya bingung mau menjawab apa. Bahasa jawa yang dia gunakan aneh.

Saya: Jawa Timur, mas. *membalas uluran tangannya*

Pram: Oh, provinsi sebelah. Anu, inyong Pram saka Kebumen. Mbake asmanya sapa?

Oh, Tuhan... Cobaan apa yang Engkau kirimkan pada Hamba?

Saya sama sekali nggak ngerti dia ngomong apa. Karena detik itu saya belum tahu bahwa ada bahasa jawa ngapak yang digunakan orang pesisir Jawa selatan. Selain asing, dia ngomong cepet banget seperti tanpa titik koma. Kalau ada hal yang bisa diijabah oleh Tuhan detik itu juga, saya ingin ada subtitle di bawah mukanya saat si Pram ngomong.

Alhasil, obrolan setelahnya hanyalah Pram yang ngobrol ini itu, dan saya yang berusaha mati-matian mencerna kata-katanya.

--- [] ---

Setelah semua mahasiswa melakukan registrasi, kami dipandu untuk menuju ke arah jurusan masing-masing yang telah disediakan. Disana ada kakak tingkat yang sudah menunggu dengan senyuman.

Doa saya kala itu adalah... Jangan sampai jajaran kakak tingkat itu ngomongnya sama seperti Pram. Saya bisa mokel (membatalkan puasa) di tempat dengan minum air kran.

Mokel air kran
Kakak tingkat: Hello, ini dengan dek siapa? *ia seorang kakak tingkat perempuan yang namanya... sebut saja Kamboja*

Fiuuuh... Syukurlah. Bukan satu spesies dengan Pram.

Saya: Mayang, Kak. 

Kak Kamboja: Oke, Dek Mayang. Selamat datang di Pendidikan Fisika. Semoga kamu bisa menjadi calon guru yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa.*tersenyum sangat hangat*

Apa?

Calon guru yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa?

Hahahahaha.

Hahahaha.

Hahaha.

Haha.

Ha.

Dalam hati, saya semakin meronta. Mencerdaskan diri sendiri aja masih belum becus, apalagi mencerdaskan anak bangsa. Di titik itulah... Saya merasa hina.

Jadi guru?

Sama sekali tidak ada bayangan barang sekelebatpun di pikiran saya.

--- [] ---

Beberapa tahun berlalu, saya mulai bisa beradaptasi dengan ritme jurusan kuliah saya. Padahal di tahun 2013, saya yang sempat ikut tes penerimaan mahasiswa baru lagi di mantan kampus impian. Namun lagi-lagi tidak berhasil. Dan akhirnya pasrah menjalani hari-hari disini. Sampai pada titik saya menemukan sebuah buku yang cukup vital. Bukan tentang alat vital. Tapi vital untuk direnungkan. Judulnya adalah "Dua Belas Pasang Mata". Karya Sakae Tsuboi.

Buku yang cukup menohok
Menceritakan kebesaran hati seorang guru muda dalam mendidik dua belas muridnya yang punya karakter berbeda-beda. Padahal kala itu Jepang sedang krisis peperangan. Secara plot, novel ini berakhir cukup pedih dengan adanya ending sedikit menggantung di akhir cerita. Dan setelah membaca buku ini, semua pikiran-pikiran negatif saya tentang profesi guru pun sirna. Seperti hilang dan mengelupas. Macem kulit ular gitulah. Berganti dengan stigma baru yang positif.

Dari semua kejadian selama saya kuliah hingga mulai praktik di sekolah kala itu, membuka hati saya untuk mendalam profesi mulia ini. Sekali lagi. Dari situlah saya bisa memetik sebuah pembelajaran penting dalam tahapan hidup yang penuh liku-liku seperti jalan makadam.

1. Kalau tidak ada guru, siapa yang bisa mencerdaskan anak bangsa? Awkarin? Enggak kan? Kalau yang mendidik Awkarin, dijamin anak Indonesia profesinya jadi artis endorse-an semua.

2. Kalau semua orang ingin jadi dokter, pilot, dan profesi-profesi lain yang "dipandang prestis", lalu siapa yang akan mendidik mereka? Apakah mereka lahir prucut langsung jadi pilot? Enggak kan? Mustahil. Anak-anak harus berproses lewat bimbingan seorang guru.

3. Menurut ajaran semua agama, ilmu meskipun hanya secuil (misalnya tentang bagaimana merebus air) yang kita tularkan atau ajarkan pada orang lain, selamanya akan menjadi untaian pahala yang tiada habis-habisnya. Kalau dikaitkan dengan teori kuantum sih, ilmu tersebut seperti gelombang elektromagnetik. Energinya kontinu. Bukan diskrit. Sifatnya abadi sampai alam semesta hancur nanti.

Jadi, guru bukanlah profesi abal-abal yang bisa dijalankan sembarang orang. Jarang orang yang bisa jadi guru. Karena lewat tangannya, terbentuklah anak dengan banyak profesi di kemudian hari. Gitu. Udah keren belum kata-kata mutiaranya?

Tapi sekali lagi, nggak semua orang berpikiran begini. Masih banyak orang yang masuk jurusan keguruan dan menggerutu di awal seperti sosok saya dulu. Sehingga masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal dalam hati.

Mengapa jurusan kuliah keguruan selalu dipandang sebelah mata? Saya nggak tahu.

Mengapa jurusan kuliah keguruan selalu menjadi opsi pilihan terakhir mayoritas manusia? Saya pun nggak tahu.

Namun apapun alasannya, saya udah nggak mau tahu. Yang penting, sekarang saya akan berusaha lebih baik lagi dalam mendidik dan membelajarkan murid-murid saya tentang fenomena Fisika yang mendasari semua kejadian di alam semesta.

Karena... Kapan lagi mereka punya guru Fisika yang kece, cantik, dan asyik seperti saya?

*narsis dikit boleh kan*

*kemudian ditampol netijen*





Pictures are taken from:
http://aminoapps.com/web/x3/blog/d2bc4e61-9c18-4ed8-a095-54b5faa9a7fa
https://www.goodreads.com/book/show/7774488-totto-chan-s-children
https://www.goodreads.com/book/show/5259548-dua-belas-pasang-mata
https://me.me/t/oed?since=1455069116%2C784428%2C1.000000
http://ayonaikbis.com/po-sugeng-rahayu/1760

18 Comments

  1. Paragraf terakhirnya langsung membuyarkan kalimat yang tadinya udah gue susun buat komentar. XD

    Iya, kebanyakan jurusan itu cuma biar tetep bisa kuliah di universitas yang orang itu mau. Misal pengin Ekonomi, tapi gak dapet. Akhirnya masuk yang Pendidikan Ekonomi. Hehe.

    Gue nggak pengin jadi guru entah kenapa. Mungkin karena nggak suka menggurui juga. Ya, meskipun gak semua guru itu cara ngajarnya dengan menggurui. Udah banyak guru yang mengajar pakai teknik bercerita hoho.

    Semoga sekarang udah gak ngeluh lagi jadi guru, May~

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHA. narsis dikit lah sekalian promosi diri X)

      on point banget nih, biasanya kalau jurusan murninya nggak kena, banting setir ke pendidikannya. tapi aku sendiri lebih jauh. dari IT ke pendidikan lho, Yogs :v

      aamiin. alhamdulillah udah enggak, udah sadar diri :')

      Delete
  2. Hahaha... iya dah iyaaa.. muridnya harua penuh syukur inicdapat guru begini. XD

    Eh tapi, May... di sini jurusan keguruan jadi paling favorit loh. Mahasiswa keguruan prodi apa pun terlihat necis dan lebih dihormati. Entah kenapa. Mungkin karena sebagian besar wilayah sini masih kampung kali yak. Dan di kampung itu gelar guru sangat dihormati. Jadi gak ada yg ngerendahkan.

    Org kota suka ngeledekin biasanya, gaperlu pinter, entar jatohnya jadi guru. Mending jd bodoh aja. Bisa jadi direktur. Lah, kalo misal org yg pinter itu milih berbisnis aja, gimana generasi selanjutnya? Mau tukeran gitu? Yang pinter jadi bisnisman, dan yg bodoh jadi guru aja?

    Untuk itu, pekerjaanmu mulia itu, May. Berat pasti jalannya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus dong. sini balik SMA biar bisa diajar guru kece, Haw :p

      enak bener ya. di jawa mah profesi guru agak dipandang remeh. apalagi kalau udah masuk jadi guru honorer di sekolah. beh. diberdayakan pagi siang sm guru yang udah PNS. di rumah jadi omongan tetangga yg katanya sekolah tinggi-tinggi cuma dpt gaji rendahan *curhat dikit*.

      iya berat nih, seberat kisah cintamu yaaa :')

      Delete
    2. ahahaha... iyakali jaid murid, adain seminar nasional gih, biar bisa daptar~

      woiiii... jgn bawa2 kisah cinta saya. Kisah cinta saya mah cetek..

      Delete
    3. Kalau seminar nasional yg ngisi eyke, pasti rame deh, Haw. Rame yg nolak. Hahahahaha

      Gapapa cetek, daripada dalem tapi ditinggal nikah.

      Delete
  3. Duuuh Bu Guru Mayang yang cantiks~ Baca ini, aku jadi sangat sangat sangat percaya kalau kamu memang petakilan, May. HUAHAHHAHAHAHAHA.

    Pengalaman menuju dunia perkuliahannya seru banget anjer. Segala bawa-bawa Gang Dolly. Hahahaha. Percakapan sama ibunda ratunya bikin ngakak. Setuju tuh, firasat Ibu memang tokcer~

    Ini jadi ngingatin aku sama Nanda, adikku. Dia anak Pendidikan Bahasa Inggris. Sampe sekarang, pas udah KKN dan jadi guru bantu-bantu (gak tiap hari ngajar itu apa dah namanya?) di salah satu madrasah di Samarinda, dia masih aja koar-koar sebenarnya jadi guru itu bukan jalannya. Huufh. Padahal bener kata kamu kan, jadi guru itu berpahala yang nggak putus-putus. Bangga dan salut deh sama orang yang (akhirnya) sadar kalau jadi guru itu keren. :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Petakilan doang. Belom mesum. Ajarin mesum dikit dong, cha :'( Kalau sama yoga langsung gak enak. Takut malah dikasih es krim.

      Nanda suruh baca tulisan gak penting ini deh, cha. Dijamin tokcer.

      Delete
  4. memang sudah jalannya untuk jadi guru iya.

    kayaknya semua jurusan sama deh, dianggap sebelah mata sama orang awam. waktu ak kuliah dulu ambil jurusan ekonomi, sering dibilang, kok mau sih ngambil jurusan Sejuta Umat. tapi iya itu emang sudah jalannya. tinggal kita aja yang nentuin.

    tetap semangat iya jadi gurunya, biar bisa mencerdaskan bangsa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener, harus disyukuri! :)

      iya, kayaknya kok ada mulu kurangnya ya. Sedih kan. Manusia emang bisanya nyinyir. Kalau disuruh menjalani susah juga.

      makasih semangatnya :D

      Delete
  5. Tahun ini diriku jadi anak pendidikan. Wah, merasa terwakilkan dengan baca postingan ini. Kecuali pilihan-pilihan jurusan itu, aku pilihan pertama dong! Hehehe. Godaan untuk masuk teknik nggak menggoyahkanku karena sadar diri lemah di fisika. :')

    Waktu SMA juga pernah dipandang sebelah mata. Dibilang nggak pantes jadi guru lah karena receh anaknya, atau dibilang suruh masuk sastra aja karena... ngeblog. Kids jaman now suka gitu deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. KECE! Pilihan pertama cuy, aku salut! :')

      Hahahaha, gara-gara suka ngeblog disuruh masuk sastra ya. Tapi nyambung juga, Rob. Tapi lagi, suka ngeblog gak harus masuk sastra kan. Karena ngeblog bisa berasal dari semua kejadian sehari-hari. Tsah. Kayak orang bermartabat aja aku ngomong begini.

      Delete
    2. /pokoknya ngakak hampir guling2 gara2 komentar dek Robi/

      Delete
  6. beneh tuh mba, walaupun cuma sedikit yang dibagikan tapi bagi orang berharga banget

    ReplyDelete
  7. Kampung Inggris Pare ya? Eh, itu Pram, hehe, saya sering ke Gombong, jadi akrab dengan logatnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kampung inggris pare. Gombong kan masuk Kebumen, pasti sama logatnya. Ehe :v

      Delete
  8. Kakek, nenek, nenek, tante, oom, ibu, bapak, tetangga....semuanya guru. Jadi gue besar d lingkungan keguruan.

    And that's make me, 'GUE GAK MAU JADI GURUUU INI BAGAIKAN KUTUKAN'.

    Halah.

    Tapi habis itu gue sadar. Gue pingin jadi guru, agar bisa menghegemoni pikiran anak muda jaman now biar kece kayak jaman gue. Halah.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.