Kiwipages

Thursday, September 7, 2017

Baca Buku Bikin Tetanus! Kok Bisa?

Comfort Zone to Read a Book

BREAKING NEWS!

Penelitian terakhir di salah satu universitas di Amerika, telah dirilis bahwa membaca buku terus-menerus sambil kayang bisa bikin kita tetanus. Kok bisa? Apanya sih yang kena tetanus?

Matanya? Itu minus...

Pipinya? Itu tirus...

Ah elah, buntut rawit.

Jadi gini...


Kalau kalian telanjur membuka link artikel ini, selamat! Kalian telah terjebak dalam click bait abal-abal ala saya agar mau membaca sampai habis. HAHAHAHAHA! :v

Baiklah...

Berbicara tentang buku, saya jadi teringat tentang masa kecil saya di pertengahan tahun 90-an. Pertama kali saya mengenal buku adalah saat saya berumur kurang lebih 3 tahun. Masih balita? Iya, memang. Masih terlalu ingusan dalam membaca buku tentang romansa anak muda yang bisa berubah menjadi werewolf.

Setiap hari Minggu, saya selalu mengamati bahwa kakak laki-laki saya (sebut saja namanya Mas Bambang), selalu diapeli oleh bapak-bapak dengan senyum hiper sumringah yang nggak pernah nyantai. Motornya klasik berwarna biru (karena ditempelin skotlet) ala-ala Pak Pos. Bapak-bapak kelewat ramah itu selalu menyodorkan seonggok jilidan kertas yang olehnya disebut sebagai MAJALAH. Kalau sudah begitu, Mas Bambang akan segera lari ke dalam rumah dan membacanya sambil tiduran. Kadang-kadang, Mas Bambang bisa senyum-senyum anjay dan tertawa kencang-kencang saat membalik halaman demi halaman majalah yang bertitel BOBO itu.

Majalah Bobo
Beberapa waktu berlalu, bapak-bapak ramah yang biasanya datang di hari Minggu memberikan dua majalah pada Mas Bambang. Ternyata, ia meminta untuk berlangganan majalah satu lagi selain BOBO. Namanya majalah MENTARI. Panjangnya adalah MENTARI PUTERA HARAPAN.

Majalah Mentari
Alhasil, waktu membaca majalah Mas Bambang pun tambah panjang. Sampai-sampai saya dianggurin dan nggak pernah diajak bermain lagi. Huh. Kezel.

Kalau sudah begitu, saya yang belum bisa berlari, hanya bisa berjalan tertatih dan ngeces di atas majalahnya. Berharap agar saya dinotis. Namun lagi-lagi, Mas Bambang cuek dan menggelincirkan diri ke spot lain. Pernah nih, saat dia risih, dia lari ke kebon belakang dekat MCK untuk membaca disana. Di atas gundukan batako. Masih asyik dengan bacaannya.

Akhirnya saya memutuskan, saya harus bisa membaca seperti Mas Bambang agar bisa diperhatikan lagi olehnya. Maka dimulailah perjalanan saya dalam mendalami dunia perbukuan menuju ke arah barat.

Saya belajar abjad, kalimat, paragraf, angka, warna, dan lain sebagainya supaya bisa membaca majalah Bobo dan Mentari itu. Saat berusia 4 tahun, saya didaftarkan ibu ke TK di dekat rumah. Disana, saya menjadi murid (yang katanya) superior karena sudah memiliki bekal membaca dan berhitung melebihi teman-teman saya. Semua buku cerita fabel, saya lahap sampai habis. Keren kan.

Saya pun selalu membaca majalah miliki Mas Bambang. Bahkan kadang sampai berebut dan majalahnya robek karena tidak ada yang mau mengalah. Rubrik yang kala itu amat saya sukai adalah "Cerpen", "Puisi", dan "Pengalaman Kocak". Kalau komiknya, saya sangat suka dengan "Bona", "Hamindalid", dan "Puteri Nirmala". 

Puteri Nirmala
Suasana semakin runyam saat adik saya, sebut saja Marni, lahir ke dunia. Saya akhirnya tahu apa yang dulu dirasakan Mas Bambang saat saya mengganggunya membaca majalah atau buku. Si Marni ini, kalau dicuekin karena kita asyik membaca buku, akan sangat marah dan menjadi buas tak terkendali. Bukan lagi ngeces di atas majalah seperti masa kecil saya dulu, Marni justru menyerang kakak-kakaknya dengan gigitan vampirnya yang membekas di tangan atau leher. Kalau di bahasa Jawa, istilahnya "mbrakot" (mbrakot = menggigit pakai gigi dengan tekanan kuat).

Ilustrasi "Mbrakot"
Menyadari bahwa ketiga anaknya seringkali melakukan pertumpahan darah (dan liur) karena berebut majalah, akhirnya orangtua saya mencari alternatif lain. Mereka mengalah dan merogoh kocek untuk membeli buku-buku (apapun) demi memuaskan hasrat anak-anaknya.

Salah satu ruangan rumah yang longgar dibelikan tiga rak buku besar-besar yang menjulang tinggi hampir dua setengah meter. Semua diisi buku. Entah buku pelajaran ibu dan bapak, entah majalah Bobo dan Mentari kami, majalah Penebar Semangat bapak, tabloid gosip dan masak-masak ibuk, koran apapun, buku dongeng, ensiklopedi, novel, komik, dan lain sebagainya. Semua disusun jadi satu di ruangan tersebut.

Setiap siang usai pulang sekolah, Mas Bambang, saya, dan Marni selalu gegoleran nggak jelas sambil bernafas di ruang tersebut. Semua memegang buku bacaan. Kadang Marni sambil mewarnai buku Matematika bapak dengan digambari belalai dan sebagainya. Memang adik saya ini kadang lepas kontrol imajinasinya. Maklumilah.

Dan kebiasaan itu terus menerus terbawa hingga kami bertiga dewasa. Mas Bambang yang kini telah berkeluarga selalu menyisihkan gajinya untuk membeli buku, minimal 1 setiap bulan, sejak jaman SMP. Favoritnya adalah cerita detektif macam Agatha Christie dan Sherlock Holmes. Marni juga. Dia adalah fans garis kerasnya Bernard Batubara. Hampir semua buku Bara ia beli dan harus ada tanda tangan penulisnya. Ikut pre-order nggak pernah ketinggalan.

Kalau saya sendiri terbuka dengan segala genre buku. Novel horror, romance, teenlit, detective, petualangan, dan lain-lainnya, saya suka. Komik slice of life, perang, kolosal, cinta-cintaan, dan lain-lainnya, saya suka semua.

Buku pertama yang saya beli dengan uang saya sendiri saat masih SMP adalah Komik Doraemon volume 1. Lalu Shincan dan Detektif Conan. Sampai sekarang saya masih menyimpan koleksinya di rumah untuk dibaca-baca lagi. Meskipun udah jarang beli sih sekarang, karena ada aplikasi baca manga gratisan di web. Ehehe.

Doraemon
Untuk novel, saya pertama kali membeli novel teenlit karya Maria Jaclyn. Judulnya De Buron. Menceritakan gadis remaja yang tiba-tiba kedatangan seorang laki-laki buronan polisi. Sebenarnya alasan membeli novel ini adalah karena harganya murah *jujur-jujur aja sih*. Saya sangat mengidamkan novel Harry Potter series saat SMP dulu, namun apa daya hanya bisa minjem temen karena uang jajan pas-pasan. 

De Buron
Membaca buku, entah mengapa ya, sensasinya luar bisa intim bagi saya. Banyak teman yang akhirnya menjuluki saya "si kutu busuk" karena bisa mendekam berjam-jam tanpa makan dan mandi di:

1. Ruangan buku di rumah

2. Perpustakaan sekolah

3. Toko buku

Mereka semua nggak pernah tahan kalau menemani saya pergi ke toko buku karena saya baru beranjak sementara saat pipis atau beribadah, dan benar-benar pulang saat gelap atau tokonya tutup. Kadang kalau sedang bokek, saya hanya membaca satu atau dua novel sampai selesai dan pulang begitu saja. Sampai bapak-bapak satpam dan mbak-mbak kasir yang keliling ganti shift. Mungkin juga banyak dari mereka yang menjuluki saya sakit jiwa karena kecanduan buku.

Dulu, saat buku masih di era jaya-jayanya, saya masih punya teman bertukar pendapat di sekolah. Pernah saya bikin project fanfiction-nya Lord of The Ring dengan teman karib saat SMP. Namun makin kesini, minat baca orang-orang di sekitar saya mulai menurun. Nggak semua sih, tapi sebagian. Dan itu signifikan. Kapan dulu saya sempat membaca berita disini bahwa minat baca di Indonesia termasuk rendah. Sedih nggak?


Bahkan di pertengahan tahun 2016 lalu, saya sempat membaca ada berita tutupnya toko buku legendaris di kota Bandung. Reading Lights. Sedih sih. Karena toko buku tersebut sudah masuk daftar incaran saya kalau suatu saat ingin main ke Bandung. Tutupnya Reading Lights sendiri karena adanya kerugian pengelola yang sudah cukup besar. Orang-orang hanya datang untuk numpang wifi berjam-jam, baca gratis, tanpa membeli koleksi buku yang sebenarnya ajib-ajib. Buku dalam negeri, ada. Buku luar negeri berbagai bahasa, ada. Tapi rupanya orang lebih suka membaca status dan perang komentar di sosial media daripada ilmu pengetahuan dan nilai hidup yang disajikan oleh buku. Hiks :'(

RIP Reading Lights
Padahal nih, ya. Buku adalah surga dunia. Saya nggak paham kenapa orang masih mengesampingkan buku dari kebutuhan primer manusia. Kenapa kebutuhan utama manusia hanya "sandang, pangan, dan papan"? Kenapa akhir-akhir ini malah nambahnya jadi "sandang, pangan, papan, kuota tambahan, dan colokan"? Kenapa, Ya Tuhan? KENAPAAAAA...???

Dunia sungguh tidak adil pada buku...

Menurut saya pribadi, ada 5 alasan mengapa buku harus masuk ke dalam daftar kebutuhan primer manusia. Setidak-tidaknya, mereka harus menggeser posisi keempat dan kelima yang dihuni kuota tambahan dan colokan. HARUS!

Alasannya adalah:

1. BUKU ITU NAGIH KAYAK MORFIN



Sekali udah suka baca buku, kalian akan terus dihantui rasa ingin dan ingin dan ingin lagi untuk membacanya. Apalagi yang sifatnya series. Bisa gila kalau kita tidak tahu kelanjutannya. Serius deh! Makanya, orang-orang yang tergila-gila dengan buku, akan melakukan segala cara agar bacaannya tidak berhenti begitu saja. Istilah kerennya sih, "ABIBLIOPHOBIA". A fear of running out of books. Kalau sudah begini, orang bisa minjem, beli, menyewa, barter, ikut lomba berhadiah buku, dan sebagainya agar bisa tetap membaca buku. Apalagi kalau bukunya adalah incaran sedari lama.

Buku juga bisa nagih kayak morfin. Bikin kita kalap kalau ada diskonan atau year end sale karena biasanya harga buku dibandrol amat miring di event-event kayak gini. Kadang nih, ada beberapa teman yang juga penggemar buku bilang bahwa, "Gue nggak pengen-pengen banget sih sebenernya. Bahkan kayaknya itu buku-buku yang gue beli nggak bakal gue baca. Cuma gemes aja soalnya murah, covernya bagus, dan ringkasan belakangnya menarik."

Sama. Saya juga gitu. Gemas pingin borong banyak banget, tapi ujung-ujungnya ada beberapa yang nggak jadi saya baca karena malas atau bosan di tengah jalan. Istilah untuk orang yang ketagihan koleksi buku kayak gini biasa disebut "BIBLIOMANIAC".

2. BUKU ADALAH HARTA YANG BERHARGA


Alasan ini nggak salah sama sekali. Buktinya, banyak orang yang rela membeli buku sama dua kali atau tiga kali hanya karena covernya berbeda. Atau mungkin karena buku tersebut dicetak dengan cover baru. Hard cover misalnya. Kalau orangnya bersifat "BIBLIOPHILE" kayak saya, bahkan mungkin rela menabung dan diet berhari-hari hanya untuk mengejar edisi spesial sebuah buku. Meskipun saya udah punya versi lamanya.

Saking berharganya, orang yang sudah memahami bahwa buku itu penting dan sayang banget dengan bukunya, akan cenderung melindungi buku-bukunya dari pinjaman monster buku (sering disebut dengan "BIBLIOGNOST"). Monster buku sendiri adalah istilah gaul untuk seseorang yang tidak menghargai buku. Cirinya adalah: menandai last reading dengan lipatan di pojok, sengaja atau tanpa sengaja mengotori buku dengan makanan dan minuman, serta meniduri buku sampai bukunya kucel.

3. AROMA BUKU YANG SENIKMAT KOPI


Apakah kalian juga termasuk yang menyukai bau buku baru? Apalagi buku yang baru diperawani segelnya? Ajib. Baunya benar-benar tiada dua. Aroma kopi pagi hari aja sampai kalah. Candu banget deh pokoknya aroma buku baru tuh! Bikin sakaw :v

Aroma buku lama (asalkan yang nggak berdebu), juga punya sensasi tersendiri kalau dihirup. Yah, semacam orang yang suka aroma asap vape, "BIBLIOSMIA" adalah istilah untuk orang yang menyukai bau buku. Entah baru, ataupun lama. Sampai-sampai, ada beberapa brand parfum yang meracik aroma buku menjadi sebuah wewangian. Canggih.


4. BUKU ADALAH SEBUAH KARYA SENI



Orang-orang yang tahu bahwa buku adalah sebuah seni yang hidup sering diistilahkan dengan "BIBLIOARTY". Buku bisa membawa kita kemana pun yang kita inginkan, berimajinasi seolah berada di latar cerita yang sama, dan bahkan role playing menjadi karakter di dalamnya. Gokil kan. Bahkan sampai ada pepatah yang mengatakan bahwa, "Sebuah buku yang dibaca oleh seratus orang, maka telah menjadi seratus buku yang baru."

Nggak heran kalau ada sebagian kolektor buku yang memang sengaja membeli rak mewah dan mahal untuk menyimpan buku-bukunya agar tidak tercoreng suatu cacat pun ke depannya. Bahkan beberapa konsep perpustakaan rumah dan umum, dibuat secantik dan sekreatif mungkin, agar orang yang membaca atau sekadar melihatnya bisa timbul rasa kagum.

5. BUKU MENYIRATKAN SEBUAH PEMBELAJARAN


Apakah buku menyiratkan sebuah pembelajaran? Jelas. Sejelek-jeleknya isi buku, ia mewakili hasil pikiran, pengalaman, dan imajinasi penulisnya. Kadang orang ada yang begitu memaknai isi buku hingga baper berhari-hari. Ini penting sih. Karena nggak setiap orang bisa mendapatkan hidayah lewat buku. Saya pernah tahu, ada seorang teman yang berubah total setelah membaca buku karya Iwan Setyawan yang berjudul "Ibuk". Tadinya ia selalu mengeluh malas saat dihubungi orangtuanya, ogah-ogahan pulang kampung, dan sedikit membangkang. Tapi setelah membaca novel tersebut, ia menangis tersedu-sedu dan akhirnya pulang ke rumah selama beberapa hari (dia bolos kuliah btw). Saya bersyukur karena rupanya ia telah merubah sikapnya terhadap keluarganya. Ini mengharukan banget. Sumpah.

Nah, dari 5 alasan tersebut, masa iya buku harus tetap di-nomorsekian-kan? Apa iya minat baca buku Indonesia masih mengenaskan? Belum terlambat kok, untuk menggalakkan kampanye baca buku. Sayang lho, kalau seumur hidup tidak pernah menuntaskan satu buku pun dan hanya menghabiskan waktu untuk bermain internet.

Sebelum menutup tulisan kali ini, saya ingin menyisipkan sebaris dua baris puisi tentang buku. Bacanya boleh dalam hati, boleh sambil deklamasi. Bebas!

"Buku Kemana Saja"

Melihatmu, seperti membuka lipatan buku
Satu demi satu
Lembar demi lembar
Bab demi bab
Hingga tuntas dan mendapatkan sensasi unik setelahnya
Entah tertawa terpingkal-pingkal tanpa jengkal
Entah menangis miris berteman tissue tipis-tipis

Mendengarmu, seperti membaca cerita novel
Terkadang maju
Seringnya mundur
Atau pernah pula maju mundur
Hingga habis emosiku dan merenung setelahnya
Entah terbawa mimpi tanpa tepi
Entah terlupakan tanpa kesan

Mengenangmu, seperti menulis resensi kisah
Awalnya bisa bahagia
Dan akhirnya berubah tanpa arah
Meskipun demikian
Setiap kisah pasti mengandung kasih
Setiap prolog dilengkapi epilog
Walaupun ada beberapa penulis usil
Memberikan plot hole bertubi dengan sengaja
Atau menyisakan cliffhanger penuh tanda tanya
Lucunya, kita digiring untuk menentukan endingnya
Secara mandiri, sesuai imajinasi

Menulis tentangmu
Ternyata bisa jadi sebuah buku
Meskipun belum ada akhirnya
Aku mengharap ujung cerita yang bahagia

< MDT - 28 08 17 >

Credit:

Sorry, kalau nggak nyambung dan malah terkesan baper :v

Tulisan ini sebenarnya adalah salah satu draft blog yang sudah lama terbengkalai (tapi dengan judul berbeda, saya ubah biar masuk akal untuk diikutkan di event). Saya yang memang memiliki obsesi tidak sehat terhadap buku, ingin menuangkan barisan kata-kata hiperbola yang berupa kesan dan pesan saya tentang buku. Iya, buku. Di draft blog sih tertanggal 20 Maret 2014. Njir, hampir 3 tahun rupanya, ya. Muehe :v

Ucapan terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seorang dedek emesh yang baru saja menapaki jenjang hidupnya di dunia perkuliahan dan pahit manisnya kelaparan di kos-kosan. Tanpa adanya ajakan untuk menulis artikel bertema "Aku dan Buku", maka tulisan ini tak akan pernah lahir dan tak akan pernah saya lanjutkan dari draft blog sampai tua nanti (mungkin). 


NB (Nambah Bicara):

Teruntuk Robby, 

BIG THANKS POKOKNYA!

Karena sudah merangsang saya sehingga T E R P E L A T U Q U E untuk menulis artikel sepanjang jalan Anyer ke Panarukan ini. Jangan diskip meskipun tulisannya kepanjangan. Oke? Saya nggak berharap menang kok. Namuuun... Kalau memang kamu memaksa, saya bisa apa? Ehe.

Betewe, kalian mau ikutan juga ngerusuhin mini event-nya ROBBY HARYANTO? Cek blognya, kuy! Nggak digembok kok. Dijamin 100% trusted. Onderdil masih orisinil sampai 11 September 2017. Kalau kamu beruntung, kamu bisa dapet novel berjudul Tetanus karya bang Arya Novrianus yang beken lewat acara SUCI dan komik religiusnya. Kamu juga bisa mendapatkan tiket VIP ketemu Ansel Elgort KW lima. Nah loh, kurang meriah apa coba event-nya? Sooo... Ditunggu partisipasinya disini, ya!

Sekian dan salam.





Poetry is taken from:
1. My personal poetry thread in Kaskus

References are taken from:
1. http://www.huffingtonpost.com/oliver-tearle/10-words-every-book-lover-should-know_b_5297284.html
2. https://www.kaskus.co.id/thread/58dc6e07c1cb174a4a8b4567/istilah-istilah-unik-yang-perlu-pecinta-buku-ketahui/
3. http://www.penerbitspring.com/blog/29/kenapa-sih-bau-buku-itu-enak/

Pictures are taken from:
1. https://favim.com/image/327882/
2. http://rebloggy.com/post/gif-tbbt-sheldon-cooper/42018570708
3. https://www.goodreads.com/book/show/1315744.Doraemon_Vol_01
4. http://superheromania.blogspot.co.id/2011/09/belanja-di-pandegiling.html
5. https://commerce.gramediamajalah.com/brand/detail/52/bobo-junior
6. http://www.globalindonesianvoices.com/12496/indonesian-childhood-characters/nirmala/
7. https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/novel/9zok9p-jual-novel-teenlit-de-buron-maria-jaclyn
8. http://vevmo.com/image/squirtle-chomp-ogif
9. https://www.viralviralvideos.com/2014/12/31/sheldon-cooper-big-bang-theory-sheldon-gif-2015/
10. http://annida-online.com/reading-light-konsep-homey-baca-buku-sambil-ngopi.html
11. My personal collection in Laptop

6 comments:

  1. dulu aku juga suka baca majalah BOBO kak. salam kenal ya.

    ReplyDelete
  2. panjang syekaliii....

    masa kecil saya nggak ketemu ama buku2 anak2 begitu. isinya buku pelajaran doang. ama buku yg dibawa ama abang. Buku bastian tito. masa2 sd saya juga diisi ama kisah wio sableng dalam bentuk novel. xD

    eh, kayaknya pernah ada juga sih majalah yg dibawain tapi jarang. jangankan mentari, bobo aja gapernah baca. SMP baru nemu bobo di rumah temen sekolah, itu pun gabisa dipinjem. :D

    poin ttg alasan menyukai buku itu dirasakan juga ama banyak orang yak.. apalagi aroma buku baru itu. duh. istilahnya yg saya gak akrab, bibli ini itu, saya akrabnya ama bibli dot kom doang~

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh, bastian tito. mertua aku ituuuh :)) *digampar marsha timoti*

      yah, padahal bobo itu lejen banget loh. apalagi kalau berhasil menang undian tts nya, meskipun hadiahnya gak banyak, tp seneng banget. hehe.


      aroma buku baru memang gokil XD

      Delete
  3. Baca ini teringat jaman dulu, sama tuh kaya Teh Siti. Aku punya banyak koleksi majalah bobo juga lho. Kadang kalau lagi pulang, suka bacain n liat-liat gambarnya lagi. Gak tau kenapa selalu kangen aja..hehe

    Btw, salam kenal ya, Teh Mayang, gak sengaja nih kebawa kemari..he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bobo never die ya :')

      salam kenal juga Andi Nugraha :D

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.