Surga Dunia yang HQQ
Ada beberapa tipe manusia saat berbelanja. Pertama, ada yang sudah menyiapkan list dari jauh-jauh waktu, entah di note HP, entah di secarik kertas kecil. Mereka akan menuliskan semua hal yang dibutuhkan (terkadang juga diinginkan) saat berbelanja. Selain berguna untuk memangkas waktu, note belanja juga membantu mereka agar tidak lupa-lupa mengenai barang apa yang sedang ingin dibeli.



Kedua, ada pula tipe yang langsung jalan ke toko dan berkeliling sambil mengingat-ingat mau belanja apa. Ini sebenarnya menyenangkan. Bisa sambil menimbang-nimbang kalau ada diskonan, membandingkan brand baru, dan sebagainya. Namun, tipe ini membutuhkan waktu lebih lama. Apalagi kalau pelakunya perempuan dan tokonya adalah toko baju. Apalagi kalau midnight sale. Apalagi kalau year end sale. Bisa sampai end of the world baru kelar milih bajunya.

Saya sendiri termasuk hybrid di antara keduanya. Tipe pertama berlaku kalau saya ingin belanja kebutuhan sehari-hari atau bulanan seperti sayur, buah, makanan, sabun cuci, sabun mandi, roti jepang, dan sebagainya. Langsung set-set, ambil yang murah dan yang sudah jadi brand andalan berdasarkan catatan di ponsel. Nggak lama. Baju pun gitu. Kalau sedang ingin beli blouse misalnya. Langsung ke toko, ambil yang menjadi sasaran mata untuk pertama kali. Cobain bentar. Bayar. Selesai. Nggak pernah mampir ke kanan kiri untuk lihat style yang lain. Apalagi outfit lain.

Tapi... Ini nggak berlaku saat saya sudah berada di toko buku dan stationary. Saat berada di dua tempat ini, saya akan menjelma menjadi tipe pembeli yang kedua. Beli karena ingin. Meskipun ada buku yang masuk daftar wishlist (dan tiap bulan saya rekap di binder pribadi), tapi kalau udah telanjur masuk ke dalam toko buku... Beeehhh... Rasanya nggak bisa resist!

Seakan-akan buku dan alat tulis tersebut melambai-lambai cantik...

"May, belih akuh, May... Akuh akan memuaskanmuh malam inih..."

Dan kejadian ini pun berulang dua minggu lalu. Saat itu, saya dan seorang teman sedang berjalan-jalan ke sebuah toko buku di pusat kota. Ini juga tumben-tumbenan sih, teman saya ada yang mau diajak menemani. Biasanya pada kabur semua karena jengkel dengan kelakuan saya kalau berada di toko buku.

Dalam sebuah perjalanan mengobok-obok rak satu per satu, saya menemukan buku berwarna hijau tua dengan judul "Mere Matkadevi dan 123 Karakter Lainnya". Karangan seorang penulis bernama Tulus Ciptadi Akib. Diterbitkan oleh Kompas Gramedia. Hmmm... Tulus? Kok mirip seperti nama penyanyi yang melantunkan lagu "Gajah" ya? Masa iya Tulus yang itu nyambi jadi penulis?

Namun karena saya tertarik duluan dengan warna covernya (hehe), akhirnya saya pun meraihnya dengan penuh kasih sayang. Mulai membaca ringkasan di belakangnya.

Novel Mere Matkadevi
Setelah membaca bagian belakang, saya lekas mencari yang sudah terbuka segelnya. Tapi sayangnya nggak ada. Semua segelan. Belum ada yang dikoyak tangan nakal para pelanggan. Kalau dipikir-pikir, ini buku temanya antologi. Kumpulan cerpen. Bukan novel. Clue-nya terbaca dari tambahan judulnya yaitu "123 karakter lainnya". Karena penasaran, ya udah akhirnya saya beli aja.

Sampai di kasir, teman saya hanya membawa satu buku pelajaran. Katanya sih untuk bahan mengajar. Dengan gusar, ia melirik ke arah tas belanjaan saya yang berisi lima onggok buku.

Teman: Kelakuan nggak pernah berubah. Selalu kalap kalau beli buku!

Saya: Berisik!

Teman: Ini juga apaan dah? Katanya cuma mau beli komik dua, kenapa jadi beli bukunya Tulus segala?

Saya: Emang kamu tahu kalau ini Tulus yang nyanyi itu?

Teman: Lah, yang beli situ, malah nanya. Emang bukan Tulus penyanyi?

Saya: Nggak tahu. Asal ambil aja tadi. Kok kayaknya bagus.

Teman: Apa??? Asal ambil??? *kemudian saya dicekek*

Untungnya saya masih bisa pulang dengan selamat. Sampai di kosan, saya segera mengambil posisi paling PW untuk membaca. Gegoleran di lantai dengan kaos oversized dan memakai headset untuk mendengarkan musik. Khusus untuk membaca buku, saya sudah menyiapkan playlist lagu "Buku adalah jendela dunia". Biasanya berisi musik-musik gubahan Mozart, Ryan Cohen, Kenny G, dan Kitaro yang calming-calming gimanaaa gitu.

Dengan bantuan silet, saya merobek-robek plastik wrappingnya. Dan kegiatan kedua adalah mencium bau bukunya. Seperti biasa, baunya bikin nge-fly sehingga saya merasa "high" seketika. Gokil.

Melihat covernya yang tanpa plastik...

Dari gambarnya sih seperti siluet wanita yang badannya proporsional. Tonjolannya pas. Rambutnya tergerai. Hanya berwarna hitam. Sedang duduk dengan kaki terlipat. Kesannya anggun. Hmm... Ini sih bener-bener nggak bisa ditebak isinya apa, kecuali kita membacanya. Di atas lipatan kakinya, ada bulatan putih yang berpendar seperti matahari. Disitu saya mikir. Mana bisa 124 karakter divisualkan dengan hanya satu gambar di depan? Kok sepertinya nggak nyambung.

Lanjut ke selayang pandang...

Ada paparan penulis yang mendeskripsikan bagaimana ia mendapatkan ide-ide tentang karakter yang di angkatnya. Dari pengamatan sehari-hari, katanya. Kece juga. Bisa meraba karakter orang dengan pengamatan harian. Saya pun makin terpancing untuk membuka halaman selanjutnya.

Daftar isi yang panjang sekali...

Seperti yang dijanjikan di judul dan cover, ada kurang lebih 124 karakter yang ditulis di daftar isi. Semuanya nama. Entah nama orang atau bukan. Dan nama-nama tersebut diurutkan abjad mulai dari A hingga Z.

"Gila! Udah kayak KBBI aja nih buku," pikir saya waktu itu.

Lalu mulailah saya membaca cerita yang pertama, kedua, ketiga...

Memang sih, ternyata buku ini tidak sama seperti ekspektasi awal saya yang berpikir kalau ceritanya cederung pendek. Masing-masing karakter hanya dijatah satu hingga tiga halaman. Ini sih cerita mini. Bukan cerita pendek lagi. Singkat, padat, dan jelas. Kayak langsung ke intinya gitu lah. Bukan cerpen jatuhnya. Tapi ternyata, buku ini justru mampu menghipnotis saya dengan keminimalisan masing-masing ceritanya.

Tulus, yang sampai sekarang saya nggak tahu apakah dia Tulus penyanyi atau bukan, berhasil membuat saya baper dengan lagu-lagunya tulisan-tulisannya. Ia menuliskan cerita dari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang membuat kita ternganga dan juga getir secara bersamaan selama membaca semua karakternya.

Ada Asih, yang memiliki bibir sumbing namun ingin jadi penyanyi. Ketika ia mengikuti kontes di desanya, Asih justru jadi bahan bully-bullyan. Namun akhirnya ia bisa menjajaki kesuksesan dengan ikut lomba nyanyi lipsync tingkat kota madya.

Di saat sebagian orang berdebat tentang aturan berhijab hingga menimbulkan kubu yang "menghijabi hati dulu" dan kubu yang "menghijabi diri dulu", Bilqis justru membawa angin segar dengan kepolosannya. Remaja yang baru lepas dari usia kanak-kanak itu rela memangkas rambutnya tanpa gaya sehingga amburadul. Semata agar ia malu dan mau berhijab keesokan harinya. Katanya, biar hatinya mantap karena tidak punya pilihan lain.

Budi, yang sering dikatakan kuper oleh teman-temannya, justru bisa menikmati hidup dan tertawa dengan siapa saja yang ia temui di jalan. Bukan hanya tertawa di depan laptop. Budi banyak teman, meskipun disindir gagal gaul karena tidak punya gadget sama sekali.

Ada pula Cahya Purnama. Seorang ibu yang selalu berdoa agar pemadaman listrik terjadi di rumahnya setiap hari. Karena saat listrik nyala, anak-anaknya lebih suka curhat di sosial media dibanding berkumpul dan bertukar cerita di ruang keluarga.

Kisah Karno dan Fatmawati, suami istri penjual martabak manis yang belum juga dikarunia anak hingga usia senja mereka, menjadi inspirasi sederhana. Betapa rasa kesepian tanpa anak dan potongan romantis pernikahan mereka hadir dari sepotong martabak manis sisa dagangannya sendiri.

Di sub bagian abjad B, ada kisah pilu Blacky Black. Anjing terlantar tanpa tuan, yang sehari-hari hidup dengan mengais tong sampah. Namun kelaparannya harus diakhiri oleh kelakuan nakal anak-anak yang sedang bermain petasan. Saat membaca karakter ini (dan menulis tulisan ini), saya sampai banjir air mata. Betapa kita egois dan sering memandang sebelah mata pada hewan terlantar. Manusia terlantar saja kita seolah buta. Apalagi kalau sekadar kucing dan anjing. Tapi usai membaca tentang Blacky, rasa kemanusiaan saya seolah malu dan menciut saat itu juga (dan saat ini lagi). Pedih, cuy.

Kisah tentang kasih sayang seorang bapak banyak diangkat di dalam buku ini. Ada seorang pria tua yang menjadi kurir, selalu bertanya tentang lowongan kerja ke resepsionis kantor yang menjadi penerima paket hantarannya. Hanya karena ia rindu anaknya yang bunuh diri karena PHK beberapa tahun lalu. Emosional banget, yakin.

Ada pula kisah seorang bapak yang tidak pernah mengungkapkan sayang pada anaknya. Namun saat anaknya memutuskan merantau karena merasa tidak diperhatikan di rumah, sang bapak justru menangis tersedu-sedu saat mengantarkan si anak ke bandara. Hanya menangis. Sama sekali tidak ada kata-kata melarang atau sayang. Disini saya mengerti, mengapa sosok bapak selalu misterius dan tidak blak-blakan menunjukkan rasa sayang seperti ibu. Karena memang beliau tidak mampu. Namun rasa sayangnya bisa jadi melebihi sosok ibu. Aduh... Perih lah pokoknya.

Dan kisah pamungkas ini ditengahi oleh abjad M yang mewakili judul utama. Mere Matkadevi yang sedang mewawancarai tiga wanita berbeda. Saat ketiganya ditanya tentang kasih sayang ibu masing-masing, mereka menjelaskan alasannya dengan panjang lebar. Namun saat Mere menanyakan tentang anak mereka, justru ketiganya bungkam. Berikut sedikit cuplikannya.

Mere: Kamu sayang sama ibumu?

Hera: Sayang banget lah!

Mere: Kenapa sayang?

Hera: Ibu itu udah kayak sahabat aku banget, kita sering pake baju kembaran gitu. Cuma ibu yang ngerti aku. Kalau ada apa-apa aku pasti cerita ke ibu. Waktu aku sedih, waktu aku panik, waktu aku galau, yah, cuma ibu yang bikin aku tenang. *dan Hera masih cerita panjang tentang ibunya*

Mere: Kan kamu sayang sama ibumu. Kamu juga sayang sama anakmu?

Hera: Sayang juga pastinya.

Mere: Kenapa sayang?

Hera: ... *terdiam lama*

Hera: Yaaa... Sayang.

Dan cerita lengkap mengenai wawancara Mere dengan ketiga narasumbernya ditutup dengan quote manis berikut, "Hanya memberi tak harap kembali. Hari ini Mere menemukan jawaban. Kasih ibu tidak pernah butuh alasan."

FIX. PECAH PERTAHANAN MENTAL SAYA.

Saat selesai membaca semua karakter, ekspresi saya adalah...

"WTF, ORANG-ORANG HARUS TAHU TENTANG BUKU INI!" Saya berseru dan tiba-tiba bangkit dari posisi tidur.

Saya menutup buku. Membuka lagi. Membaca karakter yang membuat saya jatuh hati. Menangis. Mengulangi beberapa ceritanya. Menandai quote bagus dengan sticky notes. Dan membereskan tissue-tissue yang basah oleh air mata. Sebut saya cengeng, nggak masalah. Kalau kalian membaca buku ini dan sukses sampai halaman akhir tanpa menangis, saya akan acungi lima jempol sekaligus! (satunya minjem)

Hal menarik dari Mere Matkadevi adalah cara Tulus dalam menuliskan karakter. Lepas. Bebas. Liar. Lugas. Cerkas. Belum selesai saya tertawa karena salah satu karakter, cerita berikutnya justru membuat saya menangis. Sampai capek saya mengikuti fluktuasinya.

Ada catatan usia karakter di kalimat pembuka. Sepertinya untuk menggambarkan bagaimana seorang tokoh menghadapi masalahnya dengan tahapan umurnya dan lamanya ia hidup. Karena ada karakter seperti Bilqis yang pasca anak-anak, cenderung spontan dan langsung mengambil keputusan untuk berhijab tanpa tedeng aling-aling A dan B lagi. Ada juga Juju Idris yang renta namun ingin kembali merasakan usia muda dan bimbang dalam menikmati hidupnya yang tinggal beberapa garis saja.

Mere Matkadevi adalah kumpulan pembelajaran hidup...

Secara keseluruhan, saya memberikan nilai 8.5 dari skala 10 untuk buku ini. Ada beberapa cerita yang kurang saya sukai. Namun mayoritas saya mencintai mereka meskipun hanya dari beberapa larik kalimat saja. Duh. Kalian harus baca. HARUS BACA!

Tapi, yang saya nggak suka dari buku ini adalah... Ceritanya kurang panjang! Rasanya kok pelit ya, menulis tentang karakter kompleks yang jumlahnya lebih dari seratus orang hanya dalam satu atau dua halaman saja. Kuraaaaaang... I want more!

Saya ingin tahu kelanjutan si anjing Blacky yang nasibnya mengenaskan karena dijejali petasan oleh anak-anak nakal. Saya ingin tahu kelanjutan wawancara Mere dengan tiga orang ibu yang bercerita tentang ibu dan anak mereka. Saya ingin tahu kepastian hubungan Cinta dan Rangga ala Tulus. Saya ingin tahu apakah Asih benar-benar sudah menjadi artis ibukota. Saya ingin tahu apakah Andare bisa move on dari mantannya. Saya ingin tahu apakah Bilqis sudah benar-benar menghijabi diri dan hatinya. Saya ingin tahu apakah akan ada pemadaman listrik yang lama di rumah Cahya supaya anak-anaknya mau ngumpul dan bercerita, supaya anak-anaknya tidak kebanyakan curhat di sosial media. Saya ingin tahu semua kelanjutannya.

Dan quote favorit saya dari novel ini adalah...

Kadang manusia bisa jadi dewasa untuk masalah orang lain, tapi tidak untuk masalah sendiri. Maka dari itu, kita perlu teman untuk mendengarkan.

Bagi yang ingin cek ricek mas Tulus ini, bisa dilihat di kicauan Twitternya di Twitter Tulus Ciptadi Akib. Sepertinya ia memang bukan Tulus penyanyi seperti yang saya sangkakan di depan. Barusan googling, dan Tulus ini pure penulis. Bahkan ia masih menulis ratusan karakter lain di blog pribadinya yaitu Blog Tulus Ciptadi Akib.





References are taken from:
1. http://365karakter.com/
2. https://www.goodreads.com/author/show/7465111.Tulus_Ciptadi_Akib

Pictures are taken from:
1. https://id.pinterest.com/pin/50595195794901595/
2. Self collection

10 Comments

  1. beneran pendek ya tiap karekternya. gue udah ngebayangin klo bukunya tebel, soalnya ada 123 karakter.
    dan emang ceritanya tentang keseharian gitu kyaknya. makanya ngena.
    quotenya ngena nih. ya emang kbnyakan gitu kan, sok dewasa menyikapi masalah orang lain. tapi nasehatin diri sendiri aja ga bisa.

    kyaknya ini kunjungan perdana gue deh. salam kenal, senpai

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kirain ceritanya begimana, eh taunya bener-bener irit banget. cuma sehalaman atau dua halaman gitu deh. tapi cukup worth mengingat memang temanya slice of life sih. itu baru satu quote, banyak banget quotes lain di dalemnya yg hampir ada di setiap cerita. gokil pokoknya.

      salam kenal juga. btw, namanya kyk dosen aku waktu kuliah dulu :v

      Delete
  2. Iiih gemeteran baca review-nya. Mayaaaaaaaang! Kamu memuaskan aku dengan review bukumu. Bolehkah aku menyembahmu? Heran banget heran. Ini (lagi-lagi) tulisannya nyantai abis. Aaaaaaaak aku suka. Ini aku jadi pengen beneran bisa duduk bareng kamu, May. Dengerin cerita kamu soal hobi beli buku banyak dan ulasan buku-buku itu. Huaaaaaaaaaaaaaa.

    Aku paling tertarik sama karakter Bilqis. Lucu ih dia gemesin dengan pola pikirnya. Terus yang Blacky, merinding-merinding miris sih bacanya. Gila bet sampai ada karakter hewan juga, nggak manusia doang. Keren bet ini novelnya. Selera maniak buku emang bajingseng yak.

    Segala ada playlistnya dalam dengerin lagu. Eh tapi memang enak dengerin lagu pas baca buku sih. Instrumental gitu. Aku pikir kamu malah dengerin lagu-lagu Tulus buat nyesuain sama penulis novelnya, May. Hehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga ingin menyembahmu kalau udah baca review film-mu yang luar biasa edan itu. wkwk. pengen tahu kok pikiran liarmu sampai membahas kesana kemari, cha :v

      duh, yg cerita bilqis itu emang ngena banget. ringan dan tidak menggurui. tapi bener-bener menampar kita yg sering berdebat ttg hijab. betapa pola pikir orang dewasa lbh ribet adanya :') yang blacky emang naas banget, tragis akhirnya. ah, jadi sedih lagi kan anjir :'(

      hahahaha, lagu-lagu Tulus biasanya masuk di playlist "Senja Sendu Merindu Kamu". aku hampir punya semua playlist untuk tiap mood, cha X)

      Delete
  3. hatiku luluh lantak baca wawancaranya mere :'( yang blacky juga sedih bat asli :'(
    kok kamu bisa sih baca buku sambil ngedengerin lagu. aku mah gabisa, malah ga fokus hahaha. apalagi kalo ada liriknya hhh yang ada bukannya baca buku malah nyanyi ntar :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau kamu baca cerita lengkapnya mungkin udah mewek juga, fa. pedih banget itu. aku mah apa aja sambil denger lagu, hehe. radio nonstop. kalau lagi denger playlist "Sudah Malam Ikan Bobo", aku stel tuh sleep timernya setengah jam. hehe. *tidak suka keheningan*

      Delete
  4. Jadi tulus nggak nyanyi lagi skrg hihihi

    Waaaa mau bacaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. pikiran yg sama seperti di awal aku beli buku ini. hahaha :v

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.