Lorem Ipsum Dolor Sit Amet

Post pertama di tahun 2017!

Setelah hibernasi lama sekali, akhirnya bisa muncul lagi ke permukaan. Kalau dibilang vakum, sebenarnya saya bukannya menghilang "plas" sampai nggak pernah buka-buka blog lagi. Saya selalu buka. Paling nggak ya, dua hari sekali. Menulis apa yang berseliweran di pikiran. Namun seperti kebiasaan lama. Semua post hanya menjadi draft yang tidak kunjung selesai. *sigh*

Blogwalking sendiri, masih sering. Setiap teman blog yang saya ikuti baik lewat Google Plus maupun Twitter sedang menautkan postingan terbaru mereka, saya selalu membaca sampai akhir. Tapi pada akhirnya, setiap selesai menulis komen, saya selalu menghapusnya. Naif sih, tapi saya minder aja kalau ada yang blogwalking tapi tulisan saya belum nambah. Muehe. Alhasil saya seperti hilang dan nggak pernah bermain blog lagi. Lagi-lagi. Klise. Karena keseharian.

Karena itu, malam ini saya ingin menulis random. Hanya random. Semua yang ada di pikiran asal ditulis untuk mengurangi kepenatan.


1. ANTARA BLOG DAN VLOG

Menulis, apalagi sebuah blog, sebenarnya butuh konsistensi tinggi. Sekali ditekuni, blog bisa menjadi omzet tersendiri bagi pengembangnya. Namun, ya. Akhir-akhir ini, keberadaan blog semakin tersaingi dengan vlog Youtube. Bukan tergusur, sih. Saya kurang suka kalau blog dikatakan tergusur karena adanya vlog. Meskipun nggak mangkir, kalau vlog sekarang meraja lela dimana-mana.

Pacaran dibikin vlog. Gituan dibikin vlog. Putus nangis-nangis bawang dibikin vlog. Lamaran dibikin vlog. Menikah dibikin vlog. Malam pertama dibikin vlog. Hamil dibikin vlog. Melahirkan dibikin vlog. Cerai dibikin vlog. Apapun dibikin vlog.

Hampir semua orang bisa bikin vlog.

Yang punya skill di bidang edit-mengedit video, yaaaa, aman. Bisa shooting dan diedit sendiri.

Yang nggak punya modal editting, tinggal calling jasa IT untuk mengelola. Gampang.

Makin kesini, minat baca manusia semakin menipis. Mereka lebih menyukai konten audio-visual daripada visual saja. Banyak yang akhirnya memilih:

Nonton film. Daripada baca bukunya.

Nonton vlog. Daripada baca tulisan di blog.

Maka dari itu, saya mengamati bahwa manusia berkembang. Tidak bisa serta merta disalahkan. Internet menyebar dimana-mana (meskipun belum semua wilayah ada). Yang tadinya orang-orang hanya mendapatkan tontonan dari TV, sekarang bisa bertambah lagi melalui Youtube.

Nggak salah, sih. Namanya juga perkembangan teknologi. Tidak ada yang bisa melakukan denial mentah-mentah. Kita hanya bisa menjadi penonton cerdas yang mampu memilah dan memilih tayangan untuk dinikmati.

Berbicara tentang konten, baik di blog maupun vlog.

Seringkali saya menemukan bahwa tayangan di vlog seorang Youtuber, sebenarnya menyadur dari tulisan yang ada di blog orang lain. Banyak yang saya temukan (mungkin kalian juga), setiap Youtuber memberikan rujukan website atau blog di penghujung videonya.

Itu bagi yang tahu diri, ya. Kadang banyak juga yang nggak menyertakan sumber blognya.

Banyak kasus seperti ini.

Ada seorang vlogger yang memberikan beauty hacks untuk mengatasi wajah kusam. Sebenarnya, kalau kita mau mencari di Google, "cara mengatasi wajah kusam", akan banyak sekali cara-cara yang bisa kita lakukan. Bahkan blog-blog tersebut sudah ada sejak jaman baheula. Dahulu kala. Hanya kita saja yang mungkin nggak pernah mencari. Atau mungkin beda generasi (bagi anak SMP atau SMA).

Disitulah kadang saya rindu dengan jaman jayanya blog di masa terdahulu.

2. TENTANG PERUBAHAN

"Pada akhirnya, yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri." - Unknown

Pernah membaca atau mendengar quote tersebut?

Semua orang bisa berubah. Semua orang juga berhak berubah. Baik ke arah lebih baik, maupun sebaliknya. Manusiawi, ya?

Kita nggak pernah bisa memilih KAPAN kita bisa berubah, MENGAPA kita berubah, dan BAGAIMANA kita berubah. Hanya bisa mengendalikannya dan menjaganya agar konsisten (kalau berubah menjadi lebih baik) dan mengembalikannya seperti semula (kalau berubah menjadi lebih buruk).

Sebagai contoh, saya memiliki teman yang dulunya berpacaran lama dengan seorang lelaki. Bahkan setelah si lelaki menduakannya berkali-kali, dia tetap bertahan. Sampai akhirnya ada musibah besar yang disebabkan si lelaki di penghujung 2015. Akhirnya teman saya memutuskan untuk berhenti. Kali ini benar-benar berhenti. Ia yang tadinya memiliki gaya pernampilan yang casual dan biasa, cenderung sosialita, tidak pernah lagi terlihat mengenakan celana jeans. Hijab tipis berganti lebih tebal agar syar'i. Ia memutuskan untuk tetap single hingga menikah nanti.

Ada juga teman saya yang setelah memiliki masalah keluarga yang cukup besar, akhirnya mau kembali beribadah di gereja lagi. Padahal tadinya sama sekali tidak pernah menghadiri misa, baik mingguan maupun saat hari raya.

Sebenarnya, dari kejadian yang lekat dengan hidup kita sehari-hari pun, kita bisa saja berubah.

Semisal, kita yang tadinya malas berolahraga. Setelah membaca artikel tentang "manfaat berlari untuk jangka panjang", bisa jadi kita akan segera mengatur jadwal jogging tiap pagi atau sore hari. Ini terjadi pada saya saat selesai membaca buku karya penulis legend asal negeri sakura, Haruki Murakami, yang berjudul "What I Talk About When I Talk About Running".

*btw, ini nggak berlaku bagi para pria yang membaca komik anu. dari nggak paham tentang anu, jadi paham tentang anu.*

Lalu, saat kita melihat suatu film, bisa jadi kita akan terbawa emosi hingga memiliki pola pikir yang cenderung berubah. Entah sesaat saja, entah selamanya. Saya sempat menonton ulang movie dari Ghibli yang berjudul "Hotaru No Haka" atau dalam bahasa Inggrisnya berjudul "Grave of Fireflies". Usai menonton (dan masih banjir air mata), saya menyadari bahwa after effect peperangan sungguh mengerikan. Terutama bagi anak-anak yang ditinggalkan ayah dan ibunya. Pedih, cuy.

3. PERUBAHAN BLOG

Ah, kalau ngomongin blog, saya sebenarnya merasa kelu. Meskipun terhitung sebagai blogger angkatan lama, tapi saya nggak konsisten. Sering ilang pas sedang sayang-sayangnya. *eh*

Seperti tadi yang saya katakan di awal, saya nggak benar-benar menghilang. Hampir tiap dua hari menulis draft, tapi urung dilanjutkan karena terlalu sibuk pekerjaan di real life dan semacamnya. Padahal, sibuk itu alasan klasik. Terlalu klise jika dijadikan alasan. Namun karena saking padatnya keseharian, saya sampai nggak punya alasan selain 'sibuk'.

Dua hari yang lalu, saya bedagang sampai pagi untuk mengubah layout dan appearance blog ini. Dari nama domain yang tadinya "Kiwibiru", menjadi nama asli. Berniat beli domain dengan ekstensi .com juga sih, rencananya. Sesuai saran teman-teman blogger dari setahun lalu. Hehe. Tapi nantilah, akan saya lakukan jika sudah rutin menulis lagi.

Kalau berpikir tentang komitmen, saya bisa mencaci maki diri sendiri sampai tahun depan.

Setiap orang punya passion. Dan ya, saya termasuk orang pengecut yang tidak kuat berkomitmen untuk passion saya. Menulis dan membaca adalah dua hal yang amat saya gemari. Dari kecil. Bahkan saat TK dan SD, saya menulis cerita di kertas sobekan buku SIDU. Cerpen sederhana. Namun teman-teman saya menyukainya. Dengan adanya otak komersil sejak kecil, akhirnya saya selalu mem-fotocopy cerpen saya untuk kemudian dijual ke teman-teman sekelas dengan harga SERATUS RUPIAH untuk setiap cerita. Menyenangkannya bukan hanya karena mendapat uang. Tapi karena saya mendapatkan uang dari hasil tulisan saya.

Hal ini pun berlanjut hingga saya menjadi kontributor bulanan di majalah anak-anak, Mentari dan Bobo. Kadang cerpen, kadang pengalaman kocak, kadang puisi, kadang tips dan resep masakan. Sampai SMP. Saya punya sahabat pena dimana-mana. Sekitar dua puluh teman. Namun setelah SMP dan bertukar nomor ponsel, kami malah jarang sekali untuk saling menghubungi.

Maka dari itu, saat menemukan BLOG di tahun 2006 akhir, saya antusias untuk mendaftar. Waktu itu saya masih SMP kelas 1. Masih menulis di majalah juga. Saya mulai menulis blog dengan diary, keseharian, lirik lagu (paling sering), dan juga puisi. Random. Tapi bukan di blog ini, sekalipun saya sudah menggunakan platform blogger waktu itu.

Di penghujung 2009, blog lama saya terbengkalai karena sibuk persiapan masuk SMA. Waktu sudah masuk SMA, saya lupa password-nya dan terlalu malas untuk mengurus.

Ahirnya membuat lagi blog ini di tahun 2010 dengan nama "Kiwibiru". Masih labil dengan menulis status FB, lirik lagu, puisi, cerpen, resep masakan, dan biodata artis atau grup band.

Seterusnya, mulai berkembang. Namun ya itu, sering menghilang karena dalih kesibukan.

Di tahun ini, mulai dua hari yang lalu, saya ingin kembali menulis blog lagi. Sudah terlalu banyak muntahan-muntahan pikiran yang harus dikeluarkan. Sudah terlalu usang draft yang tidak pernah dilanjutkan. Sedih, sih. Tapi sudah terlambat juga untuk disesali.

Saya sendiri termasuk "manusia lembam". Kalau sudah berhenti, susah memulai lagi. Kalau sudah memulai lagi, susah untuk berhenti. Telanjur berhenti nge-blog, ya berhenti total. Telanjur mulai nge-blog lagi, jadi candu sampai begadang berhari-hari. Tidak bisa seimbang. *hiks*

Maka dari itu, saya mulai dengan merombak domain dan tema. Embel-embel "kiwi" sudah hilang semua. Menyisakan blog dengan tema buku yang lebih netral.

Yah, semoga dengan ini, bisa konsisten dalam menulis blog lagi.

Biar pun toh blog mulai sepi, yang penting semua pikiran saya tersalurkan dalam tulisan.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah." - Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

4. DI ANTARA PEKERJAAN

Beberapa hari lalu saya blogwalking ke blog seorang teman, sebut saja namanya, Yanto (20 sekian tahun). Ia tersesat di jalan usai pulang dari interview pekerjaan menjadi seorang penulis di sebuah kantor. Saya yang biasanya nggak bernyali meninggalkan jejak di blog teman (karena takut ketahuan lama nggak bikin postingan baru), tiba-tiba T E R P E L A T U Q U E ingin menulis komentar. Postingannya nyesek, sih.

Kalau boleh saya bilang, pekerjaan di bidang seni dan kasusastraan (entah mengapa) sering sekali dipandang sebelah mata oleh orang lain.

"Ah, kan cuma nulis."

"Ah, kan cuma nggambar."

Padahal, kalau dipikir lebih dalam, ya. Tanpa adanya MINAT dan BAKAT, dua pekerjaan itu bukanlah sesuatu yang gampang. Serius.

Orang IT sepintar apapun dalam hal coding atau orang Fisika sehebat apapun dalam menyelesaikan persamaan Kuantum, jika suatu saat diminta menulis tentang tema tertentu, pasti akan kesusahan.

Sama seperti analogi Einstein, guru besar Fisika panutan saya.

"Setiap anak adalah jenius. Tapi jika anda menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, seumur hidup dia akan menganggap dirinya bodoh." - Albert Einstein

TRUE DAT.

Setiap orang punya kemampuan dan keahliannya masing-masing. Tidak bisa jika masyarakat mendiskreditkan pekerjaan penulis dan pekerja seni. Apalagi jika status mereka freelance.

Entah mengapa, pekerja freelance sering (bukan selalu, ya) diremehkan secara tidak langsung. Bayaran yang tidak setinggi pekerja kantoran, malah kadang hanya mendapatkan ucapan "terima kasih" saja. Mungkin banyak di antara teman-teman blogger dan penulis yang pernah mendapatkan pengalaman seperti ini. Tulisan dibayar hanya dengan ucapan "big thanks" ataupun exposure.

Kalau sudah begini, saya ingin sekali protes pada perusahaan besar-besar itu dan berkata.

"Hey, makan butuh duit!"

Di sisi lain, saya memiliki seorang teman yang AMAT BERBAKAT dalam melukis realis. Namun, banyak sekali ia mendapatkan order dengan tambahan kalimat semacam ini.

"Harga saudara lah, kalau bisa gratis."

"Diskon untuk teman 200% ya?"

"Dibayar pake makan siang atau dinner boleh kan? Kita kan karib."

"Alah, tinggal ngelukis bagian matanya begini, detailnya begini, lalu bagian bawahnya nanti begini begini begini. Masa iya harus bayar semahal itu?"

Ya, beginilah manusia. MENTAL GRATISAN.

Giliran ada diskonan brand-brand sepatu dan tas ternama, langsung lari ke mall. Tapi masa depan teman atau saudaranya diabaikan.

IMO, justru "harga teman" harusnya sama atau bahkan lebih mahal. Lebih tinggi dari harga pasar biasa. Selain memakai jasa, kita seharusnya ikut membantu modal dan memberi dukungan material kepada teman kita. Percaya deh, teman yang sudah pernah kita doakan dan bantu usahanya secara finansial, biasanya akan merasa percaya diri.

"Teman gue aja percaya sama kemampuan gue, apalagi yang lain."

Suntikan semangat lah, kalau istilahnya.

Jadi, jangan selalu membiasakan minta korting atau gretongan saat membutuhkan jasa teman, ya. Ingat, dia bekerja. Bukan memberikan jasa cuma-cuma.

5. LOREM IPSUM DOLOR SIT AMET

"Lorem ipsum dolor sit amet..."

"Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain of itself..."

"Tidak ada seseorang yang suka mendapatkan penderitaan bagi dirinya..."

Sering menjumpai kalimat demikian?

Bagi yang sering bermain template blog, pasti sudah hapal. Hehe. Entah ini quote darimana asalnya, saya kepikiran untuk menuliskannya disini. Dan bahkan menjadikannya sebagai judul postingan.

Penggunaan lipsum (singkatan dari quote lorem ipsum bla bla bla) adalah agar si pemilik blog yang sedang mencoba demo template tersebut tidak terlalu fokus pada arti harfiah maupun literal dari kalimat itu. Hanya supaya mengerti bahwa elemen template yang dimaksud bentuknya atau tampilannya seperti apa. Teks lengkap lipsum, ada sejak sekitar abad 15. Lambat laun, teks legend ini digunakan untuk major example di seluruh industri penataan huruf, percetakan, dan kini di website atau blog.

Quote ini tidak jelas siapa yang mulanya mencetuskan, namun diyakini bahwa lipsum disusun oleh seorang tukang cetak tedahulu. Namun, seorang profesor Bahasa Latin berhasil menemukan fakta bahwa lipsum ini berasal dari naskah "de Finibus Bonorum et Malorum" yang artinya "Sisi Ekstrim dari Kebaikan dan Kejahatan". Karya sastra klasik ini ditulis oleh Cicero. Jangan tanya siapa, karena setelah browsing lama pun saya nggak nemu siapa doi. Ehe.

Dari sini, saya hanya ingin menuliskan bahwa...

Manusia seringkali hanya fokus pada tampilan konkret dan nyata saja. Cenderung tidak mau repot, maunya yang serba instan. Banyak menghabiskan waktu hanya untuk mematut bagian luar. Namun lupa bahwa arti manusia yang sesungguhnya adalah kebermanfaatan. Manusia takut akan kelemahan, namun tidak berusaha memaksimalkan kelebihan. Manusia takut gelap. Tapi tidak berusaha mencari lampu. Justru berdiam dan menunggu gelapnya pergi.

Memang jaman berubah.

Manusia berubah.

Namun ingat kembali, berubah tidak selalu ke arah yang buruk.

Berubah bisa ke arah baik.

Asal kita mampu mengendalikan.

Malas menulis karena sibuk? Bisa dikendalikan. Fokus bisa diusahakan. Waktu bisa diluangkan. Jadwal padat bisa direnggangkan.

Yang tidak bisa adalah...

Mengulang kehidupan, walaupun sudah menyesal karena telanjur tidak pernah menulis dan berbuat kebaikan selama nyawa masih di kandung badan.

Salam dan sekian.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

12 Comments:

  1. Selamat datang kembaliiiiiii... Udah nggak Kiwi lagi yak. Daftar isinya juga berkurang drastis. banyak banget yg diilangin berarti.

    1. Saya punya temen blog juga yg beralih ke vlog, tapi blognya tetep update. Caranya? Postingan blognya berupa Video youtubenya yg disematkan dengan tulisan, "kalo gak bisa di play, kunjungi langsung di sini ya. Moga bermanfaat." :| Nggak masalah sih kalo mau naro pidio di blog, tapi ya nggak gitu jg kan...

    2. Saya juga mengalami perubahan, walo nggak begitu terlihat. Tapi ada. ada yg berubah jadi lebih baik, dan banyak juga yg jadi lebih buruk :( dan nanti pasti juga akan berubah lagi. Moga aja makin banyak baiknya.

    3.NJIR... udah lama banget kenal blognyaaaaa... ini udah bisa kupanggil sesepuh. *sungkem* Selain mengubah tampilan atau memaksa diri membeli domain, untuk berkomitmen juga perlu mendekatkan pada yg rajin ngeblog sih. Makin banyak interaksi dgn blogger di blog (bukan hanya di medsos lain) biasanya ikutan pengin lekas2 nulis juga. Dan, rekam jejakmu di dunia tulis menulis bagus banget itu. O_o

    4. Sebut saja itu Yoga. Ini saya ngerti banget gimana itu artinya harga temen. Pernah pas libur kuliah jualan buah2an, ada temen mau beli, dan dia bayar lebih rendah dari harga modalnya. dibilangnya saya nipu karena naro harga tertentu. padahal udah dimurahin karna dia temen. eh malah ngebunuh. Kalo ttg freelance, udah sering juga dibayar dengan makasih atau ucapan "saya punya banyak link kenalan, nanti saya pake jasa kamu lagi" iya diminta bantuin lagi, tapi dibayar makasih juga. Untungnya ada juga mantan freelancer yg ngerti ttg keresahan itu, pas lagi ikhlas2nya nolongin dia yg kewalahan dgn jobnya, dikasi imbalan. gak gede sih, tapi merasa dihargai banget. mau menernakkan org yg menghargai begitu gimana ya caranya?

    5. itu kalimat yg saya baru tau artinya di postingan ini. hahahaha... tau kalimatnya dari dulu, tapi pas nyari terjemahannya dulu kok gagal ya.. bingung juga saya. xD

    yaudah, semoga segala poin keresan tersebut makin memicu untuk terus menulis lagi. blog mungkin makin sepi, tapi bisa diubah untuk diramaikan lagi. xD walo isi blognya banyak yg produk2 karena ngejar bayaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya terhura membaca komenan ini. bukan hanya karena panjangnya aja, tapi tanggapannya dalam setiap poin post saya yang deep impact banget. big thanks ya, bang haw.

      iya udah nggak main kiwi-kiwian lagi, tapi kiwi tetap jadi buah favorit. hehe. post yang misinya lirik lagu dihapus. kalau puisi pindah ke kaskus, ngumpul jadi satu thread. cerpen pindah ke wattpad. jadi blog untuk fokus nulis artikel aja.

      1. ah, manuvernya gitu. jadi video Youtube nya di post di blog. sebenarnya saya penasaran emang bayaran Youtube segitu besarnya ya?

      2. aamiin. semoga banyak baiknya, bang. berubah status kah? :v

      3. blogwalking emang bikin gatel pingin nulis lagi sih, bang. tapi ya itu. semua berakhir di kotak draft dan akhirnya gak berani komen di blog teman. hehe. yah, semoga setelah ini bisa komit lagi.

      4. jadi jual buahnya rugi? jarang sih orang baik begitu, bang. kalau freelance banyak apesnya. padahal teman saya yang jago ngelukis itu gak main-main bahan cat dan alatnya. dibeli pake tabungan sisa beasiswa dan uang saku. tapi tetep aja jatohnya dimurahin karena ya itu, belum punya nama besar. padahal nama besar sendiri butuh klien yang banyak untuk ngasih testimoni. orang kan kadang juga ngeliat harga, "ah murah nih, pasti ecek-ecek." tapi kalau dimahalin, yang teman-temannya pasti nagih korting lagi.

      5. karena nggak tahu mau diberi judul apa, sekalian iseng nyari tentang asal muasal kalimat legend itu deh :v

      terima kasih sudah mampir ya, bang X)

      Delete
    2. Karena itu bukan hal yang memalukan, ceritamu menggugah banyak orang, Yog~

      Delete
  2. Selamat datang kembali mayang. Pantas beberapa posting saya buka tidak ada/terhapus

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, dani. iya bersih-bersih kemarin X)

      Delete
  3. Gue pengin bikin vlog juga biar mengikuti zaman, tapi nggak tau kenapa anaknya nggak pedean. Masih kurang tertarik juga, sih. Jadi lebih baik di belakang layar. Pemikirannya aja yang terlihat. Orangnya nggak perlu tampil. :')

    Ini beberapa draft akhirnya dijadikan satu gitu ya, May? Apa draft yang nggak terpublikasi itu tetep ada dan banyak? :p

    Gue kalau emang pengin komentar, ya komentar aja tanpa peduli udah ada tulisan baru apa belum. Meskipun beberapa kali juga pernah, udah coba komentar eh malah gue hapus lagi karena minder begitu. Hehe.

    YANTO. HAHAHAHA GUE KOK KETAWA, YA. ITU NAMA PANJANG BOKAP GUE. XD Duh, kepencet capslock lupa matiin. :))
    Iya, sih. Semua orang punya keahlian di bidangnya masing-masing. Mungkin kalau udah bergelut lama di situ, tapi nggak ada perkembangan itu bukan dunianya seperti yang Albert Einstein bilang. :)

    Baca akhir tulisanmu, gue jadi inget twit Om Pinotski: dia enak banyak duit, dia enak punya bakat, dia enak blablabla. Berhenti memaklumi keadaan dan mulai merancang keadaan. Benar sekali. Selama ini sering ngeluh kayak gitu, ah dia mah enak waktu luangnya lebih banyak jadi bisa nulis atau ngeblog lebih rajin. Padahal semuanya soal kemauan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenarnya aku juga pingin ngevlog, kemarin sempat kepikiran bikin akun Youtube khusus pembelajaran Fisika gitu, buat murid-murid juga. tapi kelar recording, malah minder dan langsung ngehapus hasilnya tanpa pikir panjang (shift del pula) XD

      ini malah bukan draft, cuma uneg-uneg spontan saat itu. hehe. draft masih tuh, ada 200an draft tak tersentuh. *sedih bats*

      aduh, sorry banget malah jadinya nyebut nama ortu :')

      bener. kalau "menyalahkan keadaan" nggak bakal ada habisnya. yang bisa dilakukan adalah "memperbaiki keadaan".

      Delete
  4. aku suka iri sama yang bikin vlog karna aku gabisa pede kaya mereka hahahaha. tapi aku tetep lebih suka baca blog daripada nonton vlog. lebih hemat kuota & hemat waktu. kalo baca itu kan kita bisa ngatur sendiri kecepatan baca kita yah. sedangkan kalo nonton itu gabisa. durasi videonya 15 menit ya kita musti nonton selama 15 menit kalo mau tau keseluruhan isinya. begitulah :)))

    itu grave of the fireflies emang sedih banget ya? dari dulu pengen nonton itu karna katanya bagus banget, tapi aku ga suka nonton yang sedih-sedih huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. yep :D salah satu yang aku sukai dari blog ya itu, bisa ngatur tempo sendiri. kalau vlog nggak ditonton sampai abis, biasanya lost in process. belom lagi video yang ternyata click bait dan prank.

      bagus, fa. duh, pembelajaran hidupnya ngena banget. kita jadi tahu efek mengerikan dari perang itu spt apa karena ini kan background ceritanya jaman perang di jepang. scene saat tokoh adiknya meninggal dan dikremasi sendiri oleh sang kakak adalah scene paling pedih yang pernah kutonton dalam sejarah per-anime-an :')

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.