Hal-hal yang Terjadi Saat Kamu Sudah Semester Tua

Hai!

Meskipun sudah telat 12 hari, ijinkan saya untuk mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2016. Semoga di tahun yang baru ini bisa menjadi kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Aamiin.

Ini adalah postingan pertama di tahun 2016 *gaya ngomongnya ChandraLiow*.

Yep! Maaf banget karena sudah lama menghilang dari peradaban blog terhitung sejak bulan Mei 2015. Ngeblognya jadi nggak konsisten, banyak tulisan yang hanya jadi draft tanpa kelanjutan untuk di-publish, dan banyak ide yang terbuang *sedih juga*.

Kalian semua apa kabar? Yang nyangsang di blog saya kemarin mesti udah kabur duluan karena blog ini terlantar seperti tak berpenghuni. I'm deeply sorry.

Memang beberapa bulan terakhir seperti yang saya pernah tulis di postingan berjudul Curhatlah Pada Tempatnya, selama bulan Juni hingga Agustus 2015 kemarin saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), lalu selama bulan September hingga Desember 2015 kemarin saya menjalani magang yang pada jurusan saya mengharuskan untuk praktik mengajar (PPL) di sekolah menengah atas. Lalu pada semester 8 ini, saya akan disibukkan oleh triple tugas akhir yaitu Eksperimen Fisika, Seminar Fisika, dan Skripsi tentu saja. Ulala cetar membahana, betul?

Akhirnya setelah menempuh kehidupan yang tajam dan berliku, saya sampai pada fase dimana orang-orang sering mengeluhkan garis takdirnya saat kuliah. Yep, derita mahasiswa semester tua.

Dulu saya belum tahu bagaimana rasanya jadi mahasiswa semester tua. Bagaimana susahnya, bagaimana senangnya, dan bagaimana blink-blink yang mewarnainya. Saya cuma tahu dari akun-akun social media yang sering memplesetkan kehidupan mahasiswa tingkat akhir. Di twitter ada akun @yeahmahasiswa, di instagram ada akun @dagelan, dan beberapa yang lainnya.

Di beberapa postingan mereka selalu menggambarkan bahwa mahasiswa semester tua itu memiliki macam-macam persoalan. Mulai dari persoalan pribadi seperti masalah keuangan, persoalan sosial seperti masalah kejombloan, persoalan akademik seperti kasus PHP dosen pembimbing, hingga persoalan kompleks seperti kecanduan game dan tidak ada motivasi untuk lulus karena sudah merasakan sensasinya mengais rejeki lewat nyambi kerja.

Ternyata memang banyak liku-liku mahasiswa semester akhir. Adik tingkat udah berlapis-lapis jumlahnya dan kalau ketemu mesti pada nanya, "Udah penelitian kak?", "Udah sampai mana skripsinya kak?", dan banyak lagi udah-udah yang lain.

"Iya, mending kalian udahan juga nanya-nya!" *pasang tampang sewot*

Sebulan menjalani kehidupan semester ini, rasanya banyak juga cerita yang bisa jadi pengalaman berharga untuk ditulis maupun dibaca. Karena saat menjalani hal semacam ini, hidup jadi monoton. Kita akan disibukkan dengan adu argumen di dalam kepala. Seharian hanya menunggu dosbing berjam-jam, bahkan kadang nggak jadi bertemu, lalu malamnya berhadapan dengan laptop untuk mengetik revisi dan sebagainya. Hal-hal itulah yang sering membuat kita jenuh dan butuh hiburan. Hal-hal itu pulalah yang membuat mahasiswa menyerah di tengah jalan. Dan hal-hal itulah yang menuntun saya untuk menceritakan pengalaman ini pada kalian.

Walaupun alasan sebenarnya adalah, agar saya tidak gila!


Hal-hal yang sering terjadi pada mahasiswa semester tua adalah berikut ini:

1. KRISIS MOTIVASI



Mengerjakan skripsi memang butuh motivasi yang tinggi. Namun, berhubung setiap hari kita dituntutnya fokus di depan PC, membaca buku, ngantri ketemu dosbing, kadangkala kita merasa kurang tantangan dan motivasi untuk mengerjakan jadi turun (seakan tidak ada niat dan kemauan). Apalagi kalau dosen memberikan banyak revisi. Seringkali pekerjaan kita terasa tiada berarti...

Motivasi ini banyak sekali pengaruhnya. Dari faktor internal ada mood, malas, kelelahan, dan ketidak-fokusan. Sedangkan dari faktor eksternal ada dari keluarga, teman, pacar (kalau punya), dan lingkungan.

Faktor internal seperti mood sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas kinerja skripsi kita lho, guys. Itu mutlak! Tidak bisa ditawar! Kenapa? Karena tanpa mood yang bagus, kita tidak akan memiliki motivasi untuk sesegera mungkin mengerjakan perangkat skripsi.

Selain itu ada faktor malas. Ya, MALAS!!!

Dikit-dikit males, banyak-banyak males, tidak bisa menatap masa depaaan... *bacanya ala iklan axis ya*

Ini penyakit yang obatnya belum pernah ditemukan. Bahaya lho. Saya juga sering mengalami dalam kurun waktu sebulan ini. Pulang konsul, bukannya langsung ngerjain, tapi malah nonton film, atau baca buku, terus mager nggak mau berhenti. Alhasil tugas revisi pun tak tersentuh dan masih suci.

Aaaaargghhhh!

Lalu faktor kelelahan. Misalnya terjadi pada mahasiswa yang mendapatkan dosbing ribet. Minta ini itu, pulang konsul masih ada kegiatan kampus (yang aktivis), kemudian capek, pulang langsung tidur. Ini yang bikin nggak sempat mengerjakan tugas akhir.

Ada lagi faktor ketidakfokusan. Nah, faktor ini juga berbahaya. Sebenarnya ketidakfokusan kadang disebabkan adanya gangguan dari lingkungan. Tapi berhubung yang bisa memfilter gangguan atau distraktor dari lingkungan adalah diri kita sendiri, maka masuknya ke faktor internal. Gangguan ini bisa berupa game, film, novel/komik (ketiganya merupakan distraktor yang saya sukai semua!), maupun dari ajakan teman dan pacar (kalau punya) yang sesat untuk menikmati dunia fana (ceilah!).

"Kalau saja hidup bisa seperti kamera, maka akan aku gunakan fitur autofocus di setiap detiknya." - MDT

Kemudian faktor eksternal. Ada faktor keluarga. Keluarga adalah prioritas utama setiap mahasiswa. Karena dari pertama kuliah, kita digadang-gadang akan membanggakan orangtua lewat pekerjaan yang membanggakan hasil terapan dari ilmu pendidikan di kampus. Maka mahasiswa butuh support penuh dari keluarga untuk menyelesaikan semuanya. Selain support, ada juga satu hal di atas segalanya yang membantu mahasiswa memiliki motivasi tinggi. Yaitu, doa orangtua. Saya pernah baca quote yang isinya begini:

"Kalau kamu mengalami suatu keberhasilan dalam hidup, maka ingatlah bahwa itu berarti satu doa orangtuamu terkabul lagi."

Selain itu ada faktor teman. Semester tua adalah tahap dimana kamu mulai dewasa. Maka jumlah teman biasanya akan semakin sedikit, namun berkualitas dan bertahan lama. Inilah yang membuat kamu harus pilih-pilih teman. Bukan secara umum ya, namun lebih kepada siapa teman yang akan menjadi "ekslusif" untuk kamu karena menyangkut hubungan yang longlast. Karena setelah lulus biasanya setiap mahasiswa akan pulang ke kampung halamannya atau merantau ke kota lain atau bahkan menetap. Jadi meskipun setelah berpencar akan berjauhan, jika kamu memiliki teman dekat yang berkualitas, kalian akan tetap keep in touch dan saling membutuhkan apalagi kalau sedang ada masalah.

Teman yang baik ini juga akan selalu menemani kalau kamu sedang butuh motivasi setelah dicekik waktu menunggu dosen lama banget, tapi malah nggak jadi ketemu. *ceritanya curhat*

Selanjutnya ada faktor pacar (kalau punya) (tidak diperuntukkan bagi pembaca yang jones) (bingung mau nulis apa). *syntax error* ###$$$%%%&&&@@@

Mahasiswa yang mengalami krisis motivasi, perlu menjalani renungan agar mengetahui faktor manakah yang mengganggunya sehingga faktor tersebut bisa diperbaiki untuk ke depannya.


2. KRISIS KEUANGAN



Apakah mahasiswa tingkat tua seringkali mengalami ini? Iya. Kadangkala orangtua yang tahu anaknya sudah skripsi mengurangi uang jajan atau uang kiriman. Apalagi yang semester tuanya sudah bangkotan (misalnya sudah punya adik tingkat tujuh turunan), tak jarang uang kiriman malah di cut off.

Padahal di sisi lain, skripsi jugalah yang menjadi fase dimana mahasiswa akan sering banyak nongkrong sama temannya untuk sekedar refreshing pikiran. Analoginya, nongkrong butuh duit. Dan mahasiswa skripsi juga butuh uang untuk fotocopy serta ngeprint banyak. Belum lagi untuk beli kuota. Maka terjadilah ketidakseimbangan finansial dalam pemasukan dan pengeluaran.

Maka yang mengatakan bahwa makin tua mahasiswa, makin sedikit kebutuhannya. Itu DUSTA, sodara-sodara!

Untuk mengantisipasi hal ini, kita perlu pintar-pintar mengelola keuangan. Kalau bosan dan butuh refreshing ya wajar nongkrong, sekali dua kali tidak apa-apalah. Tapi jangan tiap malam ya. Aturlah uang sebijaksana dan sesederhana mungkin. Ingat, kamu sudah dewasa! *ngomong sama kaca*


3. JENUH DAN BUTUH PIKNIK RUTIN



Jenuh, tentu saja. Mengerjakan skripsi dan tugas akhir lainnya tentu jenuh. Karena siklus hidup jadi "gitu-gitu aja". Dulu aja waktu kuliah klasikal, pengen cepat-cepat skripsi biar banyak longgarnya. Sekarang waktu skripsi, malah pengen balik kuliah kelas lagi. Manusia...

Rasa jenuh atau bosan ini, harus cepat-cepat diatasi. Kamu perlu nabung untuk sekedar main kemana. Paling tidak cuci mata. Piknik lah. Kalau tabungannya berlebih ya, bisalah travelling agak jauhan.

Tapi hati-hati, kegiatan ini bisa jadi bumerang. Travelling itu kayak opium, bikin kecanduan. Karena sudah keasikan travelling, seringkali membuat kita kurang dan ingin lebih. Bosan dikit, travelling. Pusing dikit, travelling. Bangkrut hidup kau, maz!

Jadi piknik memang perlu untuk mengatasi kejenuhan, tapi perkirakan waktu, kantong, jangan sampai mengganggu jadwal tugas akhir, dan jangan sampai keterusan ya!


4. BANYAK MELAKUKAN HOBI LAMA

Fase mahasiswa tingkat akhir, kalau dipikir-pikir memang leboh longgar dari fase kuliah klasikal. Sebenarnya longgarnya bukan secara tersurat, tapi tersirat. Longgar saat nunggu dosen, longgar saat bosan mengerjakan skripsi, dan sebagainya. Di sela-sela waktu itulah biasanya kita perlu melakukan sesuatu yang lain. Misalnya hobi lama yang sempat tertinggal saat banyak tugas kuliah di semester-semester sebelumnya, akan muncul lagi di benak mahasiswa. Entah untuk alat mengisi kekosongan waktu, atau bahkan alat pelarian refreshing bagi yang tidak hobi travelling atau tidak punya uang untuk travelling.

Hobi ini macam-macam, tergantung jenis mahasiswa. Kalau mahasiswa yang feminim, hobinya mungkin merajut, menyulam, kristik, memasak, atau hasta karya. Kalau mahasiswanya maskulin, hobinya bisa olahraga (futsal, basket, dkk) atau main musik. Bisa juga bagi yang organisatoris akan ikut kegiatan kampus seperti rohani islam, aksi sosial, dan lain sebagainya.

Hobi ini perlu lho, untuk menyeimbangkan hidup kita. Jadi lakukanlah hobi lama yang bisa mengimbangi kegiatan tugas akhir kamu. Selama itu positif, kenapa enggak?


5. INGIN MANDIRI DENGAN KERJA SAMBILAN TAPI...KETERUSAN



Mahasiswa semester tua juga mulai visioner. Mereka ingin belajar mandiri dengan tidak menggantungkan kiriman uang dari orangtua. Salah satunya adalah kerja sambilan (part time).

Malah kadang ada mahasiswa yang dari awal masuk kuliah sudah kerja part time seperti di tempat fotocopy dan rental print, pom bensin, toko, warung, dan sebagainya. Saya juga termasuk mahasiswa yang kerja sambilan lewat kursus privat Fisika untuk anak SMP dan SMA. Mungkin karena Solo termasuk kota pelajar, sarana pendidikannya terus mengalami peningkatan. Banyak anak yang mengambil kursus privat pada mahasiswa. Apalagi Fisika merupakan subjek pelajaran yang notabene lebih susah dari yang lainnya sehingga peminat lesnya juga banyak.

Melakukan kerja sambilan sah-sah saja, justru amat disarankan untuk menambah pengalaman kerja. Namun perlu diperhatikan bahwa kerja sambilan jangan sampai menggantikan pekerjaan utama di masa depan. Jangan sampai terlena dengan keadaan bahwa, "Aku sudah bisa cari uang sendiri dengan kerja sambilan!".

Kamu harus tetap fokus pada primary job di masa yang akan datang. Gunakan kerja sambilan untuk membantu meringankan kiriman orangtua selama kuliah dan mencari pengalaman. Bukan sebagai tujuan utama.


Itu tadi adalah beberapa hal yang terjadi saat kamu sudah menempuh masa-masa semester tua. Sama seperti fase yang saya alami saat ini. Hal-hal seperti di atas wajar terjadi. Namun kembali lagi pada diri kita bahwa kuliah adalah amanah yang diberikan Allah SWT, orangtua, dan rakyat serta negara.

Ingat, biaya kuliah di PTN dengan SPP per semester sekian rupiah, itu karena ada unsur APBN di bidang pendidikan yang asalnya adalah dari pajak rakyat. Jadi, saya dan kamu harus tetap semangat untuk mengerjakan tugas akhir demi lulus, wisuda, dan mencapai babak baru dalam kehidupan, yaitu: SARJANA!
Mari berjuang untuk wisuda...



...supaya bisa seperti ini!



Pictures:
www.nkanyesel.com
www.static.crowdvoice.com
www.sehatraga.com
www.suaramerdeka.com
www.ucapangambar.com
www.kembangpete.com
www.studylink.com
www.kaskus.id
www.allforedu.blogspot.com
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

3 Comments:

  1. wah,,,derita mantan mahasiswa juga ada lho dek, yang belum lulus pengen segera lulus, yang udah lulus pengen kuliah lagi :D, yang udah lulus deritanya mungkin tambah banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mas! Ayo ganti bikin postingan tentang mahasiswa yang udah lulus gimana rasanya :D

      Delete
    2. haha...oke dik, ditunggu saja postingannya :D

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.