Dibalik Buku Koala Kumal



Ada yang udah baca buku barunya bang Raditya Dika belum?

Despite of testimoni-testimoni yang ditulis di Goodreads, yang banyak bilang Raditya Dika mulai bermetamorfosa sebagai penulis dan membuat buku Koala Kumal ini unsur komedinya berkurang drastis, aku malah melihat ini dari sisi pro. Menurutku buku ini tetap ringan dibaca. Meskipun banyak plot twist humor yang hilang, buku ini menunjukkan perkembangan Raditya Dika yang mulai beranjak pada humor yang berat. Humor yang memiliki pesan.

Buku Raditya Dika yang baru berjudul Koala Kumal ini really made me teary. Beda sama buku-buku sebelumnya, Koala Kumal ini kayaknya memang dibuat untuk mengangkat kisah-kisah tentang patah hati. Patah hati dalam persahabatan dan patah hati sama orang yang disayang.

Yang jadi sorotan pilu dalam buku ini adalah filosofi judulnya. Koala Kumal. Tahu sendiri kan, Koala adalah hewan asli Australia. Yang biasanya suka nangkring buat tidur di pohon. Warnanya abu-abu, wajahnya unyu, telinganya lebar.

Nah, di buku ini dijelaskan bahwa Dika memiliki ide judul Koala Kumal ini terinspirasi dari hewan tersebut. Diceritakan bahwa suatu ketika ia membaca postingan berita dari situs Huffington, ia menemui salah satu artikel yang menceritakan tentang seekor Koala yang pindah (migrasi) bersama koloninya. Beberapa waktu kemudian, ia kembali ke hutan tempat asalnya. Namun ternyata hutan tersebut sudah ditebang oleh sekelompok penebang liar yang kemudian menyebabkan tempat itu gundul dan gersang.

Kemudian tanpa tahu harus melakukan hal apa, Koala tersebut hanya duduk selama satu jam lebih dan memandangi hutan tempat dia tinggal dulu. Ia hanya duduk dan diam tanpa memanggil koloninya yang tidak ikut naik ke bukit hutan tersebut.



Kalau lihat fotonya ini, bagaimana sih rasanya nurani kalian? Kalau aku merasa seperti ditendang-tendang. Tanpa kita sadari, hewan juga punya perasaan. Dia bisa sedih saat merasakan kehilangan tempat tinggalnya. Animals have feelings too...

Kalau hewan aja bisa merasakan patah hati, bagaimana dengan manusia? Pasti lebih dalam sakitnya. Maka dari itu, sebisa mungkin jadilah manusia yang tidak gampang menyakiti manusia lainnya. 

Setelah membaca buku ini sampai tuntas, pikiranku justru melayang pada kasus yang marak terjadi akhir-akhir ini. Saudara muslim di Rohingya yang kehilangan rumahnya karena pembantaian dan pencabutan hak tinggal dari rumahnya sendiri karena kaum kepercayaan lain yang liberal. Mereka mengungsi dengan perahu ke Indonesia dengan tatapan nanar dan tak tahu akan sampai Indonesia kapan. Terombang-ambing di lautan, terusir dari rumah tinggalnya sendiri. Pedih.

Balik lagi ke buku, beberapa paragraf masih membuatnya tertawa lepas, terutama saat Pito curhat tentang bagaimana salah seorang wanita menolaknya dengan memberikan cermin tanpa berkata apa-apa.

Dan dua bab terakhir yang sukses membuatku jadi galau dan menangis. Di bab "Aku Ketemu Orang Lain" adalah bab yang menceritakan dibalik putusnya bang Dika dengan pacarnya di Kambing Jantan. Dulu kan nggak dikasih tahu alasan putusnya kenapa waktu mereka LDR-an Indonesia-Australia. Di buku ini, ternyata adala alasannya. Si cewek ketemu orang lain dan selingkuh. Padahal di awal keberangkatan, Dika lah yang sebenarnya ingin putus karena nggak yakin sama hubungan LDR.

Tiga tahun setelah putus dan Dika lulus, ia kembali ke Indonesia. Dan suatu ketika saat sedang makan dengan teman-teman SMA-nya, sang mantan datang membawa undangan pernikahan. Dan buat yang udah baca, I bet you know kalau Dika nggak dikasih undangannya.

Kemudian ia pulang dan menuju bandara tempat perpisahan saat keberangkatannya ke Australia dulu. Ia mengenang bagaimana pacarnya itu menangis melepasnya pergi. Kemudian mengenang hubungan mereka. Sampai akhirnya patah hati hebat yang dirasakannya terngiang lagi seiring adanya pesawat yang lepas landas. Ada dua kalimat yang jleb-jleb banget.

"Kenapa dia harus menikah dengan orang yang menjadi selingkuhannya dulu, gue gak paham.
Kenapa gue masih merasa getir sampai sekarang, juga gue gak paham."

Kemudian di bab terakhir yaitu bab "Koala Kumal", Dika menceritakan pertemuannya dengan mantan pacar yang lain, yang juga selingkuh darinya. Disitu justru mantannya ingin mengajak kembali dan meninggalkan pacarnya yang sekarang untuk Dika. 

Cewek: Aku mau ninggalin pacarku buat kamu.
Dika: Maksud kamu pacarmu yang dulunya selingkuhanmu dari aku? Sekarang kamu mau jadiin aku selingkuhan kamu?

Lalu muncullah ide judul buku ini setelah ia mengingat berita tentang Koala yang kehilangan tempat tinggalnya ini. Ia tidak ingin menjadi seekor Koala Kumal yang saat kembali ke tempat tinggal lamanya, akan menemui bahwa tempat tinggal lamanya sudah berbeda. Dika tidak ingin CLBK dengan wanita yang sudah berbeda karena menyakitinya.

Disitulah kemudian mamanya memberikan nasihat yang sangat bagus. Di saat Dika dipenuhi dengan pertanyaan, "Perlu berapa kali diselingkuhi agar kita kuat menghadapi patah hati?"

Mama Dika pun bilang, "Dik, kamu tahu gak istilah Mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati?"

"Apa, Ma?"

"Dewasa."








References:
http://www.huffingtonpost.com/2013/04/30/koala-photo-loggers-australia_n_3179029.html
http://www.goodreads.com/book/show/23645640-koala-kumal


Image Sources:
http://www.twitter.com/
http://www.huffingtonpost.com/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

28 Comments:

  1. Sepertinya sangat menarik untuk dibaca buku ini.

    ReplyDelete
  2. Gue juga udah baca bukunya kak. Gue cuman menganggap positif aja walau bukunya dari segi komedinya udah berkurang. Yaa kita ini kan berkembang, begitu juga bang radit, dia udah bener-bener dewasa. Tuh udah kebukti mamanya minta cucu hahaha :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakak :D

      Iya setuju. Kita berkembang, bukunya Radit berkembang. Nggak ada keadaan yang bisa tetap tanpa ada perubahan selamanya :)

      Kalau mamamu udah minta cucu belum? :v

      Delete
  3. Udah baca dari akhir Desember. :))
    Gue kecewa karena ada kesalahan dalam nama. Masa bisa lolos editor. :/
    Entah cetakan selanjutnya bener apa enggak. Gue bilang itu malah keren, karena komedi itu terus berganti. Selera humor setiap orang akan bertambah. Coba aja baca buku pertamanya "Kambing Jantan" sekarang, pasti nggak lucu. Hihi.

    Ya udah, ah. Gitu aja~

    Gue juga pernah beberapa kali diselingkuhin, sampe sekarang akhirnya beberapa kali patah hati juga. Kalo kata mamanya Dika, gue udah dewasa. Halah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku baru beli seminggu yang lalu, Yog. Dan nggak nemu, bagian mana yang salah cetak? *penglihatan mulai kabur*

      Menurutku masih lucu aja sih aku baca Kambing Jantan. Apa aku nggak berkembang ya? :/

      Kalau dilihat dari bentukmu, kayaknya patah hatinya belum level 15 deh :v

      Delete
    2. Aku malah belum baca. belum beli juga. :(

      Aku kayaknya sepaham ama Yoga deh. kalo baca buku Kambing Jantan lagi, udah gak selucu pertama kali. Beda kalo yang Marmut merah Jambu.

      Delete
  4. Saya udah baca Koala Kumal, tapi setelah baca ulasan kamu, saya baru menyadari kalau buku ini dalem banget. Apalagi bagian Kebo yang udah nikah itu. Hehehehe. Pedih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, makasih :D
      Apa kamu juga punya hewan piaraan yang udah nikah? :o

      Delete
  5. sepertinya seru bukunya
    cari dulu akh ke Gramedia

    ReplyDelete
  6. Saya belum baca, saya kurang berminat dengan membaca novel :( kalo baca komik saya suka :D

    ReplyDelete
  7. Inspiring memang buku-bukunya bang dika
    tapi jujur banget aku lebih suka beberapa buku yang sebelumnya

    soalnya untuk bacaan serius biasanya aku nggak pilih buku2nya bang dika :)
    itu khusus utuk yang bikin nyengir atau ketawa aja hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku setuju sama poin kamu, lebih suka buku2 yang lama. Tapi buku yg kali ini memang membuktikan bahwa setiap orang akan terus tumbuh dan berkembang baik segi raga maupun jiwa dan pikirannya :)

      Delete
  8. pengen baca buku ini tapi belum ada waktu untuk ke gramedianya hehehe

    ReplyDelete
  9. Setuju.! buat yang ngikutin buku-buku Radit emang makin kesini semakin berkurang humor haha-hihi nya, bandingin aja sama kambing jantan atau radikus makankakus. Mungkin si Radit mau ngajak pembacanya "tumbuh" bareng dia dengan mengubah humor haha-hihi menjadi humor yang memiliki pesan. Kata radit kan semua karyanya berawal dari kegelisahan, nah kegelisahan di umur dia yang sekarang pasti beda sama kegelisahan dia waktu SMA atau kuliah. Seperti itu sih yang gue tangkep.

    ReplyDelete
  10. Lama banget gak mampir ke blog Kiwi :* Btw, aku sampe sekarang belum punya nih buku Radit yang ini :D Mungkin nanti bakal mulai cari di tobuk online :D

    ReplyDelete
  11. Aku punya juga dan udah bacaaaa. Gilak, ya. Radit itu selalu punya jurus bikin hati baper lahir batin. Suka banget sama koala kumal :'))

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.