Sebuah Pembelajaran Terselubung dari Energi

Wind Energy

Hari minggu bukan berarti hari yang membebaskan kita dari tugas atau rutinitas. Namun hari minggu bisa jadi lebih bermanfaat bila kita isi dengan aktivitas yang positif. Mengikuti seminar misalnya. Kebetulan hari ini termasuk dalam serangkaian acara Science Week yang diadakan di jurusanku selama seminggu. Seminar ini adalah penutupnya.

Sebagai seminar nasional fisika, panitia Science Week tahun ini yang notabene mayoritasnya adalah anak angkatan 2013 (tahun lalu aku juga termasuk ikut dalam kepanitiaan), mendatangkan 3 paduan pembicara seminar yang sangat sempurna. Pembicara pertama adalah Pak Ir. Hadi Purnomo, wakil dari sekretariat jenderal dewan energi nasional. Pembicara kedua adalah Pak Muhammad Nizam, guru besar di fakultas teknik kampusku. Dan yang ketiga adalah Pak Ricky Elson selaku penemu mobil listrik.

Dari sekian banyak ulasan mengenai energi di Indonesia dan dunia, energi alternatif yang sedang dikembangkan, energi baru terbarukan, ada banyak hal terselubung lain yang bisa dipetik dari seminar kali ini. Salah satunya adalah pembelajaran moral kita sebagai manusia dalam menggunakan berbagai macam bentuk energi yang seringkali “serampangan” dan “tidak terkendali” hingga kita terkadang kehilangan sisi manusiawi.


Poster Seminar

Di seminar ditunjukkan bahwa ada beberapa daerah di Indonesia yang masih belum mendapatkan aliran listrik untuk keperluan rumah tangga mereka. Seperti di Sumba, NTT. Di desa Kalihi, desa Palindi dan desa Tanahara. Juga ada beberapa pulau kecil seperti pulau paling selatan Indonesia yaitu pulau Rote yang tidak mendapatkan bbm bersubsidi karena disana belum ada SPBU. Bensin atau premium masih dijual mahal seharga 15000 dan 20000. Itupun penduduk rela membeli seharga demikian tanpa protes. Pun saat terjadi kelangkaan seperti beberapa saat yang lalu, mereka tak sedikitpun mengeluh dan tetap rela membeli dan berbagi BBM. Walaupun saat BBM benar-benar habis ya mereka hidup apa adanya tanpa transportasi berbasis BBM. Dari situlah para pembicara terutama Pak Ricky Elson mengetuk nurani kita sebagai mahasiswa dengan menanyakan kontribusi dan perbuatan apa yang telah kita lakukan terhadap energi di Indonesia. Di antaranya:

1. Energi Listrik


Sebagai pulau yang distribusi barang-barangnya paling mudah, pulau Jawa yang kita tinggali adalah tempat yang ideal. Namun begitulah manusia, makin dituruti kemauannya, makin ingin yang lebih. Listrik sudah menjadi hal yang prioritas bagi manusia di pulau jawa. Apalagi maraknya gadget-gadget canggih semacam smartphone yang masuk ke pasar Indonesia telah membuat banyak orang terutama ANAK MUDA menjadi boros energi listrik hanya untuk bisa eksis di dunia maya, hanya untuk bisa mempertahankan kelangsungan hidup smartphone-nya, hanya untuk begadang nonton bola, hanyak untuk hal-hal yang kurang penting untuk dijadikan primary needs.

Seperti kita tahu bahwa pembangunan di Indonesia masih belum sempurna pemerataannya. Hal ini dikarenakan banyak sebab, seperti perbedaan ras, suku, bahasa, agama dan budaya serta adat masing-masing daerah yang memang banyak sekali ragamnya. Sehingga pemerataan sektor-sektor seperti pendidikan, hukum, sandang pangan, teknologi antar berbagai daerah belum bisa sama. Ini bukan semata-mata kesalahan pemerintah, memang alami atas dasar kemajemukan negara kita akan suku, bahasa, agama dan budayanya. Pemerintah dan segenap masyarakat terkait sudah sebisa mungkin mengembangkan proses pemerataan tersebut, jadi kalau kita sebagai masyarakat awam hanya mengecam mereka dari pemberitaan TV yang menayangkan betapa timpangnya kesejahteraan masyarakat Indonesia dan sisi negatif pemerintah yang mereka katakan “kurang tanggap” dalam meratakan pembangunan negara, KITA TERMASUK RAKYAT YANG CACAT MORAL-nya. Kalau dipikir lagi, berita TV atau media lain sekarang memang sudah nggak bisa dibedakan mana yang benar dan salah karena hanya untuk kepentingan komersil, cari rating, sensasi atau mendukung pihak tertentu saja.

Seperti BUMN PT. PLN. Pemerataan jasa PLN dalam menyalurkan listrik belum mampu menjangkau beberapa daerah di pulau Sumba dan Ciheras, Tasikmalaya. Banyak daerah mereka yang belum mengalami “listrik masuk desa”.

Dari situlah Pak Ricky Elson memiliki gagasan bahwa beliau harus menyumbangkan sedikit kontribusi bagi Sumba. Potensi angin di Indonesia sempat dinilai sedikit bila digunakan sebagai pembangkit listrik oleh salah satu guru besar di IPB, namun jika dinalar Indonesia adalah negara kepulauan, banyak pantai, banyak dataran tinggi, memang angin tidak bisa selamanya berhembus kencang, namun ada waktunya musim yang angin bisa berhembus kencang bahkan berbulan-bulan di Pulau Sumba. Sehingga bukan tidak mungkin kalau di pulau tersebut diciptakan PLTA. Ide ini sebelumnya muncul dari curhatan para penduduk sana pada Ricky Elson tentang angin kencang yang sering membawa musibah bagi rumah, kebun dan ladang mereka. Merubuhkan pohon, menerbangkan atap dan sebagainya. Sehingga Ricky ingin membuktikan pada warga di sana bahwa angin juga bisa jadi kunci bagi mereka untuk menikmati benderangnya listrik di rumah-rumah mereka. Lalu dibangunlah PLTA tersebut secara gotong-royong. Sehingga pada 3 desa tersebut bisa menikmati listrik berbasis tenaga angin yang sebelumnya justru merusak pepohonan mereka. Bahkan PLTA yang menggunakan kincir angin dinamo itu diberi julukan “penari langit” oleh masyarakat sana. Di saat kita menikmati energi listrik dengan bebasnya, tanpa berpikir bagaimana pengadaannya, bagaimana alat yang bisa membangkitkan listrik tersebut, bagaimana memasang alatnya, bagaimana mengelolanya, bagaimana kalau subjek pembangkit listrik tersebut berhenti bekerja, mereka yang di Sumba membangun sendiri dengan tangan mereka

 Dengan dukungan dan sokongan dana, alat, bahan dari Ricky Elson, pemerintah daerah Sumba, mereka merakit sendiri, merancang sendiri dan mengelola sendiri pembangkit listrik buatan mereka. Bahkan saat angin tidak kencang, mereka harus sabar untuk tidak menikmati listrik selama beberapa hari. Sedangkan kita, hanya kehilangan beberapa jam listrik akibat pemadaman bergilir saja sudah membuat kita protes, menyalahkan PLN, membodoh-bodohkan PLN, mengeluarkan sumpah seribu serapah dan segala kata-kata hewan di mulut maupun di sosial media.

See what’s the difference?

2. Energi dari bahan bakar Minyak


Subsidi oh subsidi. Bahan perbincangan yang lagi IN sehari-hari. Subsidi yang bisa kita katakan salah sasaran ini menjadi topik panas selama beberapa pekan dalam pemberitaan. Sebenarnya subsidi ini bukan hanya salah pemerintah yang kurang tegas, namun lebih kepada KETIDAKSADARAN rakyat Indonesia menengah ke atas yang masih menikmatinya. Kasusnya 11-12 sama sampah lah. Nyalahin pemerintah namun tetap buang sampah sembarangan. Ngatain pemerintah kurang tegas tapi masih pake BBM bersubsidi. Hey, take a look at mirror, people! Pertamina sebagai perusahaan BUMN wajib dan harus berani memberi sanksi bagi kendaraan mewah yang masih menggunakan BBM. Dulu kan sudah pernah ada sticker untuk mobil mewah bahwa “Mobil ini tidak menggunakan BBM bersubsidi”. Mana implikasinyaaa? Nggak usah takut dimarah-marahin atau diumpat customer, kalau mereka nggak mau pake BBM non-subsidi, tendang aja mereka jauh-jauh dari SPBU! Itu haknya Pertamina kok. Kalau nggak dibikin wacana keras gitu orang nggak bakal kapok dan sadar diri bahwa telah bermental melarat. Kendaraan bagus tapi lagaknya miskin.

Motor-motor anak muda yang bagus-bagus macam vixion, ninja dan kawan-kawannya juga PATUT mendapatkan sticker begituan. Jadi bukan cuma mobil aja. Apalagi mahasiswa atau siswa yang menggunakan motornya untuk pacaran, balapan liar, atau gaya-gayaan. Mereka nggak pantes menggunakan BBM bersubsidi. Noted! Selanjutnya, pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan juga sudah banyak sekali pengadaan SPBU. Sementara di Pulau Sumba dan Rote, belum ada karena aksesnya susah. Sehingga seperti ulasan di atas tadi, masyarakat setempat harus membeli bensin non subsidi seharga 15000 hingga 20000. Belum lagi jika stoknya terbatas atau habis. Mereka tidak bisa mengendarai kendaraan bermotor selama beberapa hari, sementara mata pencaharian mereka disana kebanyakan bukan PNS.  Uang sekian untuk bensin seliter tentu cukup mahal dibandingkan dengan untuk makan sehari-hari keluarga. Nah kita, yang sudah disediakan SPBU dekat, stok banyak, hanya karena langka pasca pembatasan stoknya, BUKAN KARENA BBM-NYA HABIS, untuk antri beberapa jam saja mengumpat-umpat kesana kemari. Mengeluh berkepanjangan. Udah gitu belinya yang bersubsidi pula. 

See what’s the difference?

3. Sumber Air Bersih


Di saat kita bisa menggunakan air sepuas-puasnya untuk kebutuhan kita, masih banyak saudara kita di tempat terpencil sana yang kesusahan air bersih. Sedangkan kita, minum air dari perusahaan air minum, sumur tinggal menggali. Mereka yang tinggal di pulau kecil, kadang harus mandi dan minum air laut yang asin dan menyebabkan rambut mereka memerah. Beruntung jika di bidang pengadaan air, sudah banyak orang yang berkontribusi. Seperti Aqua dan Lifebuoy yang membangun kamar mandi dan WC di rumah-rumah penduduk, pembangunan sumber air bersih dari gunung lewat kran (sehingga mereka tidak harus jadi kuli air lagi). Berbeda dengan listrik dan BBM sebelumnya.

4. Pemerataan Sektor Negara


Sektor negara termasuk pendidikan, hukum, kesehatan, keamanan, teknologi yang memang belum merata membuat kita harus banyak-banyak bersyukur. Bukan malas-malasan sekolah tiap harinya, di sekolah tidur, tawuran, berani pada guru dan sebagainya. Ada seorang anak di NNT tempat Pak Ricky membangun kincir angin yang selalu datang ke sekolahnya untuk duduk merenung bernyanyi dan bermain demi membunuh waktu saat menunggu kedatangan sang guru. Sekolah Dasar yang tidak layak tersebut hanya memiliki beberapa siswa dan dua ruang kelas. Guru hanya datang 3 hari sekali atau bahkan seminggu sekali karena akses menuju kesana sulit dan tidak banyak guru yang mau bersusah menempuh perjalanan tersebut untuk mengajar disana. Sehingga sekali lagi saat para pembicara menyinggung tema seminar kali ini yaitu “Hemat Energi, Selamatkan Negeri”, ketiga pembicara tersebut mengutarakan untuk kita agar bisa menyelamatkan motivasi diri sendiri sebelum menyelamatkan negeri lewat penghematan energi. Karena sungguh ironi kita berbicara tentang keselamatan negeri jika keselamatan kita saja belum kita pertimbangkan.

Ingatlah bahwa Indonesia itu kaya. INDONESIA BISA MENJADI LADANG KITA UNTUK BERKARYA. Nggak usah terpengaruh oleh pemerintah, ada tidaknya dukungan mereka, kita tetap bisa maju. Pengalaman Pak Ricky Elson sekali lagi menghantam ingatan masa lalu kita pada Pak BJ. Habibie yang dihujat, diumpat, diremehkan, dilecehkan saat berusaha membawa Indonesia untuk memproduksi pesawat sendiri. Pak Ricky juga demikian, menemukan mobil listrik yang tidak diloloskan pemerintah dan justru dipatenkan oleh Jepang, tidak dihargai. Namun beliau hanya berkata, mungkin pemerintah dan masyarakat kita belum sepenuhnya paham akan potensi negaranya, potensi orang-orang cerdas dan kreatifnya. Secara umum berarti potensi SDM dan SDA-nya.

Pembicara seminar juga mengingatkan kita sebagai akademisi negeri, mahasiswa, apalagi di universitas negeri seperti ini, harus sadar diri, kita kuliah jika bukan adanya anggaran persentase pendidikan dari APBN (yang didapat dari pajak rakyat), pasti biaya kuliah akan jauh lebih mahal dari SPP kita tiap semesternya. Sehingga dengan kata lain, kita itu berhutang pada rakyat, bahkan jika dikalkulasi, kita sebagai satu dari jutaan mahasiswa universitas negeri, menangung hutang pada 21 orang tiap semesternya. KITA KULIAH DIDANAI RAKYAT. Lalu kapan mau STOP main-mainnya? Beberapa ulasan di atas cukup menohok hati di siang tadi, hingga tak terasa aku juga mulai berkaca-kaca. Bahkan beberapa orang di samping kanan kiri ada yang menangis dan bergetar tubuhnya, seperti kembali pada acara ESQ di awal kuliah dua tahun yang lalu.




Pak Ricky juga mengutarakan teori kesebandingan antara MOTIVASI dan MORAL. Saat motivasi seseorang turun, maka moralnya juga akan turun dan begitu sebaliknya. 

Lama bekerja di Jepang sejak 2008, Pak Ricky yang masih 33 tahun itu memiliki keinginan pulang ke Indonesia untuk mengembangkan penemuannya dan berbagi ilmunya untuk membuat PLTA dan mobil listrik tersebut. Jika kalian melihat pemberitaannya, ramai diperbincangkan yang hubungannya dengan Pak Dahlan Iskan. Pak Dahlan Iskan yang meminta Pak Ricky Elson untuk menularkan ilmunya bagi industri di Indonesia. Namun hasilnya justru kurang dihargai pemerintah lainnya. Padahal saat meminta ijin kepulangannya ke Indonesia, beliau ditanya oleh pimpinannya di NIDEC Jepang, “Di negaramu banyak masalah, apa kau tetap ingin pulang?”. Beliau menjawab, “Justru karena banyak masalah itulah saya jadi ingin pulang.” Karena posisinya yang termasuk orang penting di NIDEC, makanya saat ada berita tentang Ricky Elson yang kurang dihargai di Indonesia, negaranya sendiri, pihak Jepang cepat-cepat memintanya kembali ke perusahaan. Karena khawatir kekecewaan Ricky pada negaranya akan berdampak pada penurunan motivasinya dan semangat bekerjanya jika terlalu lama di Indonesia. Bedanya di jepang dan Indonesia juga terlihat dari memperlakukan orang saat adu argumen. Di Indonesia jika kita “ngeyel” atau bersikeras mempertahankan pendapat kita, pasti pimpinan langsung mengatakan, “Silakan anda pergi saja, masih banyak orang antri yang mau mengerjakan proyek ini jika anda tidak mau.” Sedangkan di Jepang akan dibicarakan hingga ada titik temunya. Jadi pimpinan bukanlah orang yang memegang kendali penuh atas perusahaan dan karyawan-karyawannya.

Ada dua hal yang paling disayangkan dari sikap orang Indonesia.

Pertama, yang disayangkan dari sikap orang-orang Indonesai adalah mereka TIDAK TEGUH PENDIRIAN sehingga GAMPANG TERPENGARUH. Sekali dikatakan oleh guru besar bahwa potensi pembangkit listrik tenaga angin di Indonesia rendah, langsung patah semangat dan tidak jadi mengerjakan. Dikatakan membuat mobil listrik butuh alat dan bahan yang kualitasnya bagus dan Indonesia tidak punya itu semua langsung mundur. Tidak punya tekad yang bulat.

Kedua, yang disayangkan dari sikap orang-orang pintar di Indonesia adalah, mereka BERSAING, bukan BERSINERGI. Tidak seperti di Jepang yang semua ahli dan pakar di masing-masing bidangnya bersatu tanpa ego dan tanpa bertanya “Who’s the smartest?” di antara mereka. Mereka menyatukan kelebihan dan kekuatan untuk kepentingan negara. Nggak heran kalau Jepang terkenal sangat mencintai negaranya. Sementara di Indonesai belum bisa seperti itu. Orang pintar Indonesia masih memiliki jiwa kompetisi yang teramat tinggi sehingga dibanding memikirkan kebutuhan negaranya, ia lebih memikirkan kebutuhan dirinya sendiri. Padahal jika orang Indonesia mau benar-benar bersatu, seperti seniman-musisi bersatu di bidang seni Indonesia, saintis-ilmuwan-teknisi-insinyur bersatu di bidang teknologi, dokter di sektor kesehatan, akan ada BIG IMPACT yang sangat signifikan ke depannya bagi Indonesia. Maka dari itu kita disarankan jangan diam saja, namun harus ikut berproses. Yang namanya proses memang sering dijadikan alasan ampuh untuk suatu perubahan. Seperti contoh, “Kok ketela nggak bisa langsung dimakan sih?”. Jawabnya pasti, “Ketela perlu dimasak karena semua hal itu butuh proses.” Itu klise. Daripada menjadikan PROSES sebagai alasan sebuah PERUBAHAN, bagaimana dengan IKUT ANDIL DALAM PROSES MENUJU PERUBAHAN? 

“Kapan mau mulai belajar sungguh-sungguh? Kapan mau mulai nggak malas mengerjakan tugas? Kapan mau mulai kerja keras? Kapan mau mulai sadar diri tentang potensi diri? Kapan mau mulai sadar diri tentang potensi negeri? Kapan mau mulai hemat baterai gadget mahalmu? Kapan mau berhenti pakai BBM bersubsidi untuk kendaraanmu? Kapan mau mulai berhenti menyalahkan pemerintah? Kapan mau mulai berubah? Kapan mau mulai beraksi? Kapan? Kapan? Kapan?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus terngiang-ngiang sampai malam ini sisa seminar tadi. Bahwa energi juga bisa terus kita kembangkan alternatifnya, kita temukan bagaimana agar ramah lingkungan, dan lain sebagainya.

Secara garis besar seminar hari ini amat mengena di hati. Meskipun pada akhir acara, ada satu pertanyaan yang menurutku nggak logis ditanyakan oleh seorang mahasiswa namun ditanyakan pada seorang mahasiswa kampus lain yang menurutku hanya ingin eksis. Terbukti dengan cara salamnya yang dibuat-buat dan keras sekali, seakan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, dan secara umum bertanya tentang, “Bagaimana isu BBM subsidi, apa saja energi alternatif yang bisa kita gunakan, biosolar itu bahannya apa”. Itu adalah hal-hal yang bukan ranah seminar kali ini. Secara gampangnya, cari aja di internet banyak kok berita tentang isu BBM subsidi, pengertian biosolar, dan energi alternatif. Yakin sekali dia pasti telah membuang kesempatan bertanya secara berkualitas pada 3 pembicara spektakuler seperti itu. 

Lalu ada yang tanya juga kapan kampus mereka diajak dalam proyek PLTA dan mobil listriknya Pak Ricky Elson. Dengan mantap dan tanpa nada menyinggung, Ricky justru menjawab, “Jangan tanya, kapankah kampus saya diajak ikut proyek? Itu pertanyaan yang cenderung mengarah pada penantian. Namun tanyakan, kapankah kampus saya bisa ikut proyek? Itulah PERTANYAAN YANG MENGEJAR, bukan PERTANYAAN YANG MENANTI. Dan tunjukkan sudah seberapa besar informasi yang anda gali mengenai PLTA dan mobil listrik dari jurnal-jurnal online yang ada di blog saya. Silakan ajukan kampus anda, dengan senang hati saya akan berusaha membantu pengembangan proyek ini di kampus anda.  Saya baru mengajak ITB, UGM dan ITS karena mereka telah mengajukan diri dengan menunjukkan modal mereka berupa NIAT, MOTIVASI dan tentang pengkajian jurnal mobil listrik dan PLTA. Karena pada dasarnya mobil listrik adalah mobil mainan masa kecil kita yaitu tamiya yang dibuat versi besarnya dan berbasis dinamo (motor listrik) yang membuatnya bergerak dengan tenaga listrik dari baterai. SEMUA KARYA BESAR BERAWAL DARI IDE KECIL YANG SEDERHANA.



Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

7 Comments:

  1. Kompor gas dik , udah pantes jadi pembicara :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, makasih, mas. Itu aku cuma ngutip hasil seminar kemarin kok :D

      Delete
  2. awalnya gue males baca tulisan yang panjang, apalagi bahasanya dan pembahasan nya berat. tapi sekarang gue ngerti, betapa pentingnya membaca itu, membaca gak harus yang cinta-cintaan dan lucu-lucuan doang ya.. gue kasih 2 jempol, untuk postingan lu.. kece abis! tadinya mau 4 jempol, tapi gak sopan ah pake kaki..
    mata gue kebuka, dan dalam hati bilang, "bener juga ya, eh iya juga ya" selama ini gue cuma egois, dan nyalahin pemerintah, padahal diri sendiri juga belom bener..
    asli deh, orang-orang kaya yang pake kendaraan mewah gak punya malu ngisi premium fulltank itu, duh gamau ngeluarin duit sedikit lebih banyak apa.. heran
    thanks, sangat bermanfaat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Yogaaa :')
      Emang sebelum merubah orang lain, kita harus bisa merubah diri sendiri dulu.
      Yuk mulai save our energy, then save our country :)

      Delete
  3. Every dream has a big goal. Masalahnya mimpinya siapa dulu? Kalo koruptor mah kampret!!

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.