Masa Kecilku Amat Bahagia! (Part 1: Edisi Mainan)

 

Apakah kamu masih suka ingat-ingat pengalaman masa kecilmu? Dulu sering main apa, temen mainnya siapa, ngemil apa, nakalnya kayak gimana, dan masih buanyaaak lagi.

Kalian pernah mikir nggak sih, kalau sekarang itu mainan anak-anak mengalami degradasi mutu. Kenapa bisa dibilang begituuu? Soalnya kalau dilihat-lihat nih, coba perhatiin anak-anak yang pada hidup di kota besar (kota kecil juga sih), kebanyakan dari mereka udah nggak pada kenal sama mainan tradisional yang sarat nilai sosial. Mereka taunya cuma mainan virtual a la i-Pad atau henpon android. Kemana-mana senam jempol. Main Angry Bird lah, Flappy Bird lah, atau Bird Bird yang lain #eehhh. Giliran ditanya pelajaran, ogah-ogahan. Ditanya temen mainnya siapa, jawab nggak punya. Well, menurutku hal semacam itu juga termasuk menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kemunduran suatu bangsa. Bukan lebay, tapi kalau dinalar, mainan tradisional tuh bisa membantu mengasah kemampuan otak, tenaga dan aspek sosial seseorang. Dengan mainan tradisional yang masih manual, anak dituntut untuk memiliki sikap yang jujur, ulet, tangkas dan mau bekerja sama dengan baik bersama teman-temannya. Meskipun virtual game bisa dibuat mainan berjamaah (multiplayer) tapi tetep aja bikin anak nggak bisa kreatif dan sinkron antara otak dan bodinya. yang gerak cuma otak dan jempol doang. Gitu pun kadang nggak sinkron.

Huh!

Nah, sebagai manusia setengah dewasa, kebetulan ALHAMDULILLAH-nya aku masih bisa merasakan gemerlapnya permainan tradisional saat masa kanak-kanak. Masih inget nggak permainan tradisional dan sederhana yang dulu pernah kalian mainkan waktu kecil? Nah, disini aku mau berbagi beberapa mainan seru yang pernah ada di jaman dahulu. Mainan yang sering sekali aku mainkan dengan teman sebaya waktu pulang sekolah hingga lupa waktu. Kira-kira, kalian ada yang sehati nggak sih sama pengalaman mainan masa kecilku?

Yuk capcus!


1. BONGKAR PASANG



















Mainan yang cewek banget ini merupakan mainan favoritku waktu kecil. Nggak tahu kenapa, tapi mainan ini bisa membuat obsesi "Princess" tiap anak perempuan terwujud. Mungkin karena karakternya selalu cantik dan sempurna (hampir nggak ada yang jelek atau gendut), bajunya banyak, hiasannya banyak. Fantasi liar kalau sedang bermain bongkar pasang adalah kita berperan sebagai seorang wanita yang sukses dengan gemilang kehidupan. Naif banget lah pokoknya. Saking hobinya mainan bongkar pasang, aku punya hingga tiga kresek mainan tersebut yang sudah digunting-gunting. Nggak kebayang kaaan, betapa banyaknya.

Harganya dulu sih selembar cuma 100 rupiah. Cukup terjangkau untuk uang saku harianku yang masih sekitar  500 atau 1000 rupiah. Biasanya nih, untuk beli bongkar pasang biar nggak cuma satu atau dua lembar, aku rela nggak jajan seharian biar semua uang sakuku digunakan buat beli bongkar pasang. Hahaha. Tapi berhubung aku termasuk anak perempuan yang agak kasar, maka seringnya aku memasangkan baju dengan pemaksaan sehingga kepala dari karakter si bongkar pasang tadi lepas. Kalau udah gitu, aku pasti bisa marah-marah dan gak mood seharian. Apalagi kalau karakternya tadi favoritku. Meskipun kepalanya lepas hingga berkali-kali, nggak kapok juga lah buat aku isolasi hingga berulang kali.

Ada rasa bangga tersendiri kalau bisa punya koleksi baju atau karakter yang teman lain nggak punya. Tiap pulang sekolah, aku dan beberapa teman cewek lainnya pasti langsung menggelar lapak buat bermain bongkar pasang hingga waktu sore tiba. Bener-bener lupa waktu lah kalau mainan bongkar pasang ini. Nantinya alur cerita akan dibuat sedemikian rupa (a la sinetron jaman dulu). Ada yang protagonis, antagonis dan lain sebagainya. Kalian ada juga nggak, yang kecanduan main bongkar pasang? Atau lebih senang dengan bongkar pasang "dress up" yang ada pada game virtual?

2. MASAK-MASAKAN












Waini, mainan yang juga menjadi favoritku waktu kecil.  Apalagi saat bulan puasa yang juga sama kayak gini keadaannya, sering banget masak-masakan dipadupadankan dengan bermain menggunakan dua elemen avatar yaitu: api dan tanah. Hahaha. Maksudnya gini, jadi saat mainan pasaran ini (istilah jawanya masak-masakan: pasaran), nggak lupa selalu sedia tanah hitam, tanah merah (dari batu bata hasil nyolong tetangga yang dihancurkan pake batu), dedaunan liar, air dan korek api serta minyak tanah.

Nantinya akan ada penjual yang menyediakan semua itu. Uangnya pake daun belimbing yang tumbuh merajai halaman rumahku. Lalu akan ada yang bertugas menyediakan ta'jil berbuka puasa dengan membangun sebuah dapur besar lengkap dengan tungku dan perapian. Karena semua akat pasaran notabene adalah plastik bahannya, maka kami sering mencari kaleng bekas susu kental manis dari rumah masing-masing atau tempat sampah (segitunyaaa) yang lalu dibersihkan dan diperlakukan sebagai panci. Asiiiik banget lah pokoknya. Setelah itu ada yang menjerang air lalu semua bahan mulai dimasukkan pada panci dari kaleng itu tadi. Saat telah mendidih, baru deh diangkat. Kalau tanah, biasanya digunakan sebagai nasi. Ya gitu lah pokoknya. Bongkar pasang ini aku juga punya hingga 5 set di rumah. Namun karena ada renovasi rumah, beberapa koleksiku hilang ditelan bumi. Kalian juga suka main pasaran nggak?

3. DOKTER-DOKTERAN
















Dari namanya aja udah kelihatan, dokter-dokteran. Pastinya ya mainan yang pura-puraan jadi dokter. Dari sekian banyak mainan yang nantinya ada di postinganku, peralatan mainan ini nih yang harganya paling menggorok lembaran kertas di dompet ibu bapak. Tempo dulu, harga dari satu set mainan ini bisa mencapai 50 ribu rupiah. Itu yang paling murah lho ya, kalau yang lebih mahal sih bisa sampai jutaan kali ya.

Tapi jangan ditanya deh gimana serunya main beginian. Apalagi kalau pasiennya mati, sampai-sampai akan ada upacara atau ritual penguburannya. Hahaha. Bener-bener bikin ngakak kalau inget. Yang lebih ekstrimnya, kalau pasiennya butuh operasi, akan ada alat dokter-dokteran dadakan yang diambil dari peralatan rumah tangga orang tua. Misalnya pisau, clurit, gergaji dan masiiiih banyak lagi. Emang gila nih masa kecil dulu. Nggak ada takutnya. Kalau mau ngelakuin sesuatu nggak pernah pake pertimbangan panjang.

4. BOLA BEKEL



















Siapa sih yang nggak pernah main bola bekel? Kalau beneran nggak pernah, kebangetan deh masa kecil kalian. Bola bekel atau istilah jawanya "bekelan" bisa bikin kita kecanduan abis kalau sering menang. Apalagi kalau udah bisa main sambil dimodifikasi dengan tepuk tangan, ngambil bekel secara ganda dan lain-lain. Bola bekel ini juga mainan wajib yang dibawa ke sekolah. Sambil nunggu jam istirahat, biasanya aku dan beberapa teman lainnya duduk melingkar di depan kelas dan bermain bola bekel hingga bel masuk berbunyi nyaring.

Bola bekel nggak cuma identik sama anak perempuan, banyak banget temenku yang cowok juga ikut nimbrung main. Dan tangan mereka nggak kalah lincah daripada anak-anak cewek yang jarinya lebih luwes. Bola bekel selain praktis dan murah harganya, permainannya pun melatih anak buat sportif. Ada kalanya kan main sambil nunggu giliran, ada anak yang nakal sengaja mengganggu temannya saat bermain hingga akhirnya si bola jatuh. Dan terjadilah kegegeran ataupun pertengkaran. Alhasil jatohnya pun pada acara "bolo-boloan". Teman yang nakal dikucilkan sementara waktu sampai ia mau meminta maaf. Duuuh, bener-bener murni deh persahabatan anak kecil!

4. GASING











Gasing! Kalau ngomongin gasing seringnya inget sama anime Beyblade. Aku dulu juga suka nonton itu anime. Tapi gasing-gasing yang dipake di anime Beyblade itu nggak masuk akal lah. Terlalu bagus dan nggak realistis. Harganya juga mahal kalau di ceritanya. Trus kalau ditonton baik-baik, mainan gasing bisa jadi kompetisi tingkat dewa dan terkesan elite.

Padahal gasing mainanku harganya cuma 1000 rupiah dulu. Nggak bisa dibandingin lah sama yang ada di Beyblade. Kalau diputer juga nggak akan bisa bersinar, kalau mau ada cahayanya kasih senter aja sendiri. Hahaha. Main gasing butuh kesabaran dan keuletan serta bakat tertentu. Nggak setiap anak bisa main gasing dengan baik. Ada tekniknya tersendiri kalau kata abang-abang yang bikin gasing. Yang paling asik saat mainan gasing adalah, waktu gasing kita menang dan bisa muter paling lama di antara gasing teman-teman kita.

5. YOYO















Main yoyo kalau dipikir-pikir bisa menjadi atraksi tersendiri buat yang nonton maupun yang ditonton. Yoyo juga 11 12 kalau dibandingkan sama gasing. Sama-sama butuh teknik khusus dan tangan yang luwes. Yoyo jaman dulu dibuat hanya dari kayu biasa yang diberi tali dan karet pegangan buat jari, lalu lambat laun mulai dimodifikasi dengan bahan plastik dan LED. Sehingga saat digerakkan naik turun dan ke samping yoyo ini bisa memancarkan cahaya warna-warni yang bagus bingits.

Yoyo termasuk mainan murah yang terjangkau harganya, hampir setiap penjual mainan memiliki stok yoyo dengan berbagai macam bentuk dan warna. Mainan tradisional ini pun masih ada kompetisinya di beberapa desa, jadi nggak bisa dibilang punah sepenuhnya. Adakah dari kalian yang masih suka koleksi yoyo?

6. ULAR TANGGA



















Mainan sepanjang jaman yang nggak pernah ada matinya! Hampir setiap generasi pernah memainkan permainan ini. Ular tangga hampir jadi mainan wajib tiap anak. Selain dijual bebas di pasaran, ular tangga juga banyak digunakan sebagai bonus dari produk tertentu. Misalnya susu anak. Ular tangga merupakan permainan klasik dengan bantuan dadu yang bisa dimainkan oleh banyak orang. Permainan ini dibandingkan taktik, lebih sering menggunakan "faktor luck" karena dari dadu yang dilempar, kita nggak pernah tahu bakal berapa angka yang muncul nantinya.

Beberapa game virtual ular tangga mulai banyak diciptakan untuk aplikasi hp android maupun laptop. Jadi buat kita-kita yang bukan anak kecil lagi, bisa nostalgia memainkannya lewat PC maupun HP. Meskipun praktis, namun memainkan ular tangga secara virtual masih kalah asyik dengan memainkannya secara langsung bersama teman-teman tercinta.

7. MONOPOLI



















Ada penjara, ada dana umum, ada kesempatan, ada perusahaan air, ada perusahaan listrik. Semua terangkum dalam permainan monopoli. Waktu kecil sih, kalau udah bosen main ular tangga biasanya aku beralih memainkan permainan ini. Bentuknya lebih kompleks dari ular tangga karena "faktor luck" yang diandalkan melalui lemparan dadu berpengaruh pada aset yang akan kita miliki nantinya.

Pikiran absurd yang kadang muncul saat main monopoli adalah. gimana caranya karakter yang kita mainkan (biasanya ada bentuknya topi, orang dkk) buang air? Ada "kesempatan", "dana umum", "penjara", "bebas parkir", "Perusahaan air" dan lainnya, tapi kok nggak ada WC umum ataupun warung makan. Terus karakter kita yang mainkan yang udah keliling dunia itu nggak butuh pipis atau makan gitu?

Btw, monopoli buat aku yang udah segede ini, nggak pernah membosankan. bahkan sampai sekarang aku masih sering memainkannya dengan teman kos hingga larut malam. Main monopoli bisa bikin histeris teriak-teriak nggak jelas kalau kita lagi berhenti di tanah orang dan harus membayar denda puluhan juta rupiah sampai bangkrut. Kalian juga suka main monopoli nggak, guys?

8. PATIL LELE


Permainan jadul yang nggak semua anak pernah merasakannya. Mainan patil lele hanya bisa dilakukan di daerah yang masih ada tanah pekarangannya. Karena patil lele menggunakan media lubang tanah untuk diatasnya diletakkan potongan kayu. Potongan kayu yang berikutnya akan digunakan untuk mencungkil kayu yang di atas lubang tanah tadi agar meloncat mencapai jarak tertentu yang nantinya akan diukur antara anak satu dengan anak yang lain.

Meskipun kelihatannya sederhana, namun mainan ini beresiko cukup tinggi juga loh. Meskipun semua anak lain sudah memposisikan diri di tempat yang aman, tak jarang mereka ada juga yang terkena loncatan kayu. Kalau udah gitu, meskipun sakit rasanya (di kepala, bukan di hati) tetep aja nggak kapok main lagi. Tambahan lagi, patil lele adalah permainan strategi yang penuh konsentrasi. Untuk bisa mencapai jarak "home run", kita harus bisa mengira-ngira bagaimana taktiknya agar tak meleset. Di daerahmu ada juga nggak permainan ini?

9. KELERENG

Bahasa jawanya sih "wuk-wukan". Cara mainin kelereng yang mantep bangets adalah dengan menjajarkan minimal 10 butir kelereng secara berurutan lalu dengan antrian berdasarkan suit, tiap anak akan mengandalkan kekuatan jempol dan jari tengahnya untuk menjentik kelereng mereka masing-masing mengenai kelereng yang dijajarkan tadi. Yang paling banyak mengumpulkan kelereng adalah yang menang. Dan semua kelereng yang didapatkannya tadi berhak untuk dimiliki anak tersebut. Well, agak sedikit judi juga sih. Hahaha. tapi disitu letak kesenangannya. Namun jika dikehendaki mau dikembalikan, kelereng tersebut tidak jadi dimiliki oleh yang menang, tapi dibagi-bagi lagi.

Pengalaman menarikku dari permainan ini adalah saat aku berumur 6 tahun (usia lagi nakal-nakalnya). Karena di sekitaran rumahku yang perempuan hanya aku dan sebayaku mayoritas laki-laki, bukan malah menciutkan nyali tapi justru menambah rasa congkak dan kuasa terhadap mereka. Tiap main kelereng, mau menang mau kalah, aku selalu memunguti setiap butir kelereng untuk kubawa pulang tanpa persetujuan yang lainnya. Sehingga tiap pulang kerumah dengan kelereng berlimpah, ibu selalu memarahiku dan menyuruhku mengembalikan setiap kelereng tadi pada pemiliknya yang marah-marah dan selalu mencari ke rumah. Worth experience, lah ya! Hahaha.

10. KARAMBOL


Permainan kotor-kotoran yang buat nge-slide-nye butuh kekuatan jempol dan jari tengah serta tepung biar mainnya enak ini bisa dilakukan oleh manusia semua umur. Karambol biasanya dibuat dari papan triplek berwarna cokelat atau biru yang diatasnya ada sekumpulan koin dengan angka yang nantinya akan disentil dengan dua jari hingga masuk ke salah satu pojok papan dan mendapat poin.

Main karambol nggak pernah sepi dari teriakan-teriakan para pesertanya. Hebring banget pokoknya! Karambol juga merupakan permainan semitradisional yang sekarang sepertinya masih ada di beberapa daerah. Malah kadang dibuat untuk judi. Hmmm.

11. KWARTET

Siapa yang nggak pernah main kwartet? Hampir tiap karakter kartun, binatang, buah, artis sinetron hingga artis telenovela pernah dibuat bentuk kwartetnya. Kwartet adalah permainan kartu yang sederhana dengan cara mencocokkan kelompok jenis nama yang tertera diatasnya. Yang paling banyak melakukan "match" adalah yang menang.

Kwartet adalah permainan unyu yang harganya pun juga murah. Aturan mainnya yang sederhana, membuat permanian kwartet bisa dinikmati oleh semua umur. Waktu aku masih terjebak di bangku SD, main kwartet bisa bikin lupa waktu berangkat ngaji ke TPA. Karena aku tipe anak yang nggak mau ngalah (dulu), tiap aku kalah main kwartet, selalu minta tanding ulang hingga pemenangnya aku lagi. Anak kecil yang benar-benar arogan lah pokoknya.

12. LOMPAT TALI KARET GELANG

Karet gelang yang harganya murah dan bisa didapat dimana-mana dikumpulkan jadi satu dan di-"ronce" sedemikian rupa hingga menjadi sebuah alat lompat tali yang kuat dan elastis. Permainan lompat tali juga nggak pernah ada matinya. Namun lompat tali yang menggunakan bahan dasar karet gelang sudah jarang digunakan.

Lompat tali adalah satu dari sekian banyak permainan tradisional yang PALING menguras tenaga. Gimana enggak? Euforia lompat-lompatan yang levelnya terus menanjak itu membuat tubuh kita nggak boleh berhenti melompat makin tinggi. Kalau nggak mau usaha lari ambil ancang-ancang buat melompat, ya kalah sama temen lain. FYI, permainan massal ini nggak enak kalau mainnya keroyokan. Karena nunggu giliran main lompat tali itu boring dan bikin geregetan serta bikin jerit-jerit tak karuan kalau ada teman yang gagal.

13. DAKON

Satu dua tiga. Biji diratakan satu satu pada tiap lubang dakon. Permainan dakon udah terkenal dari jaman dulu lewat budaya keraton yang lalu dikembangkan buat rakyat jelata. Dakon adalah permainan untuk dua orang yang penentuan menangnya lewat banyak sedikitnya biji yang nyasar di lumbung kamu. Dakon merupakan permainan yang sarat akan budaya jawa.

Permainan dakon saat ini sudah mulai mengalami kepunahan. Nggak banyak lho, penjual yang masih menyediakan berbagai macam variasi dakon di pasaran. Permainan ini hanya bisa ditemukan di beberapa desa yang masih memiliki pasar tradisional.

Saat masa kecilku, permainan dakon sering dimainkan oleh teman semua usia. Bahkan ibu juga masih sering memainkannya denganku dulu. Dakon emang bener-bener permainan lintas generasi. Yang terpenting, main dakon kayaknya belum ada di PlayStore android. Jadi, bebrurulah dakon selagi masih ada di pasaran. Anak cucumu berhak tahu permainan ini.

14. RUMAH-RUMAHAN


Sebenernya rumah-rumahan yang aku maksud adalah yang dibikin dari tanah. Berhubung gambarnya nggak ada dan kalau bikin lagi di pekarangan rumah kayaknya udah terlalu ketuaan, akhirnya ya cuma make gambar itu aja buat mewakilkan.

Dulu waktu masih alit, aku hobi banget bikin rumah-rumahan pake tanah. Nantinya tanah dibuat berlekuk-lekuk mengibaratkan tembok. Lalu diberi gundukan sedikit kayak kursi, meja dan kasur. Semua dirancang selayaknya rumah. Nantinya orangnya dibuat dari lidi dan diberi baju kertas. Kemudian sapu dibuat dari lidi dan ditancapkan pada filter bekas rokok yang salah satu sisinya dirumbai-rumbai. Kalau udah main tanah, tiap pulang ke rumah ibu selalu sedia sabun buat cuci tangan dan harus rutin sebulan sekali dicekokin obat cacing. Karena ibu khawatir kalau main tanah bisa membuat kita cacingan.

Tapi serius deh, kamu yang pernah tinggal di desa dan bermain rumah-rumahan dari tanah, nggak akan pernah lupa sensasinya gimana mendekor rumah yang stylish dan minimalis berbahan dasar rumah. Meskipun nggak pernah awet (karena tiap abis main tanahnya selalu disapu dan musti bikin lagi berkali-kali), tapi bermain rumah-rumahan dengan tanah adalah salah satu permainan jadul yang seru.

15. TAMIYA

Hei, boys! Kalian yang sekarang seumuran sama aku atau di atasku, pasti nggak asing ngeliat mainan jadul semi-modern ini. Tamiya memang bukan mainan tradisional, namun mainan ini boomingnya di sekitar tahun 2000-2009. Sekarang sih udah hampir nggak ada karena kegusur sama mobil-mobilan remote control yang lebih canggih. Tamiya adalah permainan mobil-mobilan yang kita rakit sendiri onderdilnya, bisa kita modifikasi sesuka hati. Sebelum dijalankan tamiya disetel dulu mesinnya, sehingga saat ditaruh pada track, tamiya bisa berjalan sesuka hatinya dengan kencang mengikuti jalannya track.

Fiuuuuuuhhh....

Ada 15 totalnya. Nggak bisa terpungkiri kalau udah jadi segede ini, kadang kangen juga sama masa kanak-kanak yang bersih dari ceceran dosa di pinggir jalan. Abis marahan bisa maafan, punya banyak mainan, punya banyak teman, bebas berimajinasi yang nggak realistis, belum disibukkan dengan duniawi yang super sadis.

Intinya, aku cuma mau bilang, kalau kalau kalian punya adik, keponakan, sepupu, teman, adiknya teman, adiknya pacar atau bahkan udah punya anak, jangan sampe deh dipegangin gadget-gadget canggih dulu. Biarkan mereka berkembang sebagaimana mestinya tanpa teknologi. Biarkan mereka merancang kecerdasan sosialnya lewat lingkungan. Jangan lewat internet maupun game virtual.

Percayalah, game jadul yang sifatnya tradisional dan manual akan bisa menyisipkan kebahagiaan pada masa kecil seorang anak secara alami dan bermakna!

                 
Anw, lagi suka sama news anchor Metro TV bang Rory Asyari nih. Jadi nggak apa-apa kan ya, fotonya aku pake dikit.

Hahaha.

See ya! 
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

11 Comments:

  1. Lha itu nggak ada ilustrasinya mbak, hahaha XD

    ReplyDelete
  2. Aku ga pernah main rumah-rumahan sama masak-masakan haha. Maen layangan kagak ada tuh nambah aja sih hehe

    ReplyDelete
  3. Layangan aku nggak jago maen, yang ada disambit mulu sama temen. Hahaha.

    ReplyDelete
  4. Iyah, semua itu juga pernah saya mainin. Iyah, semua, termasuk yg nomor 1. Salah gak sih anak laki main bongkar pasang itu? kan sayang, hadiah permen jahe soalnya.

    Tambah juga, ada juga kapal-kapalan, pesawat kertas, terjun payung, gobak sodor... dll dll dlll.... sekarang sih mainan itu masih ada, cuma udah versi digital T.T. Yang main langsung di lapangan udah berkurang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weits, kamu juga main bongkar pasang? Kereeeen, masa kecil anda perfect sekali. Hahaha. Btw, jd tokoh apaan? Jangan jangan yg cewek juga -_-

      Iya nih, semua udah jd versi jempol. Permainan digital juga kadang nggak bermutu sekarang. (ex: MbakTin ekstrak kulit manggis). Nyahaha.

      Makasih udah mau comment ^^

      Delete
  5. ilustrasinya coba kerubutan selimut ato jarit terus belagak jadi manten n dipoto sama adek xixixix.. ^_^v

    ReplyDelete
  6. hahha. sepertinya saya sudah pernah memainkan semua permainan di atas lho, Dek. :D
    kapan posting artikel tentang masakan lagi?? :melet:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bongkar pasang juga pernah, mas? OMG -__-
      Belum nih, baru semedi, jadi belum bisa masak masak :D

      Delete
  7. 1,2,3,14 hell no!!

    Sisanya okelah *wink

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.